Erza duduk di ruang kerjanya, berhadapan dengan Rara. Tadi Erza memang meminta Rara untuk datang di kantornya setelah perempuan itu menangis saat ia menelepon Erza. Sekarang tangis Rara memang sudah reda. Hanya saja matanya masih bengkak dan memerah. Erza bisa menebak apa yang terjadi. Pasti Rara bertengkar dengan suaminya lagi.
"Dia kasar sama aku, Za. Dia maksa aku buat berhubungan, padahal aku lagi hamil trimester pertama. Aku hampir aja keguguran," jelas Rara. Perempuan itu memang berani blak-blakan di depan Erza karena memang mereka sudah bersahabat sejak lama.
"Kurang ajar," umpat Erza lirih.
"Aku juga salah, Za. Aku belum bilang ke dia kalau aku hamil."
"Ya, tapi nggak gitu juga dong, Ra. Dia maksa kamu saat kamu nggak mau. Sama aja pelecehan. Berengsek dia."
Rara menghirup napas pelan. "Aku harus gimana ya, Za?"
"Sebaiknya kamu pisah aja sama Rega. Daripada kamu nangis kayak gini terus. Aku nggak rela wanita sebaik kamu disakiti terus."
Rara terdiam sejenak, sedangkan Erza menatapnya intens. Erza meraih tangan Rara yang diletakkan di atas meja. Digenggamnya jemari Rara dengan erat.
"Cerai aja dari Rega. Kamu terlalu berharga buat laki-laki berengsek seperti Rega."
Rara mencoba melepaskan tangan Erza yang menggenggamnya. Ia merasa tidak seharusnya Erza memperlakukannya seperti ini. Namun, Erza malah semakin mempererat genggamannya.
"Za ... lepasin." Rara mengingatkan. Erza pun tersadar dan segera melepas tangan Rara.
"Ra, udah kamu ajukan gugatan cerai aja ke pengadilan. Kamu akan lebih bahagia kalau pisah sama Erza."
"Nggak semudah itu, Za. Kalau aku pisah sama dia, kasihan anak-anak aku. Mereka sering protes gara-gara aku dan Rega sama-sama sibuk. Apalagi kalau aku pisah sama Rega. Mereka pasti semakin marah. Ya, meski mereka masih kecil, tapi mereka tahu arti keluarga yang utuh itu kayak apa."
Erza mendengus pelan. Sepertinya Rara sulit melepaskan Erza bukan hanya urusan anak, tapi memang ia masih mencintai Rega. Erza tahu betul bahwa Rega juga sangat mencintai Rara, meski pria itu sering membuat Rara menangis. Ia masih ingat betul bagaimana bucinnya Rega saat berpacaran dengan Rara dulu.
"Aku tahu kamu masih cinta sama Rega, Ra. Cuma ... apa kamu mau terus-terusan kayak gini? Kamu nggak pantes disakitin kayak gini, Ra."
Rara lagi-lagi terdiam. Ekspresi wajahnya tampak memikirkan sesuatu. "Haruskah aku ngajuin gugatan cerai ke dia?"
"Kalau itu yang terbaik buat kamu, kenapa enggak, Ra?"
"Sulit, Za."
"Apanya yang sulit? Kamu punya bukti kuat buat ngajuin gugatan cerai ke pengadilan."
Rara tampak menimbang-nimbang saran dari Erza. Dan sekarang Erza menunggu keputusan Rara.
"Ceraikan dia. Setelah itu ... kamu bisa sama aku," ucap Erza kemudian.
Rara mengernyitkan dahi karena bingung. "Apa maksud kamu, Za?"
"Setelah kamu cerai sama Rega, aku bakal nikahin kamu."
"Za, jangan bercanda."
Erza kembali menggenggam tangan Rara. "Aku serius. Aku akan nikahin kamu setelah kamu sama Rega cerai nanti. Aku janji bakal menyayangi anak-anak kamu seperti anak aku sendiri. Dan aku janji akan membahagiakan kamu. Aku nggak akan bikin kamu nangis."
"Erza ... kamu ngomong apaan, sih?"
"Aku serius. Beneran serius, Ra. Kamu tahu kan aku udah suka kamu dari dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Imperfect Wedding
RomanceVanda Afriska, gadis 27 tahun berparas cantik seperti bunga anggrek kesukaannya. Selain wajah cantik, Vanda juga wanita cerdas dan penuh kelembutan. Seumur hidupnya, Vanda selalu menjadi anak yang berbakti pada sang papa selaku orang tua tunggal bag...
