13. Mengakui Kesalahan

568 62 215
                                        

Sebelum membaca part ini. Aku mau tanya sesuatu sama kalian semua.

Menurutmu, apa cerita ini layak dibaca? Dan bagaimana perasaan kamu, ketika membaca cerita ini?

Sejauh ini, tokoh siapa yang sudah berhasil membuatmu geram?

Tokoh siapa, yang sudah berhasil membuatmu jatuh cinta?

Kalau sudah dijawab. Silakan lanjut membaca, semoga kalian suka.

"Hanya orang pecundang, yang tidak mau mengakui kesalahannya."

-Evan Ainsley, manusia yang terlanjur tampan-

Motornya berhenti, di depan rumah bernuansa hitam putih yang terlihat sepi. Sambil memegang kedua bahu Evan, Dilara turun dari motor dengan hati-hati.

Hujan sudah berhenti, sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi sampai saat ini, aroma tanah basah, masih bisa dirasakan oleh keduanya.

"Makasih banyak, Evan. Karena lo udah mau nganterin gue pulang."

Evan mengangguk, ia melepaskan helm berwarna hitam yang berada di kepala Dilara. "Gue mau mampir sebentar. Boleh?" tanya Evan. Suaranya berat, tapi lembut. Membuat Dilara gagal move on lagi.

Pandangan keduanya, saling beradu. Evan menatap lekat netra cokelat milik Dilara, yang terlihat sendu. Ia tahu betul, kalau saat ini perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.

"Nggak usah mampir, Evan. Ini udah malam. Lagi pula, baju lo udah basah semua. Mendingan lo pulang, daripada nantinya sakit."

Kedua alis tebalnya menukik. Jemari Evan yang lentik, mengetuk-ngetuk speedometer motornya. "Kenapa lo masih mikirin gue? Padahal, semua ini terjadi gara-gara gue."

Dilara menggeleng, ia menelan ludah dengan susah payah. "Lo nggak salah. Semua ini salah gue, karena terlalu kasar memperlakukan orang lain."

Dilara tidak bisa membayangkan, jika Evan tidak menolongnya barusan. Mungkin harga dirinya sudah hancur, karena Axel menyebarkan foto menjijikannya di sosial media.

Jika hal itu terjadi, mungkin Dilara tidak akan bisa melanjutkan hidupnya lagi. Lebih baik Dilara mati, daripada orang tuanya malu, karena memiliki anak seperti dirinya.

Tuhan, semoga hal seperti itu, tidak akan pernah terulang kembali.

"Oh, jadi adek gue telat pulang gara-gara lo?" Ardian yang baru saja datang, menyorot Evan, dengan tatapan tajam. Ia menarik kerah baju Evan, tangannya mengepal penuh, bersiap mendaratkan pukulan, di pipi mulus laki-laki itu.

"Abang jangan, Bang!"

Dilara menahan tangannya. Membuat pergerakkan Ardian otomatis terhenti.

"Semua ini bukan salah Evan," ungkap Dilara jujur.

Ardian melepaskan kerah baju Evan, secara kasar. Ia memperhatikan penampilan sang Adik, yang terlihat lebih berantakan dari biasanya. Tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Dilara yang terlihat pucat. "Lo kenapa, Ra?" tanyanya dengan raut cemas.

"Nggak papa, Bang. Dilara baik-baik aja." Dengan pandangan sayu, Dilara mengulas senyuman tipis, meyakinkan Ardian kalau dirinya baik-baik saja.

"Really?"

"Iya, Bang. Dilara nggak bohong."

Kedua alis tebal milik Ardian, saling bertaut. Laki-laki berhidung mancung itu, tersenyum miring. "Sejak kapan, gue bilang lo bohong, Ra?"

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang