9th

22 5 2
                                        

Cahaya matahari menembus kamar Mirae, seakan menyuruh Mirae untuk bangun. Mirae mengedipkan matanya beberapa kali. Ia memastikan keadaan sekitar. Ada tangan yang terjulang dari sela di lehernya. Ia pun terkejut. Mirae berteriak sejadi-jadinya, membuat sang 'empunya' tangan tersebut bangun.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Jaeyoung panik. Wajahnya masih bengkak dan rambutnya masih berdiri.
"Tidak. Aku masih belum terbiasa." ucap Mirae malu.

*fyi : mrka berdua JUST tidur bareng. ga ngapa2in*

Jaeyoung terkekeh melihat tingkah Mirae.
"Kau tidak ada jam kuliah hari ini?" tanya Jaeyoung.
"Ada. Nanti siang." jawab Mirae.
"Kau mau roti bakar?" sambung Mirae.
"Tidak. Aku mau 'kau'." jawab Jaeyoung dengan smirk mesumnya.
Hampir saja Mirae ingin melempar pisau yang ia pegang.
"Hei. Kupikir kau pemalu. Ternyata tidak." protes Jaeyoung kemudian pergi ke Mirae dan memeluk Mirae dari belakang.
"Aku seperti ini hanya di depan satu orang." jawab Mirae.
"Aku?" tanya Jaeyoung
"Tidak. Lia." jawab Mirae ketus.
"Aku bagaimana?" tanya Jaeyoung dengan nada kecewanya.
"Kau tidak bisa dihitung sebagai manusia" jawab Mirae, kemudian mereka tertawa. Pagi mereka dihiasi canda dan tawa bagai pasangan suami-istri.

_______________________________________

Mirae mengawali harinya di kampus seperti biasa. Lia juga ceria seperti biasa. Kafe tempatnya bekerja juga berjalan mulus seperti biasa.
Namun ada sedikit perubahan di hidup Mirae. Seorang lelaki menunggu di taman dekat tempat tinggalnya. Jaeyoung, seseorang itu, tersenyum lebar ke arah Mirae. Mirae berlari menuju Jaeyoung dan langsung memeluknya.

"Mau teh?" tanya Mirae.
"Aku mau kau." jawab Jaeyoung.
"Jangan bicara omong kosong. Mau teh tidak?" tegas Mirae.
"Ya. Ya. Pacarku ini galak ternyata." Jaeyoung meledek Mirae. Ia mencubit pipi Mirae dan memeluknya.
Mirae menatap Jaeyoung sembari menyipitkan matanya, kemudian tersenyum. Tak lama bibir mereka bersatu.

Ceklek.

Ada suara pintu terbuka. Tak disangka, Lia datang ke rumah Mirae. Kantong yang berisi bir kaleng itu pun terlepas dari tangan Lia. Ia tak menduga akan disuguh 'pemandangan' di rumah Mirae. Sama kagetnya dengan Lia, Jaeyoung dan Mirae pun mati kutu.

"Mulai kapan kalian pacaran?" Lia menginterogasi.
"Beberapa hari yang lalu." jawab Jaeyoung.
"Baru beberapa hari, beraninya kalian c-ciuman?!" amuk Lia.
"Tidak, bukan seperti itu. Kami-",
"Diam!" Lia memotong dialog Mirae.
"Mirae, kupikir kau orang yang menepati perkataanmu" Lia dramatisir,
"Tapi aku tetap bangga. Akhirnya kau mencintai laki-laki" sambung Lia.
Mirae hanya mengangguk sambil tersenyum.
"By the way, kenapa wajahmu tak asing?" Lia menunjuk Jaeyoung.
"Ah, anu, aku belakangan cukup sering muncul di TV jadi yah.. haha" Jaeyoung tertawa garing.
"Jangan-jangan kau?" Lia menerka-nerka.
"Iya, aku Lee Jaeyoung" Jaeyoung memamerkan senyumnya.
"Astaga! Astaga!" Lia memukul pundak Mirae berkali-kali.
"Sakit tahu-!!" omel Mirae.
"Kau perempuan licik! Bagaimana kau mendapatkannya? Aku iri!" ucap Lia.
"Haha. Ada sesuatu yang terjadi" jelas Mirae ambigu.
"Apa?! Kalian melakukan 'itu'? Dan ada janin-"

"Tidak!"
"Tidak!"

Mirae dan Jaeyoung bersamaan membantah pikiran liar Lia.
"Baiklah. Kalau begitu aku tenang." Lia menghela napas lega.

Malam mereka bertiga dihiasi tawa dan kaleng-kaleng bir.
Jaeyoung sudah terkapar tak berdaya di sofa ruang tamu. Mirae dan Lia masih berbincang.
"Mirae, aku sepertinya harus kembali ke rumah." ucap Lia dalam keadaan mabuk.
Mirae mengangguk. "Naik taksi. Jangan mengikut pria lain. Oke?" kata Mirae.
"Yes, Sir!" Lia memberi hormat layaknya tentara. Lia keluar dari tempat tinggal Mirae. Lia melihat sekelilingnya yang sudah sepi. Ia tetap berjalan keluar dari apartemen tersebut. Sambil sempoyongan, i Lia menunggu taksi di pinggir jalan. Tepat saat itu juga, ada segerombol pria dengan style seperti preman. Mereka melihat Lia seorang diri.
"Oi! Gadis muda? Sendirian? Apa kau mau bermain dengan kami? Sebentar saja." ucap seorang yang nampaknya ketua dari gerombolan tersebut. Lia menghiraukan suara cecunguk itu. Pria itu mencolek lengan Lia. Sontak Lia kaget.
"Kenapa kaget begitu? Orang akan berpikir kami jahat. Bukankah kau juga mabuk?" pria itu menggapai legan Lia. Lia memberontak sejadi-jadinya. Ia berteriak minta tolong namun sia-sia. Di tengah malam ini tak ada seorang pun yang lewat.
Lia diseret ke gang sempit terdekat.
Ia menangis sejadi-jadinya. Dua orang memegang lengan Lia, membuat preman itu leluasa melihat wajah Lia. Preman itu menyingkap rambutnya.
Tersisa sedikit jarak diantara wajah mereka.

"Preman br*ngs*k! K*parat si*l*n! Apa yang kalian lakukan!!!"
.
.
.
_______________________________________

maap atas keterlambatan author ㅠㅠ
yahh walopun ga ada yg read jg:v, tp author ttp mnta maap krna telat aplot hikd :(:(

jgn lupa voment, krisar untuk cerita abal2 kali ini

makasiii:)

Miss FortuneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang