~~~ HAPPY READING ~~~
Mereka di sana, di ranjang dengan ukuran king size, dengan posisi Ji Ahn yang berada di pangkuan Kyuhyun dan lengan pria itu yang melingkar di pinggang sang wanita. Sesekali dua anak manusia itu saling mengecup dan melumat bibir lawan jenisnya.
"Jadi ada apa, hum? Kau tahu, aku sudah memperhatikanmu lebih dari 30 menit di sana."
Satu alis Ji Ahn naik. "Benarkah?"
"Hmm." Kyuhyun menganggukkan kepalanya. "Rasanya aku bahkan dapat menghitung berapa banyak gelas whiskey yang sudah kau minum."
Ji Ahn tertawa kecil. "Kau bodoh atau apa? Kenapa memperhatikan hal-hal konyol seperti itu, huh?"
"Entahlah." Kyuhyun mengangkat bahunya, acuh tak acuh. "Jadi, ingin berbagi?"
Sekali lagi, Ji Ahn menunjukkan raut wajah terherannya. Mendengar Kyuhyun mengatakan hal-hal semacam itu sejak tadi, ia pun berpikir, apakah dirinya terlihat sangat menyedihkan? "Kau- ingin aku membagi apa, hum? Cerita yang menyedihkan? Aku sedang tidak ingin membahasnya."
Kyuhyun mengerutkan dahinya. "Lalu, apa yang ingin kau bagi? Kenikmatan?"
"Bukankah itu adalah tujuan utamamu memesan kamar ini?" Tukas Ji Ahn, seakan dapat menebak apa yang Kyuhyun pikirkan, juga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seketika, Kyuhyun pun menyerangai. Benar, pria itu membenarkan perkataan Ji Ahn dalam hati, meskipun sebenarnya tidak hanya itu yang menjadi alasannya. Namun, sekilas ia berpikir, ini seperti bukan Ji Ahn. Pasalnya, bahkan ketika yang pertama kali waktu itu, ia harus berjuang untuk sekedar membuat wanita itu bersedia mencoba bersamanya. "Aku tahu. Tapi... kupikir akan sulit untuk sekedar membuatmu bersedia."
Ji Ahn tertawa kecil. "Begitukah?" Tangan wanita muda itu mulai bergerak pula, menelusup ke dalam kaos hitam yang Kyuhyun kenakan. Dan setelahnya, gerakannya pun semakin halus, mengusap dada hingga perut pria itu, membuatnya berdesir pula karena sentuhan tersebut.
Dahi Kyuhyun berkerut. Gerakan tangan Ji Ahn di permukaan kulitnya, itu cukup mampu menggodanya, merasakan hasratnya mulai membara. Namun, itu juga membuatnya merasa... aneh.
"Sejujurnya, aku-" Sejenak Ji Ahn menggantung kalimatnya. Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap dalam kedua bola mata Kyuhyun. "Ini pasti cukup mengejutkan bagimu. Tapi... ada sesuatu yang mengganggu dan membebani pikiranku. Aku ingin melupakannya. Hanya saja sialnya, berapa banyak pun aku minum, aku tetap tidak bisa melupakannya."
Kedua bola mata itu berkaca-kaca, bahkan ada sorot kesedihan mendalam di sana. Kyuhyun dapat melihatnya dengan jelas di kedua bola mata Ji Ahn.
"Karena itu," Ji Ahn meraih ujung kaos Kyuhyun, lalu mengangkatnya, meloloskannya dari tubuh pria itu. "Jika bersamamu dapat membuatku melupakan itu semua," Setelahnya ia beranjak dari pangkuan Kyuhyun. Tangannya bergerak turun, meraih kancing dan resleting celana pria itu, membukanya pula. "Mari kita lakukan." Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkannya, tangan Ji Ahn menurunkannya – celana panjang dan celana pendek pria di depannya itu, hingga menyisakan kain terakhir berbentuk segitiga di sana.
"Ya." Sahut Kyuhyun. Suara pria itu mulai terdengar serak, tercekat karena dorongan hasrat yang semakin merong-rongnya. "Aku berjanji, kau akan melupakan semuanya besok pagi, tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Oppa... aku ingin panggilan itu."
"Baiklah, Oppa! Kau mendapatkannya."
Ji Ahn menyetujuinya dengan cepat, tanpa perlu berpikir panjang. Kemudian, kedua lengannya pun melingkar di leher Kyuhyun, seiring dengan menyatunya kembali bibir mereka. Dan seperti sebelumnya pula, atau bahkan lebih, keduanya saling mendorong, menghisap dengan gerakan menuntut.
KAMU SEDANG MEMBACA
IMPERFECT
FanfictionImperfect. Tidak sempurna. Setiap orang pasti mengalami hal tersebut dalam hidupnya. Setiap hal pasti memiliki kekurangan. Ya, apapun itu. Dan sebagai manusia, tentu kita harus menerimanya - mau tidak mau. Termasuk mereka - mereka yang bernasib sama...
