"bunga dan boneka lumba-lumba lagi?" aku terheran-heran melihat papa ku membawa buket bunga dan boneka lumba-lumba kedalam kamar inapku "iya, seperti biasa tanpa nama pengirim hanya namamu disini" jawab papa sambil memberikannya padaku. Iya, sejak aku terbangun dari koma aku selalu mendapatkan buket bunga lily putih dan boneka lumba-lumba.
"kira-kira siapa ya pengirimnya, kita harus ucapak terima kasih karena dia juga telah membayar seluruh pengobatanmu" Lanjut mama membuatku terdiam dan menatap boneka lumba-lumba itu.
***
Dokter koko menatapku yang sedang melamun menatap keluar taman "sepertinya kamu bosan dengan terapi ini, mau jalan-jalan keluar?" tanyanya ramah padaku dengan semangat aku tersenyum senang "iya"
Aku duduk dikursi roda, dokter koko sangat baik dia selalu dengan sabar mengobatiku untuk mengembalikan ingatanku. "ne, dokter, aku selalu berpikir dan hal ini juga masuk kedalam mimpiku. Ingatkan, aku selalu bilang aku adalah lumba-lumba dan ternyata aku menyukai seorang pria?" tanyaku pada dokter yang sedang mendorong kursi rodaku
"didalam mimpiku, pria itu selalu ada, dia selalu menatapku yang riang berenang kesana kembali dan aku juga senang melihatnya. Dia membuatku amat bahagia padahal dia sangat dingin. Tapi, tapi dia orangnya sangat baik kok dan aku menyukainya didalam mimpiku. Aneh ya mimpiku?" aku hanya bisa tersenyum mengingat mimpiku
"itu bukan mimpi" sebuah suara dibelakangku membuatku terkejut ini bukan suara dokter koko ini suara orang lain, tapi... kenapa suara ini terdengar sangat familiar bagiku. Kursi rodaku pun berhenti, aku pun berbalik untuk melihat siapa yang ada dibelakangku sedari tadi.
"halo Riri" sapa pria itu padaku, dia berjalan kedepanku, dia pria yang tinggi bertubuh tegap, memakai topi berwarna putih lalu mengenakan mantel jaket ditubuhnya, wajahnya terlihat garang namun tampan serta bola matanya yang berwarna hijau emerlad bagai berlian.
"senang melihatmu baik-baik saja" ujar pria itu sambil berlutut dihadapanku "kamu siapa?" tanyaku padanya dan dia hanya tersenyum ah... senyumannya sangat familiar dan membuat seseuatu dihatiku bergetar.
"tuan Jojo, eh tidak, panggil aku Jojo saja" Jawabnya membuatku terkejut, seketika aku teringat semua yang terjadi padaku sebelum aku mengalami koma.
Aku adalah penjaga lumba-lumba yang baru disebuah akurium, aku menjaga bayi lumba-lumba disana setiap hari dan setiap harinya pula tuan Jojo selalu melihat lumba-lumba karena dia seorang peneliti. Setiap harinya dia datang dan setiap harinya pula aku melihatnya membuatku suka padanya. Tapi, aku tidak berani untuk menyapa ataupun berbicaranya jadinya aku hanya bisa diam menatapnya dari jauh itu sudah sangat membahagiakan bagiku.
Air mataku tiba-tiba menetes dipipiku, dengan lembut Jojo menyeka air mataku lalu menatapku. "kau...kau...kau selalu menatap lumba-lumba itu dan aku.. aku" isakku padanya aku tidak tahu kenapa, kenapa aku menangis dan kenapa hatiku sesak sekali
"aku tidak menatap lumba-lumba itu, aku menatapmu" ujar Jojo padaku membuat terdiam sejenak "aku selalu menatapmu yang riang bersama lumba-lumba itu. Maafkan aku karena aku kamu" Jojo menggegam tangaku erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dolphine Heart (END)
Cerita PendekAku hanyalah seekor Lumba-lumba, iya, hanya lumba-lumba, berbeda denganmu. Dirimu adalah seorang manusia. perasaan yang bernama cinta ini tidak akan bisa tersampaikan padamu, dan tidak akan pernah terwujud. tapi, saat melihatmu datang, dan menatapku...
