;warmness

279 59 20
                                    

xiaojun terbangun ketika jam menujukan pukul tujuh pagi, ia terlambat untuk berolahraga, sial. ini juga dikarenakan ia tidak bisa tidur semalam karena, apalagi selain hendery.

ia juga baru ingat jika semalam ia belum meminta kontak lelaki tersebut, sayang sekali. kemarin ketika ia sampai di rumah, ia bergegas menuju kamarnya karena takut ketahuan oleh ibunya jika ia 'bermain' dahulu, tidak langsung pulang.

sulit sekali rasanya menjadi anak paling kecil.

karena kepala terlambat, ia hanya melakukan peregangan di kamarnya dan mandi, bergegas menuju sekolah. tapi semua aktivitasnya terhenti ketika ponselnya berbunyi, ada yang menelepon. id caller jaemin terpampang dan ia segera mengangkatnya.

"halo dejun? kau eum, selamat?" di sebrang sana jaemin terdengar gugup.

xiaojun mengernyitkan alisnya, "iya aku baik-baik saja, dan semuanya aman? memangnya kenapa?"

ada jeda di sana, "jeno tahu bahwa aku menghilang dan kemarin ketika ia menelepon aku tidak berani mengangkatnya, dan sekarang aku takut untuk sekolah."

ah, jeno. xiaojun terkadang lupa jika mereka sudah terikat, "kau pergilah ke rumahku, aku akan melindungimu jika ia bertanya-tanya."

"oke! setengah jam sebelum sekolah aku sudah di sana, sampai bertemu nanti, dejun!"

sambungan terputus, meninggalkan xiaojun dengan kernyitan kebingungan, hubungan jeno dan jaemin benar-benar tidak beres. jeno menelepon jaemin? lelaki itu bahkan nekat memanjat pagar hanya untuk menuju kamar jaemin dan menemuinya.

═════════════════

xiaojun dan jaemin berakhir di dalam mobil pribadi xiaojun, mereka berdua diam termenung, larut dalam pikiran masing-masing. "kau berbohong."

jaemin menghela napasnya, "aku belum siap bercerita, dejun." xiaojun menoleh ke arah temannya dan tersenyum kecil, "aku juga tidak pernah memaksamu untuk bercerita, tapi dengan cara menghindarinya, tidak akan menyelesaikan apa pun."

jaemin mendesah kesal, ia pun sebenarnya tidak ingin menghindarinya, tetapi ia benar-benar belum siap bertemu lelaki itu. "dejun, tolong bantu aku. aku akan berbicara dengannya tapi tidak sekarang, aku benar-benar belum siap."

xiaojun tidak mempunyai alasan lagi selain mengangguk, situasi ini mirip dengannya dan lucas. xiaojun itu terus-terusan menghindari lucas untuk membicarakan soal perasaannya dan pernikahannya.

duk!

mobil berhenti mendadak yang menyebabkan kepala jaemin dan xiaojun terantuk ke depan, "aduh, ada apa pak?" supirnya hanya diam yang membuat mereka berdua melihat ke depan, mencari sesuatu yang membuat mobilnya berhenti.

mata xiaojun memicing ketika melihat kericuhan di sana, ada beberapa orang dengan jas rapi dan orang biasa lainnya sedang berteriak pada satu sama lain. mobil akhirnya melaju, dan saat itu ia bingung ketika ada hendery, ibu kedai dan teman-temannya terlihat sedang beragumen.

"dejun, itu hendery bukan?" xiaojun hanya mengangguk dan seiring mobilnya berjalan, pandangannya terhadap mereka hilang, kerumunan itu sudah tidak terlihat lagi.

"dejun? kau tahu mereka kenapa?" xiaojun menggeleng, ia takut bila hal yang ada di pikirannya benar-benar terjadi, ugh orang kaya sialan.

tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolahnya dan segera turun dengan jaemin yang was-was takut jika ada jeno di sekitarnya, "sudah, ia tidak ada jaemin."

mereka berjalan beriringan, "kau pulang bagaimana?" jaemin mendesah kesal, "aku ada jadwal latihan memanah, kau?" xiaojun menggeleng.

"tapi aku bisa menunggumu di kedai kemarin dan kita pulang bersama." senyum jaemin mengembang, ia mengangguk dan bergegas berlari, berpisah dengan xiaojun.

tetapi xiaojun sedikit terlonjak ketika mendapati jeno dengan amarh berjalan dengan langkah lebar menuju jaemin, ia menarik lengan lelaki itu, "mau apa kau?"

jeno menepis lengan xiaojun, "ini urusanku dengannya."

xiaojun mendengus dan memutar bola matanya, "menjadi urusanku juga ketika ia merengek untuk pergi bersama pagi hari ini, menghindarimu."

jeno melepas pandangannya dari jaemin dan menatap tajam xiaojun, "tau apa kau?" xiaojun menatap jeno malas, "jeno, jaemin adalah temanku sejak kami kecil juga."

jeno menggeram marah dan mendorong xiaojun, "woah, chill. biarkan dia sementara waktu, dan jika bisa kau renungi kesalahanmu."

"aku? aku tidak punya kesalahan apa pun." xiaojun benar-benar muak dengan jeno, "dan dia tidak akan menghindarimu seperti ini jika kau tidak melakukan apa pun!"

tangan jeno terangkat, berniat melampiaskan kemarahannya pada xiaojun sebelum sebuah tangan menahannya, "pergi kau dari hadapan kami."

itu suara lucas, dan xiaojun menatap datar kedua lelaki di sana, jeno akhirnya pergi, menghindari diri dari lucas karena tidak ingin menyebabkan keributan. "lucas, kau tidak perlu melakukan itu."

lucas terdiam, "dan membiarkanmu dipukul olehnya?" xiaojun menghela napas dan menggeleng, "tolong, jangan buat semuanya makin sulit untukku."

lelaki itu pun berlalu, meninggalkan lucas yang benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi tunangannya.

═════════════════

pulang sekolah, xiaojun bergegas memberu tahu supirnya untuk menjemputnya ketika ia menelepon, ia berjalan santai, menikmati suasana jalanan yang begitu ramai di dalam perjalanannya menuju kedai.

ia melihat sekeliling dan senyumnya mengembang, ia bisa melihat banyak anak kecil yang sedang berlarian dan beberapa anak remaja lainnya yang sedang menghibur diri dengan bermain musik.

orang sepertinya tidak akan pernah bisa merasakan ini, rumah besar nan dingin yang menunggunya ketika pulang sekolah. temannya hanya jaemin, jeno dan lucas, jika masih bisa dibilang teman. seisi sekolah menjauhi mereka berempat, karena ya, semua orang segan dengan keluarga mereka.

apalagi pertemanan xiaojun benar-benar dibatasi oleh ibunya, sepi sekali rasanya. selama hidupnya ia bahkan tidak pernah merasakan bermain bersama teman-temannya. hanya ada rangkaian angka dan pelajaran tata krama yang menemaninya di masa tersebut.

jangan salahkan dia jika tumbuh menjadi orang yang seperti ini, dingin dan tidak pedulian.

"hey!" xiaojun berhenti, beberapa meter lagi ia sudah berada di kedai tapi ia menoleh, memeriksa siapa yang memanggilnya. dan ia tersenyum ketika mendapati lima lelaki kemarin sedang melambaikan tangannya ke arahnya.

mereka menghampiri xiaojun, "kak jaemin ke mana?" xiaojun menggeleng, "ia mempunyai jadwal latihan memanah, jadi ya aku hanya bisa sendirian ke sini."

mereka semua mengangguk mengerti, "ayo ikut bersama kami!" xiaojun mengernyit bingung dan hanya mengikuti ketika tangannya ditarik hyunjoon menuju tempat yang ia tidak tahu. di sebelahnya, hendery hanya mengendikan bahunya dan mengikuti mereka.

ia sampai di sebuah gedung kosong dan di sana terlihat banyak anak kecil yang sepertinya menunggu kedatangan mereka. anak-anak itu menyambut keenamnya dengan hangat. yangyang, jisung, hyunjoon dan moonbin segera berlari ke arah mereka.

xiaojun hanya diam termenung, "mereka tidak memiliki biaya untuk sekolah. rata-rata orangtuanya bekerja sebagai pemulung dan serabutan, jadi kami memutuskan untuk mengajari mereka hal-hal dasar."

xiaojun diam, melihatnya ia tersenyum dan mengajak hendery menuju anak-anak yang sedang duduk rapi, memerhatikan moonbin yang sedang mengobrol.

"-nah, kita kedatangan kakak yang baru! kak dejun!" pandangan semua orang menuju ke arahnya, ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya, "hai! aku dejun! senang berkenalan dengan kalian!"

dejun berakhir dengan ikut mengajarkan mereka baca, tulis dan hitung saat itu. ia bersumpah bahwa ini adalah salah satu hari terbahagianya.

ia tertawa, bercanda dan bermain bersama orang lain, rasa hangat itu kembali datang menyeruak di dalam hatinya setelah sekian lama. ia bahagia.

tbc.

sincerely, jenosette.
⁰² ⁰⁹ ²⁰

kaleidoskopTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang