0 6 : J I W A N T A

32 4 0
                                    


. ~Dalam enggan, raga ku masih mencoba bertahan. Lalu diam diam, aku ditinggalkan~

Selama duapuluh lima tahun hidup, Sagara bukanlah type orang yang mengambil keputusan tanpa sebuah pertimbangan yang besar. Oh tidak, Sagara pernah menjadi bodoh beberapa tahun silam. Cukup itu. Melakukan sesuatu atas dasar bisikan setan dan ego, hingga akhirnya segalanya Sagara sesali saat ini. Tapi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas itu semua.

Hari ini, Sagara sudah dua kali dipanggil oleh Pak Subagyo, yang tak lain adalah atasan Sagara di kantor. Boss, bisa dibilang begitu.

Sagara mendapat tawaran untuk pindah bekerja di Singapore. Kantor pusat firma konsultasi Se Asia tenggara tempat Sagara bekerja. Pak Subagyo sepertinya sudah lama menjadikan Sagara sebuah pertimbangan untuk tawaran ini. Sebab kinerja Sagara yang memang patut diacungi jempol.

Sebenarnya, Ayah angkat Sagara memiliki sebuah perusahaan properti yang cukup besar di Bandung. Ayahnya pun sudah berniat untuk menjadikan Sagara sebagai pewaris perusahaan tersebut, Lalu, jika banyak yang bertanya, kenapa Sagara lebih memilih kerja di sebuah konsultan perusahaan dibanding menjadi pemimpin di perusahaan milik ayah angkatnya?

Satu satu nya jawaban yang Sagara berikan adalah, Belum saatnya.

Sagara juga ingin mencari pengalaman kerja yang bukan instant. Jika langsung bekerja di perusahaan ayah angkatnya, bukan tidak mungkin jika Sagara akan mendapatkan segalanya secara instant. Dan Sagara tidak mau.

Kurang lebih 4 tahun lalu, Sagara bekerja dibawah naungan Pak Subagyo setelah wisuda S1. Dan Sagara memilih melanjutkan studi S2 sembari bekerja. Dan Sagara memutuskan untuk melanjutkan studi setelah dua tahun bekerja di firma konsultais. Dan bersyukur Sagara menyelesaikan studinya 5 bulan lalu.

"Mas Saga belum pulang?" Ratna, sekretaris Pak Sybagyo menatap Sagara yang duduk di kubikel nya dengan sambil melamun.

"Eh,belum mbak. Sebentar lagi nih," Ratna berumur 28 tahun, maka dari itu Sagara memanggilnya dengan embel embel 'mbak' sebagai bentuk kesopanan.

"Bapak udah pulang mbak?" Sagara melirik ruangan Pak Subagyo yang berada ujung.

"Belom, makanya ini Mas Saga disuruh ke ruangannya bapak sekarang kalau semisal mas Saga belum pulang." Sagara sedikit terkejut mengetahui jika atasannya itu belum pulang.Padahal jarang sekali Pak Subagyo pulang diatas jam 5 kecuali jika menjelang meeting akhir bulan yang mewajibkan atasannya itu memeriksa laporan laporan per bulannya.

"Oh,bapak nyuruh saya kesana?yaudah deh saya kesana dulu ya mbak," Sagara beranjak berdiri, lalu merapihkan kemejanya yang sudah agak kusut.

Sagara mengetuk pintu ruangan dihadapannya, lalu bergerak masuk setelah mendengar suara pak Subagyo yang memintanya masuk.

"Malam,pak" Sapa sagara pelan. Pak Subagyo mengangkat pandangannya dari layar ponselnya.

"Oh, Hai Sagara. Take a seat, Om kira kamu sudah pulang" Sagara tersenyum pelan, lalu menarik kursi dihadapannya, lalu duduk. Jika Pak Subagyo sudah memanggil dirinya dengan sebutan 'Om' itu berarti Sagara harus ikut menanggalkan keformalan antara keduanya.

"Om sendiri kenapa belum pulang?"

" Astaga gimana om mau pulang kalo penolakan kamu ini bikin Om pusing. Kenapa Sagara?" Tatapan intense milik Pak Subagyo dibalik lensa kacamatanya kini benar benar menyorot Sagara.

" Kenapa apanya Om?"

"Ya kenapa kamu nolak untuk based di Singapore,Sagara?Tawaran itu adalah mimpi ratusan karyawan disini. Dan kamu menolak. What happenned with you,Suryadharma?"

DEPENDS On YOUWhere stories live. Discover now