"Permainan pingpong terdiri atas 3 set. Pertandingan hari ini dipandu oleh gue, Kenzo, sebagai wasit dan juga Aiden sebagai pencatat poin. Hal ini dilakukan untuk menjaga netralitas dan menghindari adanya kecurangan. Sistem penghitungan yang digunakan dalam permainan ini yaitu best of three best of three di mana angka kemenangan 11 rally point saat babak penyisihan. Jika terdapat poin seri (10-10), maka akan ditambah pertandingan poin 2 poin lagi. Pemain yang lebih dulu mendapatkan poin selisih 2 akan dianggap sebagai pemenangnya. Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan yakni-"
"Udah gak usah lanjut. Langsung mulai aja." ucap Xavier dingin. Matanya tidak kunjung beralhir dari gadis yang kini ada di hadapannya, terlihat sangat gugup dan ketakutan. Bet yang Xena genggam pun terlihat gemetar.
"Xenarya Agatha."
Cewek yang dipanggil menoleh.
"Gue udah peringatin lo kemarin. Kalau gak mau gapapa..tapi lo tetap harus ngelakuin hukuman yang gue minta. Sekarang lo datang lo malah ketakutan gini. Kalau gitu mah gue sambil duduk juga bisa ngalahin lo."
Seketika semangat Xena yang sempat menciut terbakar saat itu juga. Raut wajah gadis itu berubah menjadi semangat. Kekuatan yang sempat menghilang seketika kembali. Xena yang optimis akan mengalahkan Xavier kembali. Xena menatap Xavier tajam. "Kata siapa lo bisa ngalahin gue segampang itu? Nggak akan gue biarin itu terjadi." ucap Xena penuh keyakinan.
Xavier tersenyum. "Then let's start this now."
Pertandingan dimulai dengan serve dari Xavier. Xena mampu menangkap dan mengembalikan bola dengan bet yang ia gunakan. Tingkat fokus gadis itu terus ia naikkan. Pertandingan berubah menjadi semakin sengit. Kedua pemain tidak ada yang mengalah, mereka saling melempar dan menerima bola. Hingga akhirnya, satu poin didapat oleh Xena. Pertandingan kembali dilanjutkan hingga akhirnya set pertama selesai.
"Set pertama. Xenarya Agatha meraih poin 9. Xavier Morgan meraih poin 11." Xavier hanya tersenyum mendengarnya. Ia sudah biasa bahkan lama kelamaan bosan mendengarnya.
Xena menghembuskan nafasnya kasar. Cewek itu kemudian meraih botol air mineral yang ada di dekatnya lalu meneguknya hingga habis. Masih ada 1 babak, disitu ia harus lebih mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Set kedua pun dimulai. Kali ini Xena yang mendapat giliran serve. Satu hal yang sempat membuat anggota Achilles terkejut, cara Xena serve benar-benar sempurna seperti seorang profesiona. Cewek itu juga mengumpukan seluruh tenaganya dan seolah mengalirkannya kepada bet tenis yang ia pegang tersebut. Satu pukulan serve ia bawakan kepada Xavier. Xavier berhasil menangkap bola tersebut. Namun sayang sekali, ia tidka bisa mengembalikannya sehingga satu poin diberi untuk Xena.
Pertandingan dilanjut semakin mengangkan. Kenzp, Hiro, dan juga Hiro yang menonton di belakang mereka terlihat benar-benar terhipnotis dengan permainan Xena dan Xavier. Keduanya benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka punya. Tidak ada kata kalah dalam kamus Xenarya Agatha dan Xavier Morgan. Keduanya selalu mempunyai ambisi untuk bisa menang. Akhirnya, set kedua berakhir dengan hasil yang mengejutkan.
"Set ketiga. Xenarya Agatha, 11 poin. Xavier Morgan.." Kenzo menyipitkan matanya menatap kertas hasil tulisan Aiden. "Ai..lo gak salah tulis?" Aiden berdecak. "Lo-nya aja yang gak mau terima fakta kalau Xavi dapet 6 poin."
Mata Xena membulat. Xavier selisih 5 poin dengannya. Cewek itu tersenyum bahagia. Ternyata kali ini dewi fortuna memang berpihak padanya. Selisih 5 poin dengan ahli? Wah, tidak bisa dipungkiri..Xena merasa benar-benar bangga pada dirinya. Cewek itu menghela nafasnya pelan, menetralisir rasa bahagianya. Tersisa 1 set lagi, ia harus tampil maksimal juga. Kali ini Xena berani menatap mata Xavier. Cewek itu memberi tatapan 'Aku akan mengalahkanmu' dengan percaya diri kepada Xavier.
KAMU SEDANG MEMBACA
XENAVIER
RomanceSemua berawal dari kejadian yang sempat menghebohkan seluruh penjuru sekolah. Xenarya Agatha, siswi baru SMA Rajawali meninju seorang Xavier Morgan, cucu pemilik sekolah, siswa most wanted sekaligus pemimpin geng yang sangat terkenal di sekolah. Xav...
