I'm his no.1

143 12 0
                                        

Yoona masih tampak senang dalam perjalanan kembali menuju rumah nya. Ia memandangi beberapa hadiah dari temannya yang berada di pangkuannya.

Seokjin yang masih setia mengemudi sesekali melirik pada adiknya disamping kemudi, yang sedang asik dan tersenyum sendiri. "Senang sekali sih, Yoona oppa hari ini." Yoona oppa, menunjukkan kata pemilikan kalau Yoona milik oppa nya. begitulah manis nya Seokjin menyebut adiknya saat sedang bangga dan gemas padanya.

"Iya dong, kan Yoona sudah lulus, Yoona juga dapat hadiah banyak pula." Ujarnya dengan senyuman sambil menoleh pada oppa nya.

"Hmm...hadiah yang mana yang paling kamu suka?"

Yoona terlihat berpikir sejenak. "Jelas dari Oppa ku dong!" Ucapnya dengan ceria.

"Mengucapnya tidak dari hati tuh,  buktinya tadi sempat berpikir."

"Yah ketahuan, deh." Ucap Yoona bercanda.

"Padahal oppa susah payah loh, untuk mendapatkan dua hadiah itu."

"Dua hadiah? Ah iya, Yoona lupa membuka hadiah yang satu nya." Yoona pun mengambil paper bag yang ada disampingnya.

Lagi-lagi Yoona tercengang saat melihat hadiah kedua dari Oppa nya. "Oppa... Apa-apaan ini." Yoona terlihat begitu senang dan menggoyangkan lengan oppa nya.   "Oppa, aku tidak percaya ini."

"kau suka?"

Yoona mengangguk. "Tentu saja, buku yang selalu ku incar dan ku nanti." Ucapnya yang masih tampak gembira. Hadiah kedua itu adalah buku sastra terbaru dari penyair kelas dunia yang paling Yoona favoritkan lengkap dengan tanda tangan penulis nya. Untuk mendapatkannya memang sulit, Yoona berkali-kali memesannya tapi tidak pernah mendapatkannya.

"Oppa terima kasihhh." Yoona tersenyum bahagia dan memeluk lengan oppa nya yang masih memegang stir dan menyandarkan kepala nya disana.

Saking senangnya, Yoona langsung membaca buku itu dan mengabaikan kartu-kartu ucapan yang dari tadi sedang ia baca.

"Tidak masalah, itu sebanding dengan puisi mu tadi."

"Hah?" Yoona masih mendengarkan oppa nya sambil membaca.

"Apa tadi judul puisimu itu? Pasti kau membuatnya untuk ibu, ya?"

"Puisiku yang mana?"

"Yang tadi kau bacakan, puisi yang makna nya pasti begitu mendalam."

"Home, maksud oppa?"

"Nah, betul. Home. Kau hebat sekali kalau mengarang puisi. Sudah pasti inspirasi terbesar nya ibu, kan?" Seokjin masih asik bertanya dengan tetap fokus menyetir.

Yoona terdiam.

"Boleh tidak, berikan puisi itu untuk oppa?"

"Hah?"

"Oppa kan juga sudah bersamamu sejak dulu. Boleh lah kau berikan puisi itu untuk oppa, sebagai tanda terima kasihmu atas hadiah mu, bagaimana?" Seokjin menoleh sebentar kearah Yoona yang terdiam.

Puisi itu milik Namjoon.

"Hey Yoona, malah diam. Pelit sekali."

My Oppa Since 1997Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang