Protective Oppa

167 10 0
                                        

Yoona sampai di depan rumah tepat pukul 22.00 . Oppa nya sudah setia menunggu nya di depan pagar rumah Yoona.

Saat turun dari mobil temannya, Yoona segera menghampiri oppa nya — yang tengah bersandar pada mobilnya– dengan perasaan takut.

"Aku pulang dengan temanku kok, bukan pria!" Ucapnya saat mendapati oppa nya yang fokusnya tertuju pada mobil temannya disebrang, menelisik siapa yang ada di dalam mobil itu.

Mengabaikan perkataan Yoona, oppa nya hanya menatap tajam adiknya lalu menghampiri mobil temannya yg bersebrangan dengannya.

Melihat seokjin yang semakin mendekat, Seulgi segera turun dari mobilnya.
"Hallo, seokjin oppa!" Sapa nya sok Kenal dengan ceria.

"Apa yang kalian lakukan hingga  malam seperti ini?" Tanya Seokjin pada Seulgi, dengan sedikit emosi.

"Eoh?" Seulgi yang bingung dengan pertanyaan Seokjin, hanya mengerutkan dahi nya.
Yoona yang sejak tadi terpaku di tempat sambil melihat obrolan serius itu dari jauh, segera berlari menghampiri mereka.

"Benarkan dia temanku, wanita. Dia seulgi yang bersamaku di Hotel tadi siang." Yoona mencoba meyakinkan Seokjin.

"Lain Kali jangan mengajak yoona main sampai malam lagi! Yoona bukan gadis liar. Dia punya aturan dalam keluarganya. Kau mengerti?!" Tegas seokjin pada seulgi yang tak berdosa.

"Oppa, jangan memarahi temanku seperti itu. Temanku tidak salah!"

"Diam dan cepat masuk, Yoona!" Ya, oppa nya memang sekolot itu kalau sudah memarahi Yoona. Seperti sang ayah yang akan menghukum anaknya. Mungkin, bagi Seokjin, Yoona memang sudah seperti anaknya sendiri.

"oppa..tapi.. "

"Yoona!" Tegasnya dengan nada mulai meninggi, menyuruh sang adik untuk menurutinya.

Melihat oppa nya yang serius marah, Yoona tentu tidak berani menentang, terlebih memang dia yang salah. Yoona segera melangkah menuju rumahnya di sebrang sambil terus menundukkan wajahnya. Sudah lama sekali Yoona tidak melihat oppa nya semarah ini. Mungkin, terakhir 2 tahun yang lalu, Yoona dimarahi habis karena ketahuan membolos dari kampus selama seminggu dan tertangkap sedang asik nongkrong di mall, mengabiskan uang untuk teman yang hanya memanfaatkannya. Yoona memang kadang begitu, terlalu polos dan suka susah diatur. Dia masih belum bisa belajar menjadi dewasa.

Bukan hanya sekali, dua kali sebenarnya, Yoona berani melanggar aturan hidupnya. Sejak kecil, ia sudah sering membuat ulah sampai-sampai Seokjin yang selalu menjadi sasaran kemarahan ayahnya sendiri, karena dianggap menelantarkan Yoona yang sudah dianggap sebagai putri kandungnya sendiri.

Yoona memang sudah kehilangan ayahnya sejak usia 5 tahun. semenjak itu juga Yoona seperti beralih posisi menjadi putri dari Ayah seokjin yang merupakan sahabat ayahnya. Sejak saat itu, Ayah seokjin merasa bertanggung jawab penuh atas diri Yoona, dan memperingati Seokjin agar selalu menjaga adiknya dengan baik. Karena itu juga, mungkin Seokjin merasa seperti Ayah nya Yoona. Mengingat perbedaan usia mereka yang terpaut 5 tahun, cukup jauh. Membuat seokjin ikut bertanggung jawab atas Yoona, yang juga sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.



Yoona tidak berani membuka pintu rumahnya sebelum seokjin menemuinya, ia menunggu sampai oppa nya selesai bicara dengan temannya.

"Apa saja yang kau lakukan seharian ini?" Tanya seokjin tegas pada adiknya yang tengah duduk merenung di depan pintu.

"Hanya.. Hanya bermain dengan temanku saja. Aku pergi ke mall untuk lihat-lihat. Maka nya aku jadi lupa waktu... Ma--maafkan.. aku oppa." Yoona menggigit bibirnya dan menunduk tatkala oppa nya masih menatapnya tajam.

Sial, benar-benar sial. Niat Yoona pergi hingga malam untuk membalas kekesalan pada oppa nya tadi siang, sebenarnya. Tapi seketika semua berubah saat Yoona merasa bersalah membohongi oppa nya dan membuat Oppa nya terlampau panik seperti saat ini.

"Kau pasti jalan dengan seorang pria, kan!" Tekannya.

"Tidak oppa." Jawabnya pelan.

"Jangan membohongi oppa!"

"Aku bilang, tidak oppa!" kekeh nya. "lagipula sekalipun memang iya, kenapa? Oppa saja boleh jalan dengan seorang wanita, kenapa aku tidak boleh?!" Seketika Yoona meluapkan kesal yang tertanam di hatinya.

"Aku tidak suka temanmu itu. Jangan bergaul dengannya lagi!" Tidak mau menanggapi perkataan Yoona, Seokjin mengalihkannya.

"Oppa kenapa mengaturku sperti itu! Dia teman baikku, jangan bawa-bawa temanku karena kesalahanku. Aku tidak Suka!"

"Yoona!"

"Lebih baik oppa tidak usah repot-repot mengatur hidupku lagi. Aku sudah cukup dewasa dan bisa mengatur diriku. Aku juga bosan di kekang terus!" lawannya sedikit emosi.

"Ibumu menitipkan mu padaku. Jelas saja kalau kau tidak bisa dihubungi, aku yang akan dicari. Oppa kan sudah memanggil supir untuk mengantarmu pulang. Setidaknya kau beritahu oppa atau ibumu kalau mau bermain. Apa sesulit itu, Yoona?" Seokjin kepalang kesal dan masih meluapkan emosi nya. "Aku panik saat ibumu panik. Kau juga berkali-kali tidak mengangkat telponku. Kau membuat pikiranku berjalan kemana-mana, kau tahu itu!" Seokjin semakin meninggi kan suara nya.

"Maka dari itu berhenti memperhatikanku! Aku akan bicara pada ibu agar kau tidak lagi kesulitan karena aku!" Yoona mulai menaikkan nada nya menyamai suara oppa nya. Sudah tidak tahan, kadang Yoona memang suka membangkang sekalipun oppa nya sudah semarah itu.

"Setidaknya kasihanlah pada ibumu Yoona! Dia mengkawatirkanmu. Hanya kau satu-satunya yang ibumu punya saat ini." Mengusap wajah, Seokjin mulai melemahkan nada bicara nya. Dia tau kalau Yoona sudah naik emosi, ia harus segera mengalah untuk menghentikannya. Dia tidak bisa lagi dilawan dengan nada keras.

Mendecak kesal, Yoona segera masuk ke dalam rumahnya langsung menuju kamarnya tanpa mempedulikan ibunya yang menyambutnya.

-continue-

My Oppa Since 1997Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang