Gelisah

44 8 11
                                    

"Kondangan mulu, Mas. Ngundanginnya kapan?"

"Kamu siapnya kapan?"

- Fatia & Beni -


Sudah tiga hari belakangan ini Fatia dibuat uring-uringan dengan sikap penghuni rumah. Pasalnya, kedua sepupunya yang katanya mau meluangkan waktu untuknya saat pulang ke Manado justru mengacuhkannya dengan alasan sibuk masing-masing.

Fatia rasa itu bukan sibuk tapi sengaja mengacuhkan. Tiba-tiba sering keluar dan mendadak banyak urusan, bahkan mengajaknya saja tidak mau. Apa coba namanya kalau bukan mengacuhkan?

Bahkan sang Oma pun juga tak kalah sibuk, bolak-balik rumah Oma Lasmi dengan alasan urusan penting dan menghiraukan Fatia yang mulai merasa kesal karena selalu ditinggal sendirian.

Fatia merasa kesepian, ia tak habis pikir kenapa orang rumah tega padanya. Bahkan ia rela meninggalkan tumpukan pekerjaan demi pulang ke sini, bukannya kumpul hangat yang ia rasakan malah pengacuhan yang ia dapatkan.

"Tau gini mending nggak usah pulang!"

"Katanya disuruh pulang, nyampe sini bukannya kumpul-kumpul hangat, lepas kangen, cerita banyak hal, malah sibuk masing-masing. Ini sih namanya percuma! Biarin aja jatah cuti tahun laluku hangus daripada pulang ke sini tapi dibiarin jadi penunggu rumah, sendirian lagi!"

"Sekalian aja gosah pada pulang! Biarin aku nyuci piring sendiri! Biarin masak sendiri! Biarin makan sendiri! Biarin nonton sendiri! Aku orangnya sabar kok, sabar banget, suuuaabaaarrrr bangeeeeeettt!!"

Fatia gregetan bercampur kesal. Salah satu penyebabnya karena Omanya se-malam menginap dirumah Oma Lasmi dan baru pulang jam 10 pagi, lalu jam setengah 1 siang pergi lagi ke komplek sebelah.

Sebab lainnya, sepupu tertuanya yang katanya mau menemaninya jalan-jalan hilang entah ke mana, "Mana yang katanya janji mau ngajakin makan bubur Manado depan tempat gym? Kan, tipu-tipu!"

Fatia ngomel-ngomel sendiri dengan tangan yang sibuk mengucek-ngucek spon penuh sabun ke piring kotor bekas makannya.

Sedang kakaknya yang satu lagi menyibukkan diri dengan mantan terkasihnya, bahkan sejak pagi tadi Fatia belum bertegur sapa dengan Rima karena saat dirinya keluar kamar, Tunu berkata Rima sudah keluar dengan Dani sejak pagi tadi untuk mengambil baju di Mellysa Boutique. Lalu setelahnya Tunu pun pamit keluar.

"Parah sih ini, ngeselin banget!" Tanpa sadar Fatia membanting spon cuci piring yang masih penuh sabun itu saking kesalnya.

Dan sudah pasti busanya melompat indah ke arah mata Fatia, mengenai ujung kelopak matanya, perih.

"Haishhh! Sabun nggak peka! Udah tau orang kesal malah dibuat makin emosi! Sakit tau, dasar sabun laknat!" Serentetan makian pun keluar di detik berikutnya.

Didepan orang tuamu kau malukan diriku...
Kau bandingan aku dengan dirinya...
Kau hina diriku
Kau sebut tentang harta..
Kasihku sedar ku tiada berpunya...

Ponsel Fatia berbunyi pertanda ada telepon masuk. Segera membasuh tangan dan membersihkan daerah matanya yang terkenah sabun cuci piring. Lalu beranjak ke meja makan, tempat ponselnya berdangdut lirik Malaysia yang lagi viral di tik tok itu.

Sekilas melihat nama yang terpampang di ponselnya, seulas senyum pun mampir ke sudut bibirnya dan spontan lupa jika dimenit sebelumnya kerjanya hanya mengomel dan marah-marah.

Omwille Van Oma (Demi Oma)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang