14 | Badut dan Pembalasan

11 0 0
                                    

Sebuah gawai berwarna putih berdering dengan kencangnya dari celah di antara kursi supir dan kursi penumpang. Sautan-sautan dari Mbak Nadia dan Mas Agus menyaingi kerasnya suara dering itu.

"Woi, Mas, Mbak, bisa tenang nggak sih? Kita ini sedang menghadapi masalah yang serius. Hentikan ego kalian dan mulailah berdamai. Lihat ini, ada panggilan masuk!" Layar gawai yang berada di antara mereka menampilkan foto dan sebuah nama bertuliskan 'Luna'.

Segera kuangkat panggilan itu yang sedang menggunakan mode video. Layar menampilkan Bang Luna yang mengendarai kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya—yang tidak jauh darinya—lima ZoClown raksasa berjalan cepat dengan langkah kaki yang lebar mencoba untuk mencapainya.

Wajah garang tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang dialaminya saat ini. Namun, sebisa mungkin ia mencoba menutupinya dengan senyuman yang selalu ditunjukkan kepada kami.

"Teman-teman, terima kasih atas segalanya," katanya, "kalian memang teman terbaik yang pernah kumiliki." Air mata terlihat berlinang dari kedua ujung matanya. "Seandainya kalian tidak ada, mungkin aku sudah menjadi mayat badut berjalan—ZoClown. Kalian tahu, dari dulu aku tidak pernah punya teman. Aku selalu saja duduk sendirian ketika masa-masa sekolah, tidak bekerja jika ada kerja kelompok, dan tidak dipedulikan oleh siapapun termasuk guru sekalipun. Semuanya takut—takut dengan wajah seram dengan perawakan seperti preman. Ha ha ha ha. Tetapi kalian berbeda, kalian menerimaku apa adanya. Aku sungguh bersyukur dipertemukan dengan kalian semua." Raut wajahnya semakin lama semakin nampak kesedihannya. Tetapi berbeda dengan kami, tidak ada rasa sedih, hanya kaget dan kasihan mungkin. Jika aku boleh berpendapat, sepertinya kami sedang mengalami kebingungan. Kami tidak tahu harus apa menghadapi situasi seperti ini. Pasrah saja kah?

"Terutama kau, Riko, kau sangat spesial di mataku," entah mengapa aku merasa merinding setelah mendengarnya. "Aku belum pernah bertemu dengan orang sepertimu. Bahkan kau tidak ragu-ragu untuk memanggilku dengan sebutan 'Bang' yang awalnya itu hanyalah gurauanku saja. Kau juga mirip sekali dengan sahabatku dulu. Sahabat pertama dan terakhirku." Ia tersenyum bahagia. Sejujurnya aku agak aneh dengan kejadian sejak awal aku terbangun hingga sekarang ini. Wajah, nama, pakaian, aku merasa pernah mengingat itu semua. Entah karena aku amnesia atau pikiran yang bercampur aduk, tapi dapat kupastikan pernah bertemu dengan teman-temanku saat ini. Mungkin di kehidupan sebelumnya. Mungkin karena itu juga aku merasa akrab dengan mereka semua.

Bang Luna membuka kaos berwarna hitam yang dikenakannya. Tubuhnya yang kekar dan berisi terbalut perekat bening untuk menempelkan granat aktif di tubuhnya. Sekali saja ia menarik pemicunya, maka granat-granat itu akan meledak bersamaan yang membuat dirinya tewas seketika—tentunya.

"Teman-teman, aku telah menyiapkan diri untuk melakukan hal ini. Aku tahu pasti tiba masaku untuk berguna. Begurna bagi nusa dan bangsa. Atau paling tidak bagi orang-orang yang kusebut teman dan juga menganggapku sebagai temannya." Tangan berototnya memegang erat pemicu. "Jadi, selamat tinggal teman-teman."

Bang Luna menarik pemicu itu dan seketika bunga merah keluar dari dadanya. Api dengan cepatnya menyebar dan menutupi seluruh layar sebelum akhirnya siaran ini terputus. Dari suara yang ditimbulkan (suara ledakan dan beberapa getaran di tanah) kami dapat menyimpulkan kalau Bang Luna telah berjasil membuat ZoClown raksasa itu jatuh dan tewas.

Air mata yang sudah tak kuasa dibendung lagi pecah setelahya. Semuanya mulai membasahi kedua pipi kami tanpa sadar. Dan seperti biasa, Mbak Nadia lah yang paling bersedih. Itulah wanita, hatinya lemah, perasaanya mudah tersentuh, bahkan untuk orang yang baru dikenalnya sekalipun.

Ah, sial. Lagi-lagi kami harus kehilangan teman. Ada rasa penyesalan dan juga dendam di lubuk hatiku. Kemarahan semakin menjadi-jadi yang kutujukan kepada mereka—yang telah menciptakan monster-monster itu. Akan kubunuh mereka semua. Ya, aku sungguh-sungguh.

Setelah apa yang baru saja kami lihat suasana menjadi kembali hening juga suram. Tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata atau mencoba memecah keheningan. Bahkan Mbak Nadia yang sebelumnya menyalahkan kejadian ini kepada Mas Agus juga mulai diam tidak peduli. Ia hanya menatap kosong ke arah kursi di depannya.

Perjalanan kami setelahnya terasa cepat tanpa hambatan. Tidak ada ZoClown yang terlihat, tidak ada teleport, juga blokade. Beberapa saat kemudian kami berhasil mencapai tujuan kami. Gedung tinggi yang sangat sepi tetapi terhindar dari kerusakan seperti gedung-gedung yang ada di kanan-kirinya.

Mas Agus memarkir kendaraan tepat di depan pintu gedung yang tingginya dua kali ukuran orang dewasa.

"Semuanya, aku tahu kalian pasti masih bersedih karena baru saja kehilangan teman berharga. Tetapi Luna pasti tidak akan senang melihat kita semua bersedih. Oleh karena itu, ayo kita bangkit dan balaskan dendam Luna. Aku memiliki firasat yang sangat kuat bahwa tempat inilah asal mula semua kekacauan yang terjadi." Mas Agus kemudian turun dari mobil yang disusul oleh kami semua.

Setiap manusia pasti mempunyai sisi yang enggan ditunjukkan kepada orang lain. Tapi ada saatnya sisi itu terlihat, baik sengaja maupun tidak. Sama dengan Mas Agus yang kulihat saat ini. Orang yang selalu tenang dan bijaksana kini telah berubah. Dari sorot matanya yang tajam dapat kulihat kebencian yang amat mendalam. Ia juga bersikap tergesa-gesa, ingin segera menuntaskannya dan kembali ke kehidupan lamanya.

Pria dengan blangkon di kepalanya itu mengeluarkan beberapa kotak dari dalam bagasi. Kotak yang tidak kusadari keberadaannya itu dibukanya. Berbagai jenis senjata lengkap dengan amunisinya ada di situ. Jika untuk kami semua mungkin ini terlalu berlebihan. Dan dari mana sebenarnya Mas Agus bisa mendapatkan senjata-senjata ini.

Aku mengambil sebuah senapan serbu HK416 yang dibuat oleh negara Jerman. Kecepatan tembak yang dimilikinya dapat mencapai 700-900 peluru per menit dengan keakuratan lebih dibandingkan M4 atau M16. Senjata ini juga digunakan oleh Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. Harga satu pucuk senjata ini yaitu US$800 (setara dengan 11 juta setengah).

Mas Agus mengambil dua buah senapa besutan Israel, yaitu Uzi. Senapa ini didesain oleh Mayor Uziel Gal pada tahun 1940 dan baru diproduksi secara masal pada tahun 1950. Sub Machine Gun ini memiliki kecepatan laju peluru 390 meter per detik. Uzi juga mampu meluncurkan 600 peluru per detiknya. Senapan ini sangatlah berbahaya jika berada di tangan musuh karena memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

Sekali lagi kutegaskan, aku sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan persenjataan. Mereka semua sudah seperti bagian dalam kehidupanku. Itulah mengapa aku hampir mengenali setiap jenis senjata di seluruh belahan.

Disisi lain Mbak Nadia mengambil senjata mematikan asal Jerman, HK MG4 MG43. Dirancang tahun 1990 dan baru ditunjukkan kepada publik pada bulan September 2001. Dengan kaliber 5.56 mm, senapan ini memiliki jangkauan kurang lebih 1000 meter.

Sementara itu Bori dan Ayuu membawa pistol yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bentuknya ramping seperti sebuah triplek. Kurasa beratnya tidak terlalu membebankan. Mungkin ini adalah senjata yang sama dengan yang dimiliki para tentara dulu—waktu kami di rumah makan—yang tidak pernah ditunjukkan pada publik.

Tidak lupa beberapa granat ledak, cahaya, dan asap kami bawa untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Baiklah, ayo masuk," kata Mas Agus dengan nada serius dan tatapan membara.

***

ZoClown [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang