11. Cowo Ganteng

7 2 0
                                        

Hari yang sangat cerah namun membosankan bagi Lulu dan kawan-kawan. Pagi ini di sekolah 'SMK 88 kebangsaan' semua murid tengah menjalankan upacara bendera. Dengan sinar piolet yang sangat menyilaukan menusuk ke relung jiwa para murid lebih tepatnya pada Lulu yang ditempatkan baris paling depan menghadap sang matahari.

"Gila panas bet dah" keluhan seseorang yang barisnya disamping Lulu.

"Ngomong apaan si tu Bapak lu? Lama bet dah. Ngerti kaga gue, ah elah" ucapnya lagi.

"Sabar del, bentar lagi selesai ko" ucap Lulu.

"Bentar bahasa lo itu berjam-jam Lu" keluh Adel memelas.

Lulu terkekeh mndengarnya.

"Aduh pusing pala barbie nih" Adel lebay.

"Duh mau pinsan princes" seraya meragakannya.

"Duh ga kuat Hamba"

"Adel berisik ah" ucap Lulu jengah mendengar Adel sedari tadi mengeluh terus.

"Yaudah si gausah didengerin" jawab Adel ketus.

"Masalahnya lo ngomong di telinga gue dodol" geram Lulu.

Adel terkekeh, "hehe, sorry. Abisnya tu Bapak lu lama bet dah ngomongnya. Ngerti kaga"

Dia wakepsek SMK 88 Kebangsaan. Pak Zaman. Memang jika ia sudah berbicara didepan seperti ini tak ada hentinya. Panjang kali lebar. Namun entah apa yang dia bicarakan. Jujur saja sepanjang-panjangnya dia bicara tak ada satupun yang nyangkut dibenak para mutid.

Mereka sering menyumpah serapahi Wakepsek ini. Pasalnya ia berbicara tanpa titik dan koma. Seperti kereta tak ada remnya saja.

Mana ada yang ngerti jika seperti itu. Para murid mulai jengah dengan pak Zaman yang tak menjumpai kata akhirul kalam dan Wassalamualaikum warohmatullahi wabarolatuh.

Huuuuh! Rata-rata semua murid tidak menyukai Wakepsek atau Pak Zaman ini. Termasuk 'ABSURD GANG'.

Setelah dua jam berlalu, "baiklah sampai disini paham?" Para murid yang sudah jengah dan jengkel akhirnya mau tak mau dengan sangat antusiasnya mengatakan, "PAHAM PAK" ucap mereka serempak.

"Baiklah kalo begitu saya akhiri. Kurang lebihnya mohon di maapkan dan apa bila ada yang kurang saya siap menambahkan"

"Apaan kurang? Udah lewat sarapan gue ni" ketus Yanti yang sudah tak tahan lagi menahan laparnya.

"Jika ada jarum yang patah jangan simpan dalam peti, jika ada kata yang salah jangan simpan dalam hati" pantunnya mengakhiri.

"Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" hah. Akhirnya mereka bisa bernapas lega.

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab mereka serempak.

Setelah pidato Wakepsek selesai akhirnya upacara disubarkan. Banyak yang berhamburan kekantin untuk mengisi perut mereka yang belum sempat terisi dirumahnya.

"Wah gila akhirnya perut gue bisa diisi juga"

"Untung ga mati gue" celetuk Adel yang sedari tadi ngoceh terus karna sudah jengkel dengan Wakepseknya itu.

"Hus! Ga boleh ngomong gitu Adel" gertak Lulu.

"Hehe, maaf Lu. Abisnya gue jengkel bet dah ama tu Pak Uban. Ngomong gada hentinya. Ga cape apa tu mulut? Telinga gue aja cape dengerinnya" ucap Adel.

"Haha, parah lo del. Bapak lo tuh diledekin terus sih" celetuk Dhifa.

"Enak aja. Bapak lo kali" balas Adel tak terima.

"Haha. Udah-udah, mau pada pesen apa?" Tanya Jihan melerai.

"Gue batagor kuah kaya biasa" ucap Mauran.

"Gue juga" Yanti menimpali.

"Gu-"

"Kayanya kalo kebanyakan yang nitip bakal susah bawanya deh" ucap Dhifa memotong ucapan Adel.

"Ish, sial lo" geramnya.

"Udah sini biar gue?" Kata Lulu.

"Unch, sayang Lulu deh kalo gini" ucap Adel seraya merentangkan tangannya.

"Ih jijik gue Del" celetuk Lida.

Adel memanyunkan bibirnya, "jadi ga? Kalo ga gue tinggal nih" ucap Lulu.

"Eh iya-iya jadi ko bep" ucap Adel.

"Apa?"

"Batagor kuah aja kaya mereka ya" ucap Adel dan diangguki Lulu.

"Ngikutin aja lo mh" kata Mauran bercanda.

"Apaan si" jawab Adel ketus.

"Eh ngomong-ngomong si Awan and the gang mana ya? Ko kaga keliatan batang idungnya samsek dari tadi" tanya Yolla.

"Cieee nyariin Nurman ya?" Kata Lida meledek.

"Dih ogah gue nyariin si biang kerok kunur" jawab Yolla malas.

"Bilang aja kangen. Gausah gengsi kali Yol" kata mauran yg ikut menimpali.

"Kaya ga tau gue aja lo mah" kata Yolla.

"Haha... mau nagih utang ya lo?" Celetuk Adel.

"Tau aja lo" ucap Yolla seraya terkekeh.

"Emang iya? Gue bercanda kali"

"Hmmm"

"Eh-eh tau sama yang namanya Fahmi ga? Anak TSM. Gilaa cakep bangeet tau gaa?" Tanya Yanti dengan hebohnya.

"Kenapa emang?" Dhifa balik bertanya.

"Dia nge-Chat gue di WA anjiir"

"Iya? Serius lo?" Tanya Mauran tak kalah heboh. Diangguki Yanti.

"Mana-mana coba liat orangnya" Mauran kepo.

"Bentar-bentar" ucap Yanti.

Seseorang melewati meja mereka dan Yanti melihatnya.

"Itu-itu" ucap Yanti matanya tetap menuju ke orang tersebut.

"Mana?" Mauran yang belom peka tetap melihat kelayar ponsel milik Yanti.

"Ish! Itu ren di depan" kata Yanti tanpa teralihkan pandangannya.

Mauran mencarinya seraya memukul lengan Yanti pelan, " Yan-Yan, yang itu bukan" katanya menunjuk orang yang sedang duduk tak jauh dari meja mereka.

"Ih gausah ditunjuk. Malu" kata Yanti.

"Iya-iya. Sorry" jawab Mauran.

***

See you❤

Absurd GangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang