4- Suatu Kebetulan yang Indah

69 12 1
                                        

*second lead detected :> ❣
♧♧♧

Sepulang sekolah, Xena pergi ke cafe&resto tempat kerja paruh waktunya bersama Lila. Mereka bekerja bersama di cafe itu.

Handphone Lila bergetar tanda adanya pesan masuk. Ia pun menghentikan kegiatan lalu mengecek pesannya.

"Xen, lo bisa nganter ke alamat ini gak? Gue udah bungkus makanannya, lo tinggal anter. Ini soalny gw lg bikin bikin banyak minuman jadi gak bisa. Gapapa, ya?"

Xena tersenyum lalu mengangguk. "Gapapa." Cewek itu kemudian mengambil pesanan yang sudah dibuat Lila dan berjalan ke arah motornya untuk pergi ke lokasi tempat pelanggannya memesan makanan.

***

Langkah Xena terhenti di depan sebuah bangunan tua kosong. Cewek itu mendadak bingung. Tempat yang ia datangi sesuai dengan alamat yang diberi. Apa mungkin GPS-nya salah? Sepertinya tidak. Alamatnya benar-benar sesuai dengan yang Lila beri. Pada akhirnya meskipun berat hati, Xena memasuki gedung itu.

Mata gadis itu menerawang sekitar. Tidak ada satupun orang di tempat itu. Langkah gadis itu memelan. Ia melihat-lihat ke sekitar. Interior gedung ini tidak buruk juga. Ada beberapa lukisan di tembok, piano, meja, sofa dan..seorang cowok duduk di atas sofa tersebut.

Lantas Xena menaruh pesanannya di meja itu. "Permisi..saya mau antar makanan..coba dicek dulu apa pesanannya sesuai-"

"Ternyata lo yang anter. Dugaan gue gak salah."

Dahi Xena mengerut. "Siapa?" tanyanya. Posisi cowok itu membelakanginya sehingga Xena tidak bisa melihat wajahnya.

Lelaki tidak dikenal itu terkekeh. Ia kemudian berbalik dan menatap Xena dingin, membuat cewek berambut sebahu itu terkejut.

"Lo!" Nada bicara Xena mulai tidak bersahabat. Tentu saja, mana mungkin cewek itu akan bersikap baik pada cowok menyebalkan yang baru ia temui di sekolah?

Sebelah alis Xavier naik. " 'Lo'? Begitu cara lo ngomong ke pelanggan?"

Xena berdecih. "Gue cuman bersikap baik ke pelanggan yang baik. Kalau pelanggannya macem lo, ogah! Udah cepet lo cek pesanannya bener atau gak, gue mau cepet balik." ucap cewek itu dingin.

Xavier menaikkan kedua bahunya acuh lalu berjalan ke arah Xena. Ia  mengambil kotak pesanannya dan membukanya. Matanya menatap ke sandwich yang di dalam kotak pesanannya kemudian beralih menatap Xena.

"Ini makanannya? Jelek banget. Gue jadi gak selera makan."

Tahan, Xen. Tahan.. batin Xena. Cewek itu mengepalkan tangannya. Temannya sudah capek-capek membuat makanan itu dan apa Xavier bilang? Jelek? Ingin sekali ia tinju bibir Xavier hingga berdarah supaya ia sadar dan menyesal atas perkataan.
Namun ia urungkan niat itu, sekarang tugasnya hanyalah mengantar pesanan dan berbuat layaknya seorang petugas restoran. Sabar, tersenyum. Dengan begitu ia bisa cepat meninggalkan cowok sialan itu.

Xena menghela nafasnya kemudian menatap Xavier sambil tersenyum.
"Lo gak mau? Ya udah kembaliin aja daripada sayang. Masih banyak yang lebih ngebutuhin makanan ini daripada lo." Cewek itu hendak mengambil makanan yang ada di tangan Xavier, namun dengan sigap cowok itu mengangkat makanannya tinggi-tinggi sehingga Xena tidak mampu meraihnya.

Tinggi badan Xavier 187 cm. Xena hanyalah 160 cm, perbandingan yang cukup banyak bukan? Daripada menghabiskan tenaga melompat-lompat, Xena hanya bisa pasrah.

XENAVIERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang