What the hell !!

50 10 3
                                    

Aku akan searching tempat rehab LGBT terpercaya dan tercepat. Aku harap kalian bisa normal lagi.

- Sarima Peppi Nakaju -


Setelah merasa list kebutuhan yang akan dibelinya sudah ia catat dengan benar, Fatia pun merobek notes tersebut lalu melipatnya dan beranjak ke arah meja dekat tempat tidur, mengambil dompet juga sling bagnya yang terduduk manis di sana.

Memasukkan kedua benda tersebut kedalam sling bag, lalu bercermin sejenak, mengamati penampilannya. Ia rasa jika hanya ke mini market depan perumahan sebelah cukup dengan hoodie orange dan hot pant denim saja. Tidak perlu berlebihan.

Menuruni anak tangga satu persatu hingga mengitari rumah dan mengecek kamar Omanya, namun Oma Rahma belum juga terdeteksi oleh netra matanya. Hingga langkahnya memelan saat mendengar suara Tunu dari kamar Rima.

Karena terdengar samar, Fatia pun semakin mendekat agar mempertajam indera pendengarannya.

"Aku nggak bisa bayangin iparan sama mantan kak!" Pekik Rima terdengar menyimpan gundah dalam suaranya.

"Takdir se-bercanda ini Rim. Bayangin aja, foto bareng di pelaminan dengan status keluarga, ralat, ipar Rim, i-par! Yang dulunya teman kondangan malah jadi tamu undangan." Ujar Tunu menekankan kata 'ipar'. "Harus siap adik iparan sama mantan ya Rim," sambung Tunu entah untuk menyemangati atau memang untuk meledek adiknya.

"Horor! Yang dulunya ku panggil 'bang', kedepannya harus ku panggil apa? Dek? Ah, nggak bisa kak! Kayaknya aku lebih milih meng-"

"Sampai kapan? Nggak bisa gini terus, Rim. Okelah, kemarin-kemarin kamu bisa main kucing-kucingan karena kebetulan alasan mu masuk akal. Lalu ke depannya? Belum tentu kan. Hadapi, jangan kabur dan lari. Kamu bukan pengecut, kan?"

"..."

Hening, tidak ada jawaban. Entah suara Rima yang dipelankan atau memang tidak ada sahutan.

Fatia yang tak ingin berspekulasi yang tidak-tidak, memilih melangkah mendekat, ingin memastikan lebih jelas lagi karena sejak tadi semua terdengar samar.

"Jangan kayak pengecut Rim, juga jangan bikin kacau rencana Oma. Bisa?" Melihat adiknya hanya terdiam, Tunu pun menyentuh lengan kiri Rima. "Nggak pa-pa?"

"Maybe yes maybe no. I'm fine but not with her, she doesn't know..."

Tunu menyelah, ia tahu maksud adiknya. "I feel it, don't worry Rim. Let Oma explain this to her."

Rima tak setuju, terlihat dari rahangnya yang menutup dengan keras. "Dan sebelum hal itu terjadi, kita sama-sama yakin jawaban dia akan seperti apa nantinya. Lebih baik kita-"


Lagi-lagi Tunu menyelah. "Jangan dahuluin Oma, Rim! Kamu-"

"Egois!" Rima menyentak tak terima. "Dia bahkan nggak diberi kesempatan untuk memilih. Kakak tega? Walau nggak secara gamblang, setidaknya dia perlu tau lebih dulu."

Krekk.. (suara pintu)

"Hayoloohh!! Bahas apa nih? Tegang amat!" Fatia masuk tanpa mengetuk, sengaja ingin mengagetkan.

Omwille Van Oma (Demi Oma)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang