"Layaknya hukum newton 3. Untuk setiap aksi, selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Maka lihatlah, apa yang bakal gue lakuin sama lo sekarang juga."
-Manusia yang dendam kesumat-
Pipinya ditepuk beberapa kali. Perlahan tapi pasti, kedua mata sembab Dilara kian terbuka. Ia menatap nanar, dua orang anak manusia yang berdiri tegak di samping tubuhnya.
"Bangun, Ra. Ini waktunya pulang."
Mengedarkan pandangan ke sekitar, Dilara mengubah posisinya dari telentang menjadi duduk. Ia baru sadar, kalau saat ini ia masih berada di rooftop sekolah.
Jam digital berwarna hitam, yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 16.45. Itu artinya, sudah tiga jam lebih, Dilara tidur di rooftop.
Lagi, Dilara melirik cewek bertubuh pendek, yang berada di samping Evan. Ia adalah Naya, cewek yang sudah berhasil menaklukkan Evan. Tubuhnya dibalut jaket kebesaran, yang Dilara yakini jaket tersebut milik Evan. Dulu, waktu Dilara masih berstatus sebagai pacarnya. Laki-laki itu juga pernah memasangkan jaket tersebut, di tubuhnya.
"Cepet lo pulang, dikit lagi hujan."
Dilara memeluk tubuhnya, yang terasa dingin. Langit kelabu, membuat suhu di sekitarnya mendadak rendah.
"Anterin gue pulang, Evan." Raut wajahnya memelas. Laki-laki bertubuh tinggi itu langsung menggeleng. "Gue nggak bisa," tolaknya cepat.
Dilara menunduk, meredam rasa sakit yang kembali menghantam hatinya. "Tapi, Abang gue nggak bisa jemput."
Evan menggeleng lagi. Tangan kanannya, merangkul bahu Naya. "Gue juga nggak bisa. Gue harus nganterin Naya pulang."
Sepenting itukah Naya bagi Evan?
"Tapi sebentar lagi hujan turun. Gue takut sakit, kalau kehujanan, Evan."
Evan mengambil payung berwarna biru, dari tangan Naya. Menyerahkan payung tersebut, kepada Dilara. "Lo pakai ini aja."
"Tapi, tubuh gue juga dingin. Gue mau pakai jaket yang itu." Dilara menunjuk jaket kebesaran, yang membalut tubuh Naya.
"Naya lebih membutuhkan jaket itu." Evan menyelipkan rambut Naya, ke belakang telinga.
Dengan sangat terpaksa, Dilara menganggukkan kepalanya. "Yaudah nggak papa, lo pulang duluan aja. Anterin Naya sampai ke rumah, jangan sampai dia sakit karena kehujanan."
Evan tersenyum lebar, kemudian mengangguk senang. "Yaudah, jaga diri lo baik-baik." Ia menarik tangan Naya. Langkah kakinya terhenti, ketika Dilara memanggil namanya kembali. Ia menoleh ke Dilara, yang tengah tersenyum kecil.
"Gue nggak butuh payung ini. Lo ambil aja, gue takut lo sakit karena kehujanan." Dilara menyerahkan payung milik Naya, kepada Evan.
Evan mengangguk, mengambil payung yang Dilara berikan. Setelahnya, ia menarik tangan Naya untuk pergi bersamanya.
"Hati-hati, Evan."
•••
Dilara berjalan, menabrak derasnya air hujan yang menumbuk bumi. Sebentar lagi, matahari akan kembali ke peraduannya. Tapi sampai saat ini, langkah kakinya masih belum memiliki tujuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dilara [SEGERA TERBIT]
Teen FictionPart sudah lengkap. Dont copy my story, please. #1 in Dilara Dilara Zehran, seorang gadis cantik yang memiliki daya ingat lemah. Namun sialnya, ia tidak bisa melupakan Evan Ainsley--mantan pacarnya. Semenjak hubungannya dan Evan hancur, Dilara beru...
![Dilara [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/212433030-64-k917990.jpg)