11 | Badut dan Sebuah Bulan

8 1 0
                                    

Dengan napas terengah-engah, Arim dan Ayuu menghampiri kami. Kabar buruk datang bersama mereka. ZoClown telah menguasai kapal ini!

Beberapa orang yang berasal dari bawah turut naik ke atas geladak kapal. Mereka memberitahu semuanya bahwa para ZoClown berada di atas kapal ini. Kepanikan tercipta begitu saja. Semuanya ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Para tentara yang kebetulan ada di kapal ini segera memerintahkan untuk menutup semua akses menuju geladak kapal. Semuanya segera menutup pintu yang menghubungkan bagian atas dengan bawah. Berbagai barang yang bisa digunakan untuk mengganjal pintu di taruh tepat di depan pintu. Tetapi sayang, sepertinya kami terlambat. Salah satu pintu terlambat ditutup dan para ZoClown menerobos masuk.

Dengan M16-nya, tentara-tentara itu menembaki para ZoClown. Darah bermuncratan kemana-mana, menghiasi dinding putih kapal. Beberapa warga sipil turut serta menghalau masuknya ZoClown, sementara sisanya menyiapkan sekoci untuk melarikan diri.

Anak-anak dan wanita dipersilahkan menaiki sekoci terlebih dahulu. Sementara yang lain masih sibuk menahan ZoClown yang mencoba masuk. Semua pintu yang ditutup sudah terbuka dan ZoClown semakin banyak. Sekoci pertama telah diturunkan. Beberapa sekoci lainnya juga sudah siap berlayar.

"Hei, cepat kesini!" teriak seseorang ke arah kami.

Kami bergegas menuju suara itu. Seorang pria terlihat tengah menyiapkan sekoci untuk kami. Tali-tali yang menahan secoki agar tidak bergerak kesana-kemari dilepasnya. Kami semua naik ke atas sekoci itu.

Dari kapal ia menarik tuas yang membuat sekoci turun perlahanan. Ia lalu melompat ke atas sekoci yang membuatnya terayun-ayun. Teteapi tiba-tiba sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Arim meloncat dari sekoci kembali ke atas kapal. Kami yang terlanjur bergerak turun tidak bisa melakukan banyak hal. Aku mencoba menembak beberapa ZoClown yang mencoba menyerang Arim menggunakan pistol Glock yang kuselipkan di celanaku.

"Arim! Ke-kenapa?" teriak Ayuu dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf Kak, aku sudah terinfeksi," katanya seraya menunjukkan lengannya yang telah tergigit. "Kak Riko, berhenti menembak. Hematlah peluru. Aku titipkan kakakku kepadamu," teriaknya dari ketinggian.

Saat ini hanya aku sajalah yang membawa senjata. Mas Agus dan Mbak Nadia meninggalkan semua senjatanya di mobil yang berada di dalam kapal. Aku saja hanya membawa pistol Glock dan katana pemberian Mas Xarvius. Aku selalu membawa katanan ini dipunggungku—katana ini dilengkapi dengan sarungnya dan juga tali. Walaupun belum pernah kugunakan, tetapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti membutuhkannya.

"Sudahlah, relakanlah Arim..." belum selesai aku berbicara ia langsung memotongnya.

"Arim adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini! Aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi. Huwaaaaaa," tangisnya pecah.

"Ya, aku tahu itu. Tetapi dia melakukan itu semua karena dia sayang padamu. Dia berkorban untukmu."

Ayuu menarik ingusnya yang keluar dari hidung. "Benarkah?"

"Benar, karena itu dia mengorbankan dirinya. Dia tidak ingin kamu terinfeksi." Aku mencobanya membuat lebih tenang,

Perlahan ia mulai membaik. Air matanya sudah tidak menetes lagi. Senyuman lega mengembang di wajah imutnya. Kini ia sedang berdoa mengharap keselamatan adiknya itu.

Aku mulai memperhatikan pria yang menolong kami. Pakaian ketat membuat badan kekarnya terjiplak jelas. Memiliki tatapan yang tajam dengan bekas luka berupa garis lurus melewati mata kanannya. Itu membuat dirinya tampak lebih garang. Bahkan Ayuu pun yang sikapnya sangat dingin—tetapi tidak setelah Arim pergi—juga takut sama pria berotot ini. Ia tidak ingin duduk dekat-dekat dengannya.

ZoClown [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang