Dua belas

5.1K 718 74
                                        

Arsen.

Namanya Arsen.

Seseorang yang tiba-tiba memelukku, seolah sudah mengenal diriku sejak lama.

"Kamu masih kaget karena kedatanganku, hmm?" Arsen mengusap puncak kepalaku.

Aku hanya tersenyum, tidak berani membalas perkataannya.

Aku tidak mengingatnya.

Bukan.

Lebih tepatnya, aku tidak mengenali Arsen.

Dia adalah satu-satunya karakter dalam novel yang tidak kukenali. Bukan karena intensitasnya di dalam novel yang tidak terlalu banyak, melainkan karena nama Arsen tidak pernah disebutkan di dalam novel. Jika saja Ken tidak sengaja menyebutkan nama Arsen tadi, aku tidak akan pernah mengenali sosok Arsen ini.

"Oh," Arsen mengalihkan pandangannya pada Aira. "Kamu pasti Aira," tebaknya dengan senyum lebar. "Kenalkan, aku Arsenio. Teman sejak kecilnya Elora."

"Oh, a-aku kakak---"

"Kamu nggak perlu kenal dengannya, Arsen," Oma memotong perkataan Aira. "Dia tidak penting."

"Oma ...." Aku melirik Aira yang tengah menundukkan kepalanya. Lama kelamaan aku sedikit kasihan pada Aira karena Oma tidak memperlakukannya dengan baik.

Namun, itu bukanlah fokus utamaku saat ini. Keberadaan Arsen sangat menggangguku. Lelaki ini adalah karakter yang tidak ada di dalam novel, meski dia mengaku sebagai teman sejak kecil Elora. Bahkan namanya saja tidak pernah disebutkan. Lalu selama ini dia ada di mana? Mengapa tiba-tiba dia datang?

"Kenapa tiba-tiba kembali?" Bukan aku, Ken lah yang bertanya. Kelihatannya mereka memang saling kenal, berarti benar jika Arsen memang teman sejak kecil Elora.

Arsen tersenyum dan melirikku yang menantikan jawabannya. "Aku ingin bersama sahabat baikku," jawabnya. "Karena itu aku kembali."

Sahabat baik? Aku? Elora?

"Udah lama banget nggak dengar kabar dari lo," Darrel menimpali. "Kelihatannya lo udah banyak berubah, Arsen."

Arsen mengangkat bahunya. "Kamu juga sudah banyak berubah, Darrel," balasnya. "Aku nggak ingat kalau kamu dekat dengan Elora." Arsen kemudian mengalihkan pandangan dan menatap Ken dengan kepala dimiringkan. "Kamu juga Ken. Agak aneh melihatmu berada di kamar Elora."

Ken tidak langsung menjawab. Entah hanya perasaanku saja, mereka saling menatap tajam. Mungkin mereka saling mengenal, tetapi kelihatannya hubungan mereka tidak begitu baik. Apa ada kaitannya dengan sikap buruk Elora, ya?

"Mereka menjengukku," akhirnya aku bersuara setelah mempertimbangkan banyak hal. Arsen adalah teman baik Elora, akan terasa aneh jika aku tidak memberinya tanggapan yang pantas.

"Ah, iya," Arsen menoleh ke arahku. "Aku dengar dari Oma kalau kamu sakit. Bagaimana kondismu sekarang?"

"Sudah baikan," jawabku. "Bagaimana kabarmu, Arsen?"

Kedua mata Arsen meredup, seperti tengah memikirkan sesuatu yang menyakitkan. "Nggak begitu baik," gumamnya pelan. "Tapi, perasaan membaik sejak melihatmu lagi," ucapnya sambil meraih sebelah pipiku dan mengusapnya perlahan.

"Kamu selamat," dia menggumam pelan, lebih terdengar seperti bisikan. "Aku belum terlambat."

Keningku mengerut, bingung. Aku selamat? Apa maksud Arsen?

"Karena Arsen ada di sini," Oma berkata dengan ceria. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"

"Ide yang bagus, Oma!" Arsen antusias menyetujui ide Oma.

I Become an ExtraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang