"Semakin aku mencintaimu, semakin dalam pula aku terjatuh."
-Dilara Zehran-
"Ini bukunya segini doang 'kan, Ra?"
Ardian sibuk memasukkan buku-buku tebal Dilara ke dalam tas. Menyusun benda tersebut, sampai benar-benar rapi. Perempuan berkuncir kuda itu mengangguk, jarinya masih sibuk mengetik di atas layar ponsel.
Dilara menjeda aktivitasnya, memikirkan kata-kata yang menarik untuk ditulis. "Kenapa gue jadi seneng nulis?" tanyanya pada diri sendiri.
Sudah hampir dua minggu belakangan ini, Dilara sering mendapatkan ide-ide bagus di kepalanya. Ia juga sering, mempublikasikan karya tulisannya di akun wattpad.
Meskipun pembacanya tidak sebanyak penulis-penulis terkenal lainnya, tetapi Dilara sangat bersyukur, karena masih ada satu atau dua orang yang mau membaca karya tulisnya.
Semua memang butuh proses, lagi pula, tujuannya menulis bukan demi kepopuleran semata. Bagi Dilara, menjadi terkenal itu adalah bonus dari usahanya. Selebihnya, ia ingin menyemangati orang-orang yang terluka di luar sana, melalui setiap kalimat yang ia tulis.
Ardian membuka tempat pensil Dilara, mengeluarkan seluruh isinya, lalu mencari pensil yang sudah tidak lancip lagi untuk diserut. Laki-laki itu berdecak beberapa kali, kepalanya menggeleng kecil, melihat pensil Dilara yang sudah kropos--akibat gigitan gigi tajam Dilara.
"Lo kenapa sih, Ra?"
Dilara menoleh Ardian sekilas. "Kenapa apanya, Bang?"
"Ini." Ardian menunjukkan pensil tersebut, kepada Dilara. "Kenapa sampe kayak begini?"
Dilara terkekeh, ia kembali memfokuskan pandangannya ke layar ponsel. "Biasalah, Bang. Kalau orang gabut emang kayak gitu. Habisnya, Dilara bosen banget, Bang."
Ardian mendesis pelan, ia mengambil rautan berwarna merah muda, lalu meraut pensil Dilara satu per satu. "Rautan lo udah kurang tajem nih, Ra. Nanti gue beliin yang baru ya. Kebetulan, pulang kuliah nanti gue mau ke toko buku."
Lagi, perempuan berkulit putih itu mengangguk, tanpa menoleh ke arah Abangnya--yang masih sibuk membenahi peralatan sekolahnya. "Jangan lupa beli yang warna pink, Bang."
"Kalau nggak ada?"
Dilara menggigit dinding pipi bagian dalamnya. Sepertinya, tidak ada warna yang lebih indah, selain merah muda, putih dan hitam.
"Putih juga nggak papa, Bang."
Ardian menggeleng, tangannya sibuk meraut pensil Dilara yang sudah pendek, sependek jari telunjuk. "Hitam aja deh, kalau putih cepat kotor, Ra."
Dilara berpikir sejenak.
"Yaudah deh nggak papa. Asal jangan warna kuning aja, Bang."
"Why?"
"Entah kenapa, Dilara nggak suka aja sama warna itu."
Ardian mengangguk paham. Ia baru ingat, kalau Dilara memang tidak menyukai warna kuning. Warna kuning, selalu mengingatkannya pada boneka pisang pemberian Evan.
"Yaudah, nanti gue cariin yang warna pink, sekalian beliin pensil buat lo sama Azra."
"Abang mau beliin dia juga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dilara [SEGERA TERBIT]
Ficção AdolescentePart sudah lengkap. Dont copy my story, please. #1 in Dilara Dilara Zehran, seorang gadis cantik yang memiliki daya ingat lemah. Namun sialnya, ia tidak bisa melupakan Evan Ainsley--mantan pacarnya. Semenjak hubungannya dan Evan hancur, Dilara beru...
![Dilara [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/212433030-64-k917990.jpg)