hari minggu, waktu yang tepat untuk beristirahat dari aktivitas yang sudah seharusnya dilakukan selama enam hari berturut turut. hari dimana semua orang bisa bersantai ria sambil menikmati gerimis yang turun membasahi dedaunan.
seorang Lyodra Margaretha Pratama adik dari Raja Giannuca Pratama tengah asyik larut dalam kisah novel "Aku dan Kamu Menjadi Kita" di balkon depan kamarnya sambil menikmati matcha hangat buatan bi Tini.
saat membaca lembaran kedua dari novel itu tampaknya Lyodra mulai terbawa suasana hingga ia benar benar kesal dengan ceritanya yang menurutnya sangat membuat gregetan. ditutupnya novel itu lalu ia membuka ponsel genggam pemberian orang tuanya dan terlihat notifikasi dari Nuca yang tak sabar menunggu balasan Lyodra.
📱: kak nucaaa🦕
|ly! aku lagi diluar rumah
|tapi sebentar lagi pulang kok
|kalau mau beli makanan,
tunggu aku pulang
|jangan keluar sendiri, nanti nyasar
Lyodra memutar bola matanya malas. Nuca tahu saja bahwa dirinya sedang ingin makanan. tapi jika menunggu Nuca pulang, sepertinya cacing cacing di perutnya sudah tidak sabar menunggu asupan.
Lyodra juga sedikit kesal membaca pesan terakhir yang dikirim Nuca, dirinya bukan anak kecil yang suka nyasar jika sedang keluar rumah, toh menurutnya sudah enam hari ia tinggal di komplek ini.
tanpa membalas pesan dari Nuca, Lyodra mengganti pakaian nya untuk membeli martabak manis di luar kompleknya. cuaca juga sudah sedikit cerah, setidaknya Lyodra bisa keluar rumah tanpa harus mengenakan payung atau jas hujan.
Lyodra mengenakan baju lengan pendek disertai jaket sebagai pelindungnya dari cuaca yang cukup dingin dan celana tidur kesayangannya itu.
saat menuruni tangga, bi Tini cukup bingung mengapa Lyodra berpakaian sangat rapi. bi Tini mencoba bertanya pada Lyodra, mau pergi kemana gadis itu.
"dek lyodra, mau kemana?"
Lyodra tersenyum, "beli martabak depan komplek bi, lyodra lapar"
"biar bibi saja dek yang belikan"
"gak usah bi, lyodra tahu kok jalannya. bibi jangan kayak kak nuca yang takut kalo aku nyasar ya bi, tenang aja bi, lyodra aman" Lyodra mengacungkan ibu jarinya
"tapi kata mas nuc--"
"shuttt!" Lyodra meletakkan jari telunjuknya diatas bibirnya
"bibi tenang aja, bibi gak akan di marahin kak nuca kok" lanjutnya
bi Tini sudah pasrah, dan akhirnya menyetujui Lyodra yang ingin membeli martabak di depan komplek perumahannya itu. begitulah Lyodra, sedikit keras kepala jika ada yang melarangnya untuk melakukan sesuatu.
✈️
Lyodra melangkahkan kaki menuju depan komplek perumahannya itu. terlihat sedikit sekali warga komplek yang keluar rumah karena efek gerimis tadi.
angin berhembus cukup kencang membuat Lyodra merasakan dinginnya cuaca di komplek pagi ini akibat gerimis tadi.
semakin jauh dari rumahnya, Lyodra belum juga menemukan penjual martabak di depan kompleknya. padahal, perkiraannya sudah tiba di depan komplek, namun sepertinya Lyodra salah jalan.
Lyodra mencoba melewati gang kecil dan ternyata malah semakin jauh dari depan komplek perumahannya itu. jalanan komplek cukup sepi, membuat Lyodra takut di culik. Lyodra mengecek saku jaketnya itu dan benar saja dirinya tidak membawa ponsel genggam nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesawat Cinta
Jugendliteratur"kita itu bagaikan pesawat. aku pilot, kamu pramugari nya" -- Samuel Cipta Herma sebuah kisah tentang Lyodra Margaretha Pratama yang dipertemukan dengan Samuel Cipta Herma rank 1 #samuellyodra rank 1 #keisyanuca [28 Mei 2020] rank 3 #lyodra [4 Juni...
