6. Kebahagiaan Yang Sebenarnya

835 89 267
                                        

"Ketika kamu sudah berada di titik lelah, menghadapi dunia yang seringkali menyudutkanmu. Maka kembalilah, ke tempat di mana orang-orang di dalamnya bisa memberikan rengkuhan hangat, di saat kamu terluka."

-Ardian yang terlanjur bijak-

"Kenapa sih, Kak Dilara nggak pernah bisa move on dari Kak Evan?"

Dilara melirik sinis ke arah Azra, yang tengah sibuk menyantap makanannya. Dilara mengabaikan, ia kembali melanjutkan kegiatan makannya.

"Kak Dilara kok nggak jawab pertanyaan Azra sih?"

Namanya Azra Sezen. Anak nomer tiga atau terakhir, di keluarga ini. Bagi Dilara, sikap menjengkelkan Azra sudah mendarah daging pada dirinya. Nyaris setiap hari, Dilara dibuat kesal olehnya.

"Kak Dilara ...."

Azra itu bawelnya luar biasa. Mulut adiknya yang satu ini, memang tidak bisa dijaga satu hari saja. Dalam hati Dilara, terbersit rasa ingin mendorong Azra ke jurang, sampai ia tidak bisa kembali lagi. Tapi sepertinya, Dilara tetap menyayangi Azra--adik kandungnya.

"Kak?"

"Berisik Azra! Mulut lo nggak guna benget!" bentak Dilara, yang sudah kelewat kesal. Cewek berbaju hijau botol itu, hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

"Hey, kenapa kalian ribut? Ini masih pagi loh. Dilara, kamu nggak boleh kasar sama adikmu. Azra, kamu juga jangan bikin Kakakmu emosi," ucap Wanita berusia empat puluh tahun itu, menengahi.

"Nggak tau tuh, Ma. Orang aku nanya baik-baik, eh dianya marah. Kalau udah hipertensi, baru tau rasa!"

Dilara semakin jengkel.

Adara meletakkan mangkuk berisi sayur sup panas di atas meja. Perdebatan kedua putrinya di pagi hari, membuat kepalanya sedikit pening. "Memangnya kalian nggak capek, berantem terus setiap hari?"

"Dilara nggak bakalan marah, Ma. Kalau Azra nggak mulai duluan," ucap Dilara membela diri.

Azra tidak terima, enak saja Dilara menyalahkannya. "Kak Dilara aja yang baperan. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngegas, dikit-dikit jangan minum obat, pakai balsem leng."

Adara terkekeh, ia geleng-geleng kepala karena perkataan putrinya. "Kok jadi promosi, Nak?"

Azra tertawa, mulutnya memang tidak bisa dikendalikan. Setiap hal yang ada di pikirannya, selalu ia katakan apa adanya. Sepertinya, keceplas-ceplosannya ini memang menurun dari Mamanya.

"Ma?" panggil Azra.

Adara menarik kursi, lalu duduk di samping Dilara. "Kenapa?" tanyanya.

"Dulu Mama juga kayak aku ya? Bawel dan ceplas-ceplos kalau ngomong?" tanya Azra percaya diri.

Dilara melirik sinis Azra, yang berada di seberangnya. "Idih, pengin banget disama-samain," cibirnya tak suka.

Kedua alis tebal milik Azra terangkat. "Bilang aja Kak Dilara sirik sama Azra, karena nggak nurunin sifatnya Mama!"

"Tapi wajah gue cantik. Mirip sama Mama!" ledek Dilara sambil menjulurkan lidahnya.

"Cantikan Azra!" protes Azra.

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang