8. Misi Menaklukkan Dilara

731 66 220
                                        

"Sebuas-buasnya anak harimau, jika dibesarkan dengan penuh kasih sayang, pasti akan menjadi jinak."

-Ersan yang tidak pantang menyerah-

"Ersan nggak papa?" Hana membantu Ersan berdiri, membuat beberapa pasang mata, melemparkan tatapan setajam silet ke arahnya.

"Najis caper banget!"

"Dari dulu nggak pernah berubah, padahal udah banyak yang benci sama dia."

"Orang sok polos emang suka caper!"

"Nggak banget temenan sama orang kayak begitu!"

Mengembuskan napas kasar, Hana mengabaikan perkataan orang-orang yang tidak menyukainya. Ia tetap membantu Ersan berdiri, meski hatinya terasa sakit, mendengar perkataan pedas teman-teman perempuan di kelasnya.

"Makasih banyak," ucap Ersan sambil tersenyum.

"Kembali kasih."

Sambil merapikan poninya yang berantakan, Hana kembali ke tempat duduknya. Ia sendiri tidak tahu, mengapa orang-orang di kelas ini selalu membencinya? Mengapa semua yang ia lakukan, selalu salah di mata mereka semua?

"Hana!" Suara Bu Sadiah, membuat Hana menghentikan langkah kakinya. Senyumnya terus mengembang, tak mempedulikan tatapan orang-orang yang membencinya.

"Iya, kenapa, Bu?" sahutnya ramah.

Hana memang begitu, ia selalu berbuat baik kepada siapa pun. Tapi seringkali, kebaikannya dipandang sebelah mata oleh orang lain.

"Izinkan Ersan duduk sama kamu."

Hana mengangguk, ia kembali kepada Ersan. Detik berikutnya, Hana menarik tangan cowok itu untuk duduk di sampingnya.

"Ersan mau 'kan, duduk sama Hana?"

Pertanyaannya, membuat semua orang semakin membencinya. Namun, Hana sama sekali tidak peduli. Telinganya sudah biasa menerima hujatan pedas, yang keluar dari mulut orang lain.

"Gue mau duduk sama lo. Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

Ersan mendekati Hana, mengikis jarak yang tercipta di antara mereka berdua. "Jam istirahat nanti, lo harus temuin gue di halaman belakang sekolah," bisik Ersan, tepat di telinga Hana.

Jika tadi Hana yang menarik tangan Ersan, sekarang posisi mereka berbalik. Kini Ersan yang menarik tangan Hana, mengajak cewek berambut panjang itu untuk duduk bersamanya.

"Dasar caper!"

•••

"Ersan, kenapa ngajak Hana ke sini?"

Hana merapikan poninya yang berantakan, akibat tertiup angin. Angin di sini memang sangat kencang, jadilah rambut tipisnya berterbangan seperti ini.

"Hana, udah berapa lama lo kenal sama Dilara?"

Hana mengedipkan matanya beberapa kali. Otaknya berpikir keras--mengingat sudah berapa lama ia mengenal gadis egois itu.

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang