Hakim aja dengerin penjelasan dari kedua pihak tersangka lebih dulu,sebelum menetapkan terdakwa. Masa kamu berpikiran pendek ngenilai orang hanya karena mendengar opini satu pihak yang kebenarannya aja belum pasti?
- Maula Dani Muqorrobin -
"Anjirr!!" Rutuk Rima kesal. Kedua kaki dan lengannya terasa linu, lutut kirinya bahkan nyeri. Lengan kanan sampai ke bahu pun terasa sulit digerakkan. Rima merutuki sikap cerobohnya yang menggayuh sepeda terlalu cepat hanya untuk menghindari tatap muka dengan sang mantan.
"Ceroboh banget sih, Rim! Kalo gini gimana bisa pulang," omelnya pada diri sendiri. "Siapa juga yang nanam pohon asem di sini?! Woy pohon! Kalo tumbuh tuh jangan di sini, sana di tanah kosong biar nggak ganggu jalan orang!" Sambungnya menyalahkan pohon Asam yang andai bisa berbicara pasti akan berkata 'salahmu sendiri, bego!'.
Fatia yang melihat kakaknya jatuh tertimpa sepeda dari jauh spontan memekik namun tertawa lepas di detik berikutnya.
Pasalnya Rima jatuh dengan posisi mengundang tawa. Sebelah kakinya tertindih sepeda sedang kaki kirinya di atas ban sepeda belakang, salah satu sepatunya tersangkut di jeruji ban belakang dan yang satu lagi entah terlempar ke mana.
Fatia yang menikmati pemandangan beberapa ratus meter di depannya tanpa sadar memelankan laju sepedanya, sedang Dani yang melihat Rima terjatuh menggoes sepedanya lebih cepat.
Pikirannya hanya terfokus pada Rima yang terlihat kesulitan untuk bergerak. Dani sampai lebih dulu, menyalip Fatia.
Turun dari sepeda dengan buru-buru tanpa menurunkan jagang sepedanya. Dan bisa ditebak di detik berikutnya terdengar suara 'bruukk', pertanda sepeda pink milik Oma Rahma sudah terbaring cantik di tengah jalan.
Dani segera mengangkat sepeda gunung yang menindih tubuh Rima dan memarkirnya dibawah pohon Asam yang rindang itu.
"Kamu nggak papa?" Tanya Dani khawatir bercampur canggung.
Karena merasa kikuk, pertanyaan yang harusnya 'yang sakit dibagian mana?' menjadi 'kamu nggak papa?'.
"Gapapa!" Jawab Rima ketus. "Situ minus apa gimana ya?! Yang namanya jatuh plus lecet sana sini pasti apa-apa! Kalo udah tau nggak perlu nanya!" Sambungnya dengan memalingkan wajah.
Marah? Bukan. Kesal? Tidak. Rima hanya menyembunyikan ke gugupannya dengan mengetusi Dani. Bahkan dirinya belum berani menatap mata teduh yang beberapa Minggu terakhir ini mengisi kepalanya.
Rima terlonjak kaget saat tangan Dani memegang tengkuk dan bahunya, membantunya duduk. Spontan ia menoleh ke arah mantannya, kedua mata penuh rindu saling menatap, seakan mengusaikan gundah yang sempat menggebu karena tak bertemu, menyampaikan rasa tersirat yang keluh diucapkan lisan masing-masing.
Ada rasa hangat yang menjalar dikedua hati masing-masing. Namun tak berlangsung lama, sebab Fatia yang baru saja datang langsung memekik histeris. "Ya Tuhan! Itu ngana punya kaki, lutut, sama lengan kenapa lecet semua he?!"
Rima spontan melepas tangan Dani dari lengannya lalu memalingkan mata ke arah Fatia. Sedang Dani yang mendengar pekikan Fatia menoleh ke belakang, begitu pun Fatia menatap Dani karena penasaran.
Sejak tadi ia belum melihat seperti apa wajah mantan kakaknya itu. Alis Fatia berkerut, "kamu yang di Bandara waktu itu kan?"
Dani tersenyum. "Iya, yang semalam nganterin Oma Rahma juga aku. Kayaknya kamu nggak nyadar ya,"

KAMU SEDANG MEMBACA
Omwille Van Oma (Demi Oma)
ChickLitMerasa jenuh dengan pekerjaan sekaligus butuh liburan membuat wanita berumur dua puluh empat tahun itu mengajukan cuti lalu melipir ke kota masa kecilnya. Fatia Eka Handayani, wanita karir yang keras kepala namun penyayang itu sangat antusias saat O...