"Oppa..." Yoona mencoba bangun bersandar di kasurnya.
Seokjin yang masih menggenggam ponselnya menoleh ke arah Yoona. "Eoh, Yoona sudah bangun?"
"Iya, kenapa oppa di kamarku? Jam berapa ini?"
Seokjin bangun dan mengecek suhu tubuh Yoona. Dia memegang kening Yoona. "Syukurlah. Sudah turun panasnya."
"Kenapa oppa? Apa aku sakit?"
"hmm, kemarin kau panas tinggi. Oppa sangat khawatir kau tau?! Kenapa kau bisa jatuh sakit?"
"Ah, maaf. Mungkin hanya kelelahan. Sudahlah tidak usah khawatir, aku merasa sudah lebih baik."
Seokjin menatap jam dinding. "Sudah jam 8 pagi ternyata. Oppa akan buatkan bubur untuk Yoona. Jangan banyak bergerak dulu ya, kau diam saja disini."
•
•
•
"Makanlah. Buka mulutmu aaa" Seokjin berusaha menyuapi adiknya.
Tiba-tiba saja Yoona teringat kejadian kemarin, saat Seokjin dimarahi oleh ayahnya. Yoona jadi merasa bersalah kembali.
"Sini! Yoona bisa makan sendiri kok. Oppa pulang saja." Ucapnya sedikit ketus.
"Kenapa? Oppa ambil cuti hari ini kok. Oppa mau merawat Yoona dulu."
"Apa aku bayi?! Aku sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku. Lagipula ada ibu disini. Pulang lah!"
"kenapa?? Apa oppa tidak boleh merawat adik oppa yang sedang sakit?"
"Iya!"
"Kenapa? Bukankah oppa selalu merawat Yoona kalau Yoona sakit?"
Yoona terdiam sejenak.
"Maka dari itu, apa oppa tidak bosan mengurusku? Aku mau menjaga diriku sendiri. Jadi oppa urus saja urusanmu."
"Oppa tidak punya urusan yang lebih penting daripada merawat Yoona. Lagipula anggap saja oppa membalas kebaikan Yoona kemarin."
Yoona bingung dan berfikir sejenak. "kebaikan apa?"
"Yoona sudah susah payah memasak sarapan untuk oppa kan? Jadi, ayo cepat makan bubur buatan oppa, sehabis itu oppa pulang."
Seokjin menyodorkan kembali sendok bubur itu, lalu Yoona pun membuka mulutnya dan memakan buburnya.
"Terima kasih, Yoona. Oppa tidak menyangka Yoona yang malas bisa berbuat manis untuk oppa. Memasak untuk oppa." Seokjin tersenyum.
Yoona tampak melamun. "oppa... Kenapa aku harus menjadi adikmu?" Yoona merasa bersalah Karena Seokjin selalu mendapat masalah karena nya.
"hah? Kalau tidak jadi adik oppa, Yoona mau jadi apa? Noona untuk oppa begitu?" Seokjin sedikit tertawa atas ucapannya sndiri. Seokjin tau kemana arah kalimat Yoona, dan ia mencoba mengalihkan.
Yoona masih memandang serius wajah Seokjin. Seokjin yang merasa heran pun mendekatkan wajahnya pada Yoona. "Ada apa sih, kok tatapannya begitu?"
"Apa-apaan sih oppa!" Yoona sedikit kaget lalu mendorong dada oppa nya agar menjauh.
"Kenapa? Apa Yoona kerasukan setelah sakit?" Seokjin kembali mendekatkan wajahnya menatap mata Yoona dari dekat.
"Ihh! Jangan dekat-dekat!" Yoona mendorong oppa nya lagi, merasa risih. Seokjin pun tertawa.
"Jangan tertawa! Yoona tau Yoona masih jelek dan bau! Maka nya jangan dekat-dekat!" Yoona yang sangat memperhatikan penampilan, merasa risih di dekati saat belum mandi.
Seokjin semakin tertawa. "Jadi, oppa tidak boleh dekat karena Yoona jelek dan bau? Padahal kan setiap hari Yoona memang jelek dan bau," Ucap Seokjin meledek Yoona.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Oppa Since 1997
FanfictionMeskipun tidak sedarah, mereka benar-benar memiliki hubungan yang erat. Hubungan seperti kakak-adik kandung pada umumnya. Kim Seokjin sudah merawat Kim Yoona yang bukan adik kandungnya itu sejak bayi. Dimanja dan disayang, hubungan itu tetap hanya s...
