deForsaken [1] Lady yang arogan

489 45 41
                                        


PLAK!

"BERHENTI ANTHEA!" Gadis yang baru saja namanya disebutkan itu menoleh ke asal suara. Mata hitam permatanya berkilau marah. Tangan cantiknya baru saja menampar pipi seorang pelayan yang baru saja menumpahkan teko panas pada gaunnya.

Thea, dengan pelan mengembuskan nafasnya lalu berdecih kasar. Kemudian, dengan gerakan anggun mengangkat rok gaunnya dan menunduk perlahan untuk memberi penghormatan formal.

"Salam pada tuan muda kedua Cenora."

Thea memasang wajah mengejek sesudahnya. Gadis itu kemudian tertawa pelan melihat wajah saudaranya yang menggeram kesal.

Kalau saja ini di masa lalu, mungkin pelayan yang baru saja menumpahkan teko panas tadi bukannya ia tampar. Malah pelayan itu yang mungkin saja akan mencemoohnya dari belakang. Kemudian, Thea hanya akan menangis dengan cengeng saat rumor dan cemoohan para pelayan sampai pada telinganya.

Mungkin juga bila ini masa lalu, saudara yang sekarang sedang menggeram kesal karenanya akan tertawa dengan keras ketika melihat Thea yang berlari ke dalam kamar sambil menangis. Dan bila ia Thea yang berada di masa lalu, ia akan memohon pada dewa agar keluarganya luluh dan memedulikannya.

Sayang, sekarang bukan lagi masa lalu. Tak ada lagi Anthea yang cengeng dan bertekuk lutut pada hinaan yang ditujukan pada dirinya.

Srat. Thea mengibaskan kipas putih yang ia pegang dengan pelan di depan wajah.

"Dasar bajingan kecil! Kau langsung membuat ulah saat baru beberapa saat bangun dari tidur panjang ya?!" Thea lagi-lagi berdecih kasar.

"Maaf tuan muda, seharusnya anda tidak berteriak pada saya yang baru saja sembuh dan bangun dari tidur panjang bukan?" tanyanya dengan pelan. Mendengar teriakan dari seseorang yang berada di depannya ini terasa menyakitkan telinga.

Idza de Cenora. Salah satu anak Duke Cenora yang terkenal dengan sikap impulsif dan emosional. Kalau melihat masa lalu, Thea sangat tersiksa dengan Si Brengsek satu ini.

"Kau--" Idza mengepalkan tangannya di sisi tubuh dengan marah. "DASAR ANAK PELACUR TIDAK TAHU DIRI!"

BRAK! CTRAK!

Thea dengan kasar langsung membanting kipas putih bertulang giok yang ia pegang ke lantai. Jangan lupakan pelayan yang baru beberapa saat Thea tampar. Pecahan giok itu hampir saja mengenai pelayan tadi bila saja ia tak sempat menghindar.

"Saya rasa, ucapan itu sudah keterlaluan." balasnya dengan dingin. Sebuah seringai tipis muncul di bibir merah muda milik Thea. "Maafkan saya tuan muda. Bukankah anda seharusnya menyalahkan tuan duke yang membuat ibu saya sampai hamil dan melahirkan saya?" Thea dengan arogan mengangkat dagunya sambil menatap Idza dengan penuh rasa benci.

"Bukannya salah tuan duke yang membiarkan saya hidup? Kalau dia waras, untuk apa membawa saya ke dalam kediamannya lalu membuat saya harus berbagi atap dengan anda dan kakak anda?"

Idza tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Thea. Tidak! Bagaimana bisa Thea yang lemah, kecil dan meringkuk seperti anak kucing di pinggir jalan tiba-tiba memiliki aura menekan yang setara dengan singa?

Thea akhirnya memberikan satu tatapan tajam pada pelayan itu agar pergi dari mereka berdua. Dengan tergesa-gesa, tangannya meraup pecahan teko dan membereskannya. Tanpa peduli akan tangan yang tergores oleh pecahan teko. Setelah pelayan itu pergi, Thea langsung tertawa dengan keras.

"HAHAHAHA! LUCU SEKALI MELIHAT WAJAH TERCENGANGMU, TUAN MUDA!" Lihatlah, Thea dengan tak pedulinya tertawa dengan keras. Melupakan etiket putri bangsawan yang dilarang tertawa keras sepertinya saat ini. Sedangkan tadi? Thea seolah-olah putri anggun dengan mengangkat rok gaun secara formal dan mengibaskan kipasnya di depan wajah.

deForsakenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang