Kami bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini dan pergi menuju kantor polisi yang dimaksud Bori. Beberapa makanan dengan kondisi bagus kami bawa untuk persediaan. Benda-benda lain yang sepertinya akan berguna juga kami bawa, seperti: kompor portable, gas, panci, pisau, kapak, dan senter.
"Kak Riko, bawalah ini," kata Bori memberikan sebuah revolver berkaliber 38 dengan genggaman berwarna coklat kehitaman.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyaku dengan penasaran melihat seorang bocah SMP membawa senjata api seperti ini.
"Saat kekacauan seorang polisi tidak sengaja menjatuhkannya. Kemudian aku pungut deh, siapa tau berguna," jawabnya.
Aku cek isi pelurunya. Masih penuh dengan 6 butir peluru. Kumasukkan revolver itu ke saku celana OSISku untuk berjaga-jaga.
"Naiklah, kita akan berangkat," perintahku kepada Bori.
Perjalanan kami menuju tempat yang berjarak kira-kira tujuh kilometer berlangsung dengan lancar. Tidak ada kemacetan atau berhenti karena lampu merah. Hanya sesekali kami harus mencari jalan lain karena kecelakaan mobil yang menghalangi jalan kami. Para pengguna jalanan yang meninggalkan kendaraannya sembarangan juga membuat kami sedikit terhambat.
Rasa penasaranku memaksaku untuk mengorek informasi lebih dalam dari Bori. Sepertinya itu berhasil karena aku mendapatkan beberapa informasi berguna dari dirinya.
Menurut penuturannya, ada banyak jenis badut yang berbeda-beda saat ini, yang pertama adalah Badut Normal atau Badut Biasa. Badut ini biasanya muncul saat pagi hingga sore hari. Menurut Bori, badut ini tidak berbahaya dan tidak akan menyerang tiba-tiba jika kita tidak menganggunya. Badut ini akan pergi ketika matahari mulai tenggelam digantikan oleh badut lainnya.
Kedua adalah Badut Penyerang. Badut yang muncul ketika hari mulai gelap ini menyerang menggunakan taringnya yang tajam. Kemungkinan orang lain terinfeksi menjadi badut karena terserang badut penyerang sangat sedikit. Biasanya orang-orang yang terkena gigitannya akan kejang-kejang yang kemudian langsung meninggal.
Badut Penginfeksi, badut yang berperan besar dalam penyebaran virus. Badut ini memiliki tubuh berwarna hijau yang mengeluarkan bau-bau menyengat. Ia juga memiliki lendir yang keluar dari tubuhnya. Seseorang yang terserang atau kemasukan cairan hijau ini memiliki potensi menjadi badut sekitar 70%-75%. Sama seperti Badut Penyerang, korban yang terserang jika tidak terinfeksi ya mati dengan menderita. Kecuali orang itu memiliki keberuntungan yang tinggi maka ia akan tetap hidup.
Jenis badut yang Bori ketahui terakhir adalah Badut Besar. Badut ini dapat tumbuh hingga 2-4 kali lipat dari badut biasanya. Badut jenis ini tidak menyerang dengan gigitan, melainkan dengan senjata dan membuatmu langsung mati dalam sekejap. Bersyukurlah orang-orang yang terserang badut ini karena tidak akan ikut bertanggung jawab dalam penyebaran infeksi. Senjata yang biasa digunakannya adalah: lampu jalanan, rambu-rambu lalu lintas, tiang listrik, dan pohon.
"Hanya itu saja yang kutahu kak," kata Bori mengakhiri penjelasannya.
"Bagaimana kau bisa tahu banyak?"
"Tepat setelah kekacauan terjadi aku mulai mencari-cari info mengenai makhluk yang kami sebut ZoClown ini. Media massa juga telah menyebarkan banyak informasi berguna tepat dua minggu setelah kejadian di Jakarta."
"Jadi itulah mengapa kau bisa bertahan selama ini?"
"Yap, begitulah."
Setelah perjalanan yang penuh hambatan akhirnya kami sampai juga di tujuan kami. Kantor polisi dengan tulisan Polda Jawa Terngah di depannya yang memberitahu kita nama dari tempat ini. Tenda-tenda berwarna hijau dan putih dengan lambang palang merah berdiri di lapangan yang biasanya digunakan sebagai apel pagi itu.
Kami memasuki tempat itu melalui gerbang depan yang sudah rusak terjatuh di tanah. Pos penjagaan di sebelah kiri kami tampak kosong dengan darah yang menempel di dinding berwarna kuning. Tidak ada penjaga yang biasanya memberhentikan orang yang mau masuk ke tempat ini.
Matahari mulai meredup ketika kami sampai di tempat ini. Dengan revolver di tangan kanan dan senter di tangan kiri aku turun dari mobil. Bersama Bori kami menelusuri tenda demi tenda yang sudah kosong itu. Hanya ada mayat-mayat yang tidak dapat tertolong saja yang terbaring di atas kasur itu. Tidak satu pun manusia hidup kami temukan.
Suara mobil yang di gas beberapa kali membuatku penasaran dan mencari dari mana suara itu. Ternyata itu adalah mobil yang kami kendarai tadi. Dua pemuda dengan rambut yang dibuat jabrik telah berada di dalam mobil. Bibirnya hitam dan mereka juga mengenakan pakaian serba hitam. Beberapa tindikan menghiasi wajahnya yang tampak seperti monster itu.
Seraya mengacungkan jari tengah keluar jendela mereka berkata: "Kami ambil mobilnya ya, sampai jumpa. Ha ha ha ha."
Mobil itu melesat dengan cepatnya menuju gerbang belakang dari kantor polisi ini. Aku mencoba berlari mengejarnya tetapi tidak berhasil. "Cih," kataku kesal.
"Kak, sebaiknya kita juga pergi dari sini deh," kata Bori menarik lengan bajuku. Aku yang masih kesal dengan apa yang barusan terjadi mencoba mengabaikan Bori. Tetapi perasaanku semakin tidak enak dikarenakan hari yang mulai gelap.
Kami memutuskan untuk pergi dari kantor polisi ini. Baru saja melangkah, kami dikejutkan dengan suara raungan yang cukup memekakkan telinga. Raungan yang berasal dari tempat yang jauh itu ternyata berasal dari badut bermata merah dengan gigi tajam. Kali ini badut yang kulihat sedang mengenakan pakaian polisi lengkap.
"LARI!!!" teriak Bori berlari meniggalkanku di belakangnya. Aku yang tersadar dari lamunanku segera mengikutinya dengan cepat.
Jalanan menanjak yang kami lalui membuat pergerakan kami melambat. Tapi itu tidak berlaku bagi Si Badut. Terlihat dari caranya berlari yang semakin lama semakin cepat.
Gerbang sudah terlihat di depan mata, dan badut yang mengejar kami juga tinggal berjarak beberapa meter saja dari kami. Kuarahkan revolver ini kearah badut itu dan menarik pelatuknya. Sebuah peluru melesat dengan cepatnya menembus kaki kanannya. Tembakan itu membuatnya terjatuh. Sesaat kemudian ia bangkit lagi dan mulai mengejar kami.
Kali ini bukan hanya satu badut, beberapa badut lainnya juga ikutan muncul di belakangnya. Aku tidak menyangka ternyata suara letusan peluru itu dapat menarik perhatian badut sebanyak ini. Hingga puluhan badut telah muncul untuk mengejar kami. Tidak ada kerjaan saja. Bukankah lebih baik mengistirahatkan tubuh di rumah ketimbang bermain kejar-kejaran seperti ini?
Kami akhirnya sampai di luar gerbang. Tak ada kendaraan di dekat kami saat ini. Dan sekumpulan badut itu semakin mendekat dengan cepat. Kami hanya bisa pasrah dan menerima takdir kami. Hingga sebuah van mini berwarna hijau melesat dan berhenti di depan kami. Pintu gesernya terbuka dan seorang wanita berteriak kepada kami, "Cepat, masuklah!"
Kami langsung menuruti perintahnya dan masuk ke van itu. Van ini melaju dengan kencangnya meninggalkan kantor polisi yang telah dikuasai oleh para badut.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya wanita yang telah menyelamatkan kami tadi. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna merah. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda menambah paras cantiknya. Sepertinya ia adalah seorang mahasiswa.
"Ya, kami baik-baik saja. Terima kasih," jawabku dengan napas yang masih belum teratur.
"Ahhh, untung saja mbak datang. Kalau tidak mungkin kami sudah menjadi satu saudara dengan badut-badut itu," Bori menimpali.
"Jadi, kalian mau kemana?" tanaya mas-mas yang duduk di kursi sopir.
"Tidak ada tujuan," balasku singkat sambil menatap keluar jendela ke arah gerombolan badut yang tertinggal di belakang.
"Yasudah, kalau begitu kalian ikut kami saja ya?" Kata mas yang duduk di sebelah sopir van ini.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
ZoClown [TAMAT]
HorrorBagaimana jika ketika kamu membuka mata dan semua mimpi burukmu menjadi kenyataan? Pilihan mana yang akan engkau pilih. Berdiam diri atau menghadapi. Riko akan menghadapinya!