Biar saya saja yang keluar, dini hari seperti ini udaranya kurang baik untuk kesehatan Oma. Oma jangan khawatir, saya akan cari se-bisa saya.
- Rizal Malik -
Jam dua dini hari, semua orang berkumpul diruang tamu kediaman Oma Rahma. Tegang, cemas, juga khawatir mendominasi mimik wajah mereka.Oma Rahma yang merasa bersalah namun berusaha menutupi kecemasannya memilih melipir ke dapur, sedang Rima dan Tunu menemani Dani mencari Fatia yang sejak meninggalkan private room tadi malam sampai detik ini belum juga pulang ke rumah.
Oma Siti juga Oma Lasmi memutuskan menginap di rumah Oma Rahma sembari menunggu kepulangan Fatia. Sedangkan kerabat yang lain telah disuruh para Oma untuk pulang lebih dulu, termasuk Kanaya yang sudah tertidur pulas digendongan neneknya sebelum pulang tadi.
Disini hanya ada Rizal juga Alfian -cucu Oma Siti- yang ikut menemani para Oma.
Oma Rahma kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang sudah berganti.
"Nak Rizal, antar kan Oma mencari Fatia ya,"
"Jangan kak, ini sudah malam, lebih baik kita tunggu kabar dari anak-anak. Jika kita ikut mencari justru anak-anak tidak akan tenang membiarkan Omanya keluar di pagi buta begini."
"Tapi Lasmi, cucuku itu keras kepala dan ceroboh. Kalau pun ditemukan belum tentu dia mau diajak pulang."
Oma Siti berdiri dan mendekat ke arah Oma Rahma. Mengelus pelan bahu kanan sahabatnya. "Aku yakin kak dia tidak pa-pa. Dia sudah dewasa, pasti sudah bisa menjaga diri. Dia hanya butuh waktu sendiri."
Rizal yang melihat kondisi semakin mengkhawatirkan membuat hatinya ikut gusar, sesekali dirinya melirik jam tangan yang ia kenakan lalu menatap pintu dengan penuh harap. Namun tetap saja Fatia belum juga pulang walau malam semakin larut, bahkan sudah masuk dini hari.
"Tidak bisa. Di mataku dia masih gadis kecil yang labil. Dia keras kepala. Bagaimana jika dia marah lalu memilih kabur dari rumah? Ini Manado, penjahat diluar sana banyak berkeliaran dijam segini, wanita se-usia Fatia salah satu incarannya. Aku takut cucuku pulang tinggal nama."
"Kak jangan ngelantur! Fatia pasti baik-baik saja!" Sentak Oma Lasmi. Pasalnya ia juga cemas, namun sebisa mungkin pikiran buruk di kepalanya ia ke samping kan.
Bahu Oma Rahma mulai bergetar, menahan isak tangisnya, dengan pipi yang sudah berlinang air mata.Rizal tidak akan tega membiarkan para Oma khawatir terus menerus. "Biar saya saja yang keluar, dini hari seperti ini udaranya kurang baik untuk kesehatan Oma. Oma jangan khawatir, saya akan cari se-bisa saya."
Ekor matanya memberi kode pada Alfian, Alfian yang paham maksud dari Rizal pun berujar. "Iya, Oma. Biar bang Rizal aja yang nyari Fatia. Fian rasa Fatia masih belum jauh dari Resto, mungkin dia mampir ke beberapa tempat yang ia rasa lebih menenangkan. Fatia masih baru di sini, nggak mungkin dia berani minggat ke tempat yang jauh."
"Benar kata Fian kak, biar Rizal saja yang keluar mencari calon istrinya." imbuh Oma Siti.
Oma Rahma pun mengangguk, sembari menyeka air matanya lalu beranjak dan mendekati Rizal lalu menyentuh pundak duda anak satu itu. "Nak Rizal, segera kabari Oma jika ada kabar tentang Fatia. Kamu harus lebih sabar ya menghadapi Fatia, dia memang keras kepala. Bimbing dia agar hatinya melunak, dia terlalu kaku dengan masalah."
Rizal hanya mengangguk dengan senyum simpul miliknya. Entah apa maksudnya. Setelah menyalimi satu persatu tangan para Oma, ia pun bergegas memasuki mobil miliknya, menyusuri jalanan dini hari untuk mencari calon istri.

KAMU SEDANG MEMBACA
Omwille Van Oma (Demi Oma)
ChickLitMerasa jenuh dengan pekerjaan sekaligus butuh liburan membuat wanita berumur dua puluh empat tahun itu mengajukan cuti lalu melipir ke kota masa kecilnya. Fatia Eka Handayani, wanita karir yang keras kepala namun penyayang itu sangat antusias saat O...