"Aku pelupa, jika bukan tentangmu."
Kelas XI IPA dua, sudah selesai menjalankan Penilaian Tengah Semester di hari terakhir. Dilara keluar dari dalam kelas, menatap nanar koridor SMA Lavender yang terlihat ramai.
Tubuhnya bersandar di dinding, pelajaran di hari terakhir benar-benar membuat kepalanya pening.
"Mentang-mentang hari ini hari terakhir ujian, dua pelajaran laknat dijadiin satu di hari yang sama," keluh Dilara.
Anak mana yang tidak akan mengeluh? Jika pelajaran Matematika dan Fisika disatukan di hari yang sama sekaligus. Semalam, Dilara tidak tidur sama sekali. Ia hanya berkutat dengan buku, menghafal setiap rumus Fisika dan Matematika.
Tapi ketika berhadapan dengan soal ujian, semua rumus yang sudah dihafalkannya dengan susah payah, menghilang entah ke mana?
Ingatan Dilara memang sangat lemah, jika bukan tentang Evan.
Untungnya, Hana tidak keberatan memberi semua jawaban kepada Dilara. Cewek berambut panjang itu memang baik, meski Dilara sering memakinya dengan perkataan kasar.
Seseorang menyerahkan satu botol air mineral dingin kepadanya. Dilara mendongak, menatap lekat wajah laki-laki itu.
"Buat gue?" tanyanya ragu.
"Iya. Otak lo pasti panas 'kan? Karena rumus yang udah lo hafalin, hilang semua."
Dilara mengabaikan Evan, ia menerima air mineral yang diberikan oleh laki-laki itu. Tangan mungilnya, memulir tutup botol air mineral dengan susah payah. Keras, sepertinya ia tidak memiliki banyak tenaga.
Evan yang peka dengan situasi, langsung mengambil alih botol air tersebut dari tangan Dilara. "Sini gue bukain." Suaranya lembut, membuat Dilara gagal move on lagi.
Selalu saja seperti ini.
Setelah tutupnya tebuka, ia menyerahkan kembali botol tersebut kepada Dilara. Dilara tersenyum lebar, ia menenggak air mineral itu sampai habis tak tersisa. Percayalah, sejak tadi tenggorokannya terasa kering.
"Sehaus itu ya, Ra?" tanya Evan ragu.
"Iya, benar kata lo, otak gue rasanya panas. Gimana nggak panas? Semalam gue nggak tidur sama sekali. Gue udah berusaha hafalin semuanya, biar pas ulangan gue nggak nyontek temen. Tapi ternyata, semua perjuangan yang udah gue lakuin sia-sia. Gue tetap nggak bisa ingat semuanya dengan baik, gue emang nggak becus ngapa-ngapain."
Pandangannya menunduk, menekuri lantai yang sedikit kotor. Evan menatap Dilara dengan perasaan iba, ia tahu betul kalau saat ini Dilara sedang kecewa.
"Gue yakin, Ra. Suatu saat nanti, lo pasti bisa menghafal semuanya. Suatu saat nanti, usaha lo nggak akan sia-sia." Evan menepuk bahu Dilara, meyakinkannya.
"Hanya ada satu hal yang nggak bisa gue lupain di dunia ini, Van."
Sebelah alis tebal milik Evan terangkat. "Apa, Ra?" tanyanya.
Dilara menatap manik cokelat milik Evan. Mengunci tatapan laki-laki itu, menggunakan netra sendu berwarna cokelat miliknya.
Dilara merogoh sakunya, mengambil ponsel berwarna putih dari dalam sana. Ia membuka kamera depan, memberikan ponselnya kepada Evan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dilara [SEGERA TERBIT]
Novela JuvenilPart sudah lengkap. Dont copy my story, please. #1 in Dilara Dilara Zehran, seorang gadis cantik yang memiliki daya ingat lemah. Namun sialnya, ia tidak bisa melupakan Evan Ainsley--mantan pacarnya. Semenjak hubungannya dan Evan hancur, Dilara beru...
![Dilara [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/212433030-64-k917990.jpg)