18. Tentang Raihan&Ammar

449 26 19
                                        

"Tak cukup diucapkan, tak cukup pula di yakinkan, karena yang terpenting adalah bagaimana cara memperlakukan"
~Arin Nadhira witama~

_________________________________________


"Shhh". Ringis seorang laki laki yang kini tengah diobati oleh seorang gadis yang menjabat sebagai ketua PMR.

"Makanya kalau gamau sakit, jangan berantem!!" Ucap gadis tersebut sambil menekan luka sang laki laki karena kesal.

"Ssshhh..sakit woy!" Ucap laki laki tersebut sambil menjauhkan tangan gadis yang mengobatinya.

"Lagian lo tuh Ketus Osis, Ammar! Ngapain sih lo berantem? sama Raihan lagi! Kalian itu sep.." belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, tiba tiba ucapannya disela oleh laki laki itu. Laki laki itu Ammar, Ketua Osis Sma Wilsen.

"STOP RIN! STOP, BILANG DIA SEPUPU GUE!!" Bentak Amar pada gadis yang tengah mengobatinya, Gadis itu Arin. Tetangga Ammar sejak kecil.

Setelah mendengar bentakan Amar, bukannya merasa takut, Arin malah menatap kilatan mata tajam milik Ammar.

"Mau sampek kapan lo kayak gini, Mar?mau sampek kapan?" Tanya Arin sambil menatap mata hazel dengan kilatan amarah milik Ammar, sahabatnya.

"Lo udah tau jawabannya, Rin!" Jawab Ammar sambil menurunkan nada bicaranya, karena sekarang ini yang ia ajak bicara adalah sahabatnya yang menemaninya sejak kecil.

"Please, Mar, lo harusnya terima kalau dia uda tenang, dan lo harusnya ga nyalahin Raihan! Ini bukan sepenuhnya kesalahan Raihan, Mar!" Jelas Arin sambil memegang pundak sahabatnya itu.

"Lo gatau rasanya jadi gue, Rin!" Lirih Ammar pelan.

"Karena gue ga pernah tau jadi lo, makannya gue berusaha jadi tempat lo berbagi, biar gue juga tau gimana rasanya jadi lo, Mar!" Ucap Arin yang entah sejak kapan sudah meneteskan air mata. Ada sakit yang tak bisa ia jelaskan ketika melihat Ammar seperti itu.

"Maaf, Rin! Gue udah buat lo susah!" Ucap Ammar sambil menghapus air mata di pipi Arin.

"Itu gunanya sahabat Mar,!" Ucap Arin sambil menepuk pundak Ammar berkali kali.

"Makasih Rin! Maaf udah bentak lo!" Ucap Ammar sambil menarik Arin ke dalama pelukan hangatnya.

"Santai aja, udah udah sana balik, lo itu ketua osis, kok suka banget bolos!" Ucap Arin sambil mengalihkan pembicaraan.

"Namanya juga orang sibuk!" Ucap Ammar sambil terkekeh pelan yang langsung dibalas cubitan cantik diperutnya.

"Aw..aw..aw..! Sakit bego!" Rintih Ammar karena perutnya diberi hadiah cantik oleh Arin.

"Udah sana pergi, gue banyak kerjaan"

"Iya iya, duh galak banget sih! Gue pergi dulu!" Ucapnya sambil berjalan menjauh dari uks.

Setelah kepergian Ammar, Arin langsung mendudukkan dirinya dibrangkar uks, entah mengapa air matanya kini kian bertambah deras.

"Hiks..hiks..kenapa..hati gue sakit..hiks..!" Tangis Arin sambil sesegukan.

Tanpa disadari ada seseorang yang memperhatikan Arin dan Ammar sejak tadi. Melihat Arin menangis, hati seseorang yang memperhatikab tersebut tersentuh untuk melangkah mendekati Arin. Merasa ada yang mendekat, Arin mendongkak dan melihat sosok perempuan cantik dengab wajah datar tengah menatapnya intens.

"Eh..kamu ada urusan apa? Kamu butuh obat!" Ucap Arin serambi tersenyum dan menghapus air matanya.

Baru saja ingin melangkah kearah kotak obat, tangan Arin sudah ditarik oleh gadis cantik tersebut membuat Arin menoleh.

Raina dan RaihanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang