14. Melepas Penat

551 63 183
                                        

"Azra itu cantiknya bukan main. Jadi boleh dong, kalau Azra mempermainkan perasaan orang lain?"

-Azra Sezen-

Pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Dilar menguap, menutup mulutnya menggunakan tangan.

"Masuk aja, nggak dikunci!" teriaknya kencang, agar suaranya sampai ke telinga orang yang berada di luar kamar.

Pintu kayu berwarna hitam itu terbuka.

Seorang laki-laki berkemeja navy, mengulas senyum tipis di bibirnya. Tangan kanannya, membawa piring berisi nasi dan lauk pauk.

Dilara menguap lagi. Rasanya, kasur di kamarnya terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

"Makan dulu, udah siang." Ardian menyodorkan piring tersebut, pada Dilara. Perempuan berambut panjang itu menggeleng, ia kembali memejamkan kedua matanya.

"Jangan tidur lagi, Ra." Ardian mendengkus sebal. Adiknya yang satu ini, memang sering membuatnya kesal. "Jangan kebo dong, ini udah siang, Ra. Ayo makan dulu."

Dilara mendesah pelan. Kepalanya kembali menggeleng, pertanda ia masih nyaman dengan kasurnya. "Udahlah, makanannya buat abang aja, Dilara masih ngantuk. Abang denger nggak, kalau kasurnya ngelarang Dilara bangun?"

Ardian geleng-geleng kepala, melihat Adik perempuannya yang semakin hari semakin bertambah tingkat kemalasannya. "Mana ada kasur yang kayak gitu. Lo nya aja yang males bangun!"

Dengan kedua mata yang masih tertutup, Dilara berkata, "Ini buktinya, tubuh Dilara ditahan sama kasur. Katanya, kalau Dilara bangun, nanti dia marah besar."

Menempeleng Adik sendiri, halal tidak sih? Rasanya, Ardian mau melakukannya pada Dilara sekarang juga.

"Abang," panggil Dilara.

"Apa?"

"Menempeleng adik sendiri itu dosa, Bang."

Ardian tersedak ludahnya sendiri. Laki-laki itu terbatuk, mendadak hidungnya menjadi merah.

"Abang rasain sendiri 'kan? Baru niat aja, udah kena batunya."

Seketika, Ardian mematung. Ia curiga, kalau Dilara mempunyai kekuatan dalam.

Dilara membuka matanya, menatap Ardian yang masih memegang piring berisi nasi untuknya.

"Bang," panggilnya lagi.

"Apa?"

"Dilara nggak punya kekuatan dalam kok. Itu cuma kebetulan aja, tebakan Dilara bener."

"Terserah lo deh. Sekarang, lo makan dulu. Nanti habis makan, kita ke toko buku." Ardian mengalah saja, ia sudah bisa menduga, kalau Dilara tidak akan pernah mau mengalah. Dasar egois!

Dahinya berkerut, kedua alis tebalnya menukik tajam. "Bukannya kemarin Abang udah ke toko buku? Terus sekarang, mau ngapain lagi? Jangan bilang, kalau Abang mau buang-buang duit. Daripada gitu, mending duitnya buat Dilara. Dilara janji deh, duitnya bakal Dilara tabung dan nggak dibeliin macem-macem."

Ardian mendesis, Dilara ini bawel sekali. Apa perempuan itu tidak kehabisan napas, karena terlalu banyak bicara?

Ardian menyuapkan satu sendok nasi, ke dalam mulut Dilara. Membuat perkataan perempuan itu, otomatis berhenti.

"Kalau gini 'kan, telinga gue adem. Lo jadi nggak banyak omong dan nggak buang-buang waktu. Sekarang, cepetan makan. Habis itu mandi, kita pergi ke toko buku."

Dilara [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang