9. Menjalankan Misi

672 73 327
                                        

"Apa pun hasilnya, kita harus bisa menerima dengan senang hati."

-Ersan yang sudah pusing, seven keliling-

Hari pertama.

Ersan memberikan selembar kertas berisi tulisan absurd kepada Hana. Cewek berhidung mancung itu, menerima kertas tersebut dengan senang hati.

Tutorial menaklukan Dilara.

Membaca tulisan Ersan yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali--membuat kepala Hana sedikit pening.

Tulisan Ersan membuat matanya sakit. Bahkan setiap hurufnya, nyaris membuat Hana gagal fokus.

"Kenapa tulisan Ersan, bikin Hana mual?"

Cowok itu mendengkus, ia merebut kembali kertas tersebut dari tangan Hana. "Udahlah lupain aja."

Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan kelas yang masih sepi. Ia dan Hana memang datang pagi-pagi sekali, demi menjalankan misi yang sudah ia rancang sebaik mungkin sejak semalam.

Tapi sayangnya, Hana tidak bisa membaca huruf yang sudah Ersan tulis dengan susah payah.

"Kenapa nggak jadi, Ersan?"

"Nggak papa."

"Ersan marah sama Hana, ya?"

Ersan mengangguk, membuat kedua mata Hana berkaca-kaca.

"Hana udah buat salah apa sama Ersan?" Suara Hana semakin mengecil, di akhir kalimat. Kini, matanya semakin berkaca-kaca.

Ersan mendesah pelan, ia menyandarkan tubuhnya pada penyangga kursi. "Dari semalem, gue udah nyusun rencana itu sebaik mungkin. Tapi sayangnya, lo malah nggak bisa baca tulisan gue."

Hana mengamit lengan Ersan, ia merasa bersalah karena tidak bisa membaca tulisan absurd cowok itu. "Maafin Hana, Ersan. Hana sama sekali nggak bermaksud kayak gitu."

Cowok itu menatap lekat wajah Hana. Apa-apaan ini? Mengapa air mata Hana menetes seperti ini?

"Kenapa nangis?"

"Hana yang salah."

"Lo nggak salah, emang tulisan gue yang jelek."

Air mata Hana menetes lagi.

"Pasti hati Ersan sakit, ya?"

Ersan tersenyum miring. Ia menghapus air mata Hana, menggunakan ibu jarinya. "Nggak sakit, Hana. Jangan nangis, lo nggak salah."

•••

Hari kedua.

Dilara melepaskan tas dari punggungnya, meletakkan benda berwarna putih tersebut di atas bangku. Netranya memandang lantai kelas yang tampak bersih--tidak kotor seperti biasanya.

"Siapa yang udah piketin kelas? Padahal belum ada orang."

Dilara keluar kelas, menoleh kanan dan kiri, mencari orang yang sudah rela menggantikan jadwal piketnya.

Tidak ada siapa pun. Apa jangan-jangan, ada dedemit baik yang sudah mengerjakan semuanya? Dilara menghela napasnya lega, setidaknya ia tidak perlu repot-repot menyapu lantai dan mengepelnya.

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang