Rendam Brama Dalam Samudera
Nikmati Siksa dan Nantikan Sirnanya
-VECTOR
Bukan tentang sebuah besaran yang memiliki nilai dan arah
Tapi mereka yang bertekat namun terjerat
Tentang Dia yang gigih menjadi bayangan...
Dia yang tak lelah berada di belaka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jikaengkau tau,
Kamuadalahsatudaribanyakhal yang ku pinta
Kamu yang selalukucerita kala bersujudpada sang pencipta
Salahsatualasanakutengadahasta
Namun
Kiniakumenunduk
Tampakwajahkumenyimpansendu
Takbisakupungkiri
Akuterlampaukecewa
Menyimpankatakehilangan
Saatfaktamenunjukkan
Kamutertawatanpaakusebagaialasan
Kamumenikam rasa dengankejam
Meninggalkanlukatanpapenawar
Anganku Yang TerlaluTinggi-VECTOR
:(
"Jadi...kenapa lo bisa di sana dengan keadaan seperti ini?" Vesta kembali mendongak mendengar pertanyaan itu. Bibirnya terkatup rapat tak bergeming
Melihat itu River cukup sadar diri bahwa dia tak ada hak untuk memaksa gadis ini bercerita.
"No problem kalo lo gak mau cerita. Gue gak akan maksa. Setiap orang pasti butuh privasi dan gak semua masalah yang kita punya bisa di bagi." Vesta mengangguk. Untuk saat ini ah atau bahkan untuk selamanya ia tak siap untuk membagi segala masalahnya yang bertumpuk setinggi menara eifel itu. Seolah Kaerus tak memberinya kesempatan hidup tenang.
Gadis bersurai panjang itu mengalihkan pandangannya ke arah Gamma yang berdiri bersandar di batang pohon. Mata sendunya menatap lekat laki-laki berwajah blasteran itu.