2. Malu

1.1K 142 263
                                        

"Terkadang, manusia hanya bisa menilai hasil. Tanpa mau melihat perjuangan yang ada di baliknya."

Dilara mengetuk pintu rumah beberapa kali. Tak lama, pintu berwarna cokelat tua itu terbuka lebar. Seperti biasa, Mamanya selalu menjadi orang pertama yang menyambut kedatangannya ketika sampai di rumah.

"Assalamu'alaikum, Mama." Dilara mencium punggung telapak tangan sang Mama.

"Wa'alaikumussalam, sayang." Wanita berusia empat puluh tahun itu, mengelus puncak kepala Dilara penuh kasih sayang.

Dilara melingkarkan tangannya ke pinggang sang Mama. Matanya mendadak panas, mengingat kejadian memalukan saat ia berada di sekolah tadi.

"Mama," lirihnya. Dilara menenggelamkan wajahnya di perut datar Adara.

"Kamu kenapa sayang?"

Menarik napas dalam, Dilara melepaskan pelukannya. Ia tidak mau menangis di depan Mamanya, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang yang paling ia cintai. "Nggak papa, Ma. Dilara cuma kangen aja sama Mama."

"Padahal baru berapa jam kamu sekolah, sayang." Adara tersenyum lebar. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia bisa merasakan, bahwa saat ini Dilara sedang tidak baik-baik saja.

"Iya, Ma. Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya."

Adara mengangguk. Sebelum Dilara pergi ke kamar, ia mencium pipi kiri putrinya penuh kasih sayang.

Sesampainya di kamar, Dilara melemparkan tas sekolahnya ke sembarang arah. Masa bodoh jika buku-buku yang berada di dalamnya rusak. Lagi pula, minatnya untuk belajar sedang tidak ada.

Dilara membuka lemari baju, mengambil kaos berwarna merah muda dari dalam sana. Tak lupa, ia juga mengambil celana bahan berwarna hitam untuk dikenakan. Setelahnya, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Selang sepuluh menit kemudian, Dilara keluar dari kamar mandi dengan baju santai yang sudah melekat di tubuhnya. Dilara mengambil tas yang tergeletak mengenaskan di lantai. Setelah ia pikir-pikir, beli buku itu harganya mahal dan membutuhkan uang. Mencari uang juga tidak mudah. Jadi, Dilara tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya.

Dilara mengingat kejadian di kantin tadi.

Ia malu. Benar-benar malu.

"Harusnya tadi, gue balas perbuatan adik kelas songong itu. Biar dia kapok dan nggak ngulangin kesalahan yang sama."

Tapi sayangnya sudah terlambat. Savana sudah menjatuhkan harga dirinya di depan banyak orang. Apa esok hari orang-orang akan menghina Dilara? Dan mengatakan bahwa Dilara adalah orang yang lemah?

Merebahkan dirinya di kasur, pikiran Dilara semakin kusut sekusut-kusutnya. Ia terlanjur malu pada dirinya sendiri. Dilara menangis, namun tidak bersuara.

Dilara meremas selimut kuat-kuat. Dadanya semakin sesak, isak tangisnya tidak bisa ditahan lagi.

"Savana sialan! Tega-teganya mencoreng nama baik gue di depan banyak orang!"

"Adik kelas sialan!"

"Terkutuk!"

"Ngobak aja di neraka sana!"

•••

Kedua mata Dilara terbuka lebar. Ia mengucek mata, membersihkan kotoran yang berada di sudut matanya.

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang