15 | Badut dan Pertempuran

7 0 0
                                    

Gadis cilik dengan gaun putih melekat ditubuhnya berjalan dengan anggunnya menghampiri seorang pria yang mengenakan jas putih. Kaki-kaki kecilnya membawa menuju hadapan sosok itu lalu berlutut tepat di hadapannya. Wajah manisnya diarahkan ke bawah, menunjukkan kehormatan yang sangat mendalam.

"Mereka telah tiba, Master," katanya dengan nada imut tetapi mengandung keseriusan di dalamnya.

Di tangan kanan pria berkacamata hitam itu tergenggam secangkir minuman berwarna merah, dan sangat mirip seperti darah pada umumnya. Di goyang-goyangkan gelas itu secara perlahan membuat cairan merah yang ada di dalamnya menari kesana-kemari.

"Sambutlah mereka. Berikan sambutan hangat yang kita punya. Ini akan menjadi hal yang menarik bukan?" Pria itu meneguk habis minuman di tangannya dalam sekali tegukan.

***

Setelah sekian lama, akhirnya kami dapat juga menginjakkan kaki di tempat besar ini. Seperti dugaan kami semua, tempat luas ini sangat sepi. Mungkin percuma saja kami menuju tempat ini. Atau mungkin tidak.

Tepat setelah melewati pintu besar dengan daun pintu terbuat dari kayu, kami disuguhkan pemandangan yang mengerikan. Bukan darah yang kami lihat, atau mayat yang berceceran. Melainkan satu ruangan yang serba putih, tanpa sedikit pun perabotan atau barang-barang yang biasanya ada di kantor-kantor pada umumnya. Di seberang tempat kami berdiri, sebuah lift terbuka dengan lebarnya, menunggu seseorang untuk menggunakannya.

Karena tidak ada pilihan lain, kami berjalan dengan waspada menuju alat yang entah akan membawa kami kemana. Tidak ada hal aneh yang terjadi. Hingga jarak kami hanya sepuluh meter.

Pintu utama tempat kami pertama kali masuk tertutup secara tiba-tiba. Lampu yang menyinari kami dari atas langit-langit padam begitu saja, tergantikan lampu berwarna merah. Suasana menjadi lebih mencekam karenanya. Suara sirene tiba-tiba pecah di tengah keheningan. Semakin lama suaranya semakin keras. Dari kanan dan kiri kami muncul berbagai ZoClown. Mereka datang dari tembok yang tiba-tiba runtuh membuat lubang besar.

"Lari!" teriak Mas Agus lalu berlari seraya menembaki beberapa ZoClown yang mencoba untuk menghalangi jalan. Kami semua mengikutinya yang sudah kami anggap sebagai pemimpin.

Kami telah berada di dalam lift, tetapi lift tidak kunjung bergerak. Sudah berkali-kali kami menekan tombol secara acak, dan tidak ada perubahan. Gerombolan ZoClown kelaparan berjalan santai menghampiri kami. Aku mencoba untuk memperlambatnya dengan menembaki satu demi satu kepala mereka. Tetapi itu tidak ada gunanya. Mereka terlalu banyak!

Syukurlah, keberentungan masih berpihak dengan kami. Setelah aku menekan sekali tombol lift, pintu besi itu segera tertutup dan perlahan bergerak ke atas. Dari angka yang ditunjukkan di atas pintu lift, sepertinya kami akan dibawa menuju lantai 29 dari gedung ini.

Pintu lift terbuka sendirinya setelah tiba di tempat tujuan. Berbeda dengan ruangan sebelumnya, tempat ini lebih aneh lagi. Hanya lorong panjang yang ada pertigaan di ujungnya. Di samping kanan-kiri lorong terdapat banyak pintu dan juga kaca bening di sebelahnya.

Kami berjalan dengan hati-hati, takut jika ada sesuatu yang muncul dan menyerang kami. Kondisi di dalam setiap ruangan berbeda-beda. Ada yang hanya ruangan kosong serba putih, ada yang penuh dengan darah, ada juga yang gelap tanpa cahaya. Ada satu ruangan yang menarik perhatian kami semua, yaitu ruangan dengan meja operasi berada di tengah-tengah. Di atasnya terbaring seorang pria dengan perban menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian hidung dan mulut. Darah terlihat jelas menempel di setiap inci perban putih itu. Mulutnya menganga, mencoba mengucapkan sesuatu yang tidak dapat di dengar dari luar ruangan. Gigi-giginya juga telah hilang beberapa. Sungguh mengenaskan jika terus melihatnya.

ZoClown [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang