7. Anak Baru

731 82 242
                                        

"Hal yang paling menjengkelkan adalah, ketika orang lain mengganggu kenyamananmu. Bertanya hal tidak penting dan melakukan hal konyol yang tidak masuk akal."

-Dilara dalam mode jengkel-

Mengembuskan napasnya berat, Dilara mengelap keringat yang membanjiri dahinya. Ia meletakkan tasnya di bangku, lalu duduk di sana sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangan.

Netra bundarnya, melirik jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangannya. "Untung gue nggak telat," ungkapnya lega.

"Bel masuk masih lama, mendingan gue tidur dulu."

Menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan, perlahan, kedua mata Dilara terpejam rapat.

Sepuluh menit kemudian.

Hana mengguncang tubuh Dilara, membuat sang empunya terbangun dari tidurnya.

Dilara menguap, ia mengucek kedua matanya kasar. "Kenapa lo gangguin gue sih?"

Mulut Hana menganga lebar, apa Dilara sudah kehilangan akal? Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Lima menit lagi, bel bakalan bunyi. Masih untung Hana bangunin. Coba kalau nggak, pasti Dilara bakal kena semprot sama Bu Sadiah."

"Yang diomelin gue ini, kenapa lo yang repot?"

Hana berdecak malas, Dilara ini memang tidak tahu diri. "Iya, Hana tau. Tapi tetep aja, Hana sedih kalau liat Dilara kena semprot sama Bu Sadiah!"

Alis tebal milik Dilara, terangkat sebelah. "Gue nggak minta dikasihanin sama lo, Hana Danisya!"

Hana memanyunkan bibirnya. Mengapa bisa, semesta mempertemukannya dengan orang seegois Dilara?

"Intinya, sebagai seorang teman yang baik, Hana udah melakukan hal yang benar."

Hana meninggalkan Dilara, cewek berambut panjang itu, berjalan menuju bangkunya. Masa bodohlah jika Dilara tidak menghargai perbuatan mulianya. Yang penting, ia sudah melakukan hal yang baik.

"Hana." Suara Dilara menghentikan langkah kakinya. Hana menoleh, sudut bibirnya terangkat sebelah. Pasti Dilara akan mengucapkan, terima kasih kepadanya.

"Apa?" tanya Hana to the point.

"Lo bukan teman gue."

"Tapi Hana ...."

Suara bel berbunyi, membuat perkataan Hana terputus. Dilara mengabaikan Hana, ia mengambil buku paket Bahasa Indonesia, yang sudah dikerjakan oleh Ardian dari dalam tasnya.

Dilara duduk sendiri, ia tidak memiliki teman sebangku. Bukan karena Dilara dikucilkan oleh teman-temannya, tetapi karena itu sudah menjadi keputusan Dilara sendiri. Ia melarang setiap orang yang ingin duduk dengannya, mengusir orang tersebut dengan perkataan kasar dan menusuk hati.

Dilara tidak bisa mempercayai siapa pun. Baginya, semua orang itu munafik dan akan begitu sampai kapan pun.

Bu Sadiah memasuki kelas, netranya mengedar ke seluruh ruangan kelas. "Selamat pagi semuanya," sapanya dengan suara lembut.

Bagi Dilara, Bu Sadiah juga termasuk orang munafik di dunia ini. Meski suaranya selembut sutra, tetapi sikapnya tidak ada lembut-lembutnya sama sekali. Ciri-ciri orang munafik, memang seperti itu 'kan?

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang