Bagian 28

10.1K 1K 77
                                        

Seorang laki-laki bermata sipit sedang menuangkan air panas dari dispenser kedalam gelas yang sudah berisi kopi dan gula dengan takaran yang sesuai. Dia berhati-hati melakukannya sambil melirik laki-laki yang memakai kacamata disampingnya.

“Aku pikir dia laki-laki yang baik, Mas. Ternyata kelakuannya brengsek juga. Padahal dia terlihat kalem dan pendiam begitu,” komentar laki-laki bermata sipit itu dengan bibir yang tersenyum sinis.

Sejujurnya pada saat pertama kali mendengarnya, dia tidak percaya dengan berita yang tersebar dikalangan karyawan kantor sejak kemarin itu.

Hanya saja, ketika mengingat kembali interaksi yang terjadi di antara Kaivan dan Syifa belakangan ini, terutama tingkah laku Syifa, bisa saja berita yang tersebar itu bukan kebohongan belaka.

Laki-laki yang memakai kacamata untuk membantu penglihatannya itu sedang mengisi gula dan teh kedalam gelasnya. Sebelum menambahkan air panas yang berasal dari dispenser yang sama.

Bibir laki-laki itu tersenyum tipis. “Namanya juga laki-laki, yang pasti pikirannya akan sampai kesana juga. Apalagi kalau ternyata ceweknya juga gak nolak ketika ditiduri.”

Laki-laki bermata sipit itu tertawa. “Don’t judge a book by its cover ternyata memang benar-benar berlaku ya Mas?”

“Tentu saja berlaku. Dia terlihat pendiam, kalem dan rajin kerja sama ibadah juga. Eh ternyata aslinya brengsek juga. Pantas saja dia berteman dengan Deri selama bertahun-tahun, ternyata mereka memang memiliki sifat yang sama. Bedanya, Deri terang-terangan sementara Kaivan diam-diam.”

Kepala laki-laki bermata sipit mengangguk-angguk. “Dan ternyata yang diam lebih berbahaya ya? Mainnya juga sampai lupa pakai pengaman segala. Pulang dari Jepang bawa berkah deh. Pergi berempat, tapi pulang berlima jadinya. Gila gak tuh kelakuannya? Padahal calon istrinya cantik loh Mas. Mbak Syifa saja kalah jauh, gak ada apa-apanya.”

Laki-laki berkacamata itu menatapnya penasaran. “Dia sudah punya calon istri? Kenapa kau bisa tau? Bertemu kapan?”

“Punya, Mas. Senin minggu lalu saat makan siang bersama Mas Deri aku melihat gadis itu. Padahal saat itu Mas Kaivan sedang pergi makan siang bareng sama Mbak Syifa dengan alasan bahas kerjaan. Eh, calon istrinya itu sepertinya memang gadis baik-baik. Percaya aja sama calon suaminya. Aku yakin saat itu Mas Kaivan dan Mbak Syifa sedang membahas tentang calon anak mereka.”

Laki-laki berkacamata itu terkekeh sambil meniup tehnya perlahan sebelum menyesap sedikit. “Mungkin mereka sedang membahas tentang tempat aborsi yang aman. Sayangnya belum jadi aborsi sudah ketahuan keluarga duluan.”

“Jadi berlipat-lipat deh dosanya,” gumam laki-laki bermata sipit sambil tertawa terbahak-bahak.

“Laki-laki kalau bergosip ternyata bahasannya seperti seorang detektif, banyak dugaan. Tapi jangan lupa cari bukti yang jelas agar tidak salah sasaran. Sudah merasa diri paling benar sehingga mengatakan hal yang tidak bermoral seperti itu?”

Kedua laki-laki itu tersentak kaget ketika melihat Kaivan yang masuk kedalam pantry dengan disertai kalimat tajamnya yang terdengar jelas. Kaivan menatap keduanya dengan wajah yang terlihat datar.

Keduanya hanya menatap Kaivan dengan wajah yang terlihat sinis dan penuh dengan ejekan sebelum beranjak keluar. Meninggalkan kopi dan teh mereka yang baru diminum sedikit.

Hari senin siang, lebih tepatnya kemaren siang, Kakak laki-laki Syifa mendatangi kantor. Laki-laki itu memang tidak menyerah untuk membuat kehidupan Kaivan hancur sebelum Kaivan menikahi adiknya, seperti ucapannya tiga hari yang lalu setelah dengan sengaja mengacaukan acara Kaivan dengan Clara.

Welcome My Love [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang