•••
Aku berjalan dengan ringan pagi ini, seperti biasanya saat aku berangkat ke Sekolah. Hari ini cuaca cerah sekali, matahari bersinar gagah diangkasa, burung berterbangan kesana kemari mencari makan dan manusia juga mulai beraktivitas pagi ini.
Aku berangkat lebih pagi dari biasanya, aku hanya ingin menghindari Mama dan Kenna. Aku menghela nafas, brrharap pikiran buruk enyah dari kepalaku.
Kakiku berhenti di pertigaan jalan raya, kulihat sosok tidak asing juga berhenti saat menatapku. Dia mengerjapkan matanya, lalu dengan kikuk menunduk. Aku juga ikut terheran dengan kelakuan orang ini. Dia adalah lelaki yang kutawari sepayung dan yang menawari ku payung.
"Kamu--"
Sapa ku, dia tersenyum kikuk.
"Ha-halo. Pagi ini cerah ya?"
Aku tersenyum lalu mengangguk. Aku tidak begitu paham kenapa dia bisa secanggung ini karena berpas-pasan denganku.
"Iya, ayo berangkat bersama."
Aku dan dia berjalan bersama, langkah kakinya lebar tapi dia menyesuaikan langkah kaki nya denganku. Aku menoleh ke arahnya.
"Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan ya?"
Dia menunduk dan tersenyum kecil, senyum ramah.
"Iya, padahal aku sering melihatmu di sana."
Lelaki ini menunjuk tepi jalan penyebrangan. Dia sering melihatku? Ah tentu saja. Dia juga sering lewat situ kan? Pastinya dia akan bertemu denganku setiap hari. Lagipula, kami satu sekolah.
"Aku jarang menyadarimu."
Dia tersenyum lagi. Aku refleks menunduk melihat senyumnya. Kenapa dia mudah sekali memamerkan senyum nya itu? Sejujurnya, senyumnya itu sangat menarik. Apa lelaki ini tidak tahu daya tariknya itu di wajah dan senyum nya?
"Sekarang kamu menyadariku."
Aku tertawa hambar. Kami berhenti tepat sebelum melewati zebra cross. Lampu pejalan kaki menyala berwarna merah. Disini, cuma kami berdua.
"Aku Allen, siapa nama mu?"
Dia memperkenalkan diri terlebih dahulu, aku tersenyum.
"Alani."
Angin berhembus menerpa kami saat itu juga. Rambutku berterbangan begitu pula dengan lelaki ini. Hal yang membuatku gugup bukanlah suasana saat ini tapi tatapan mata lelaki ini begitu lembut.
"Kamu kelas berapa?"
Aku memecah kegugupanku.
"Kelas 2 A."
Aku membelalakan mata, 2 A kan anak unggulan di sekolah. Sulit sekali masuk kekelas jenius itu. Aku menyerah untuk masuk kesana walaupun ingin. Disana fasilitas kelas nya lengkap dan nyaman. Tentu saja sesuai dengan prestasi siswanya pula.
"Bukankah itu luar biasa?"
Diabtertawa kecil mendengar celotehanku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa dia tertawa begitu.
"Luar biasa? Anak-anak lain mengatakan kelas A itu yang terburuk karena deadline tugas yang gila, apalagi target nilai sangat tinggi."
Jawabnya terheran-heran dengan kekaguman ku.
"Bukan hal yang aneh, fasilitas kalian juga sangat luar biasa lho."
Aku mengatakan hal itu dengan antusias, dia tersenyum kembali. Orang ini, apa aja sih yang dia senyumin?
"Aku tersanjung, aku harap kamu juga bisa di kelas yang sama dengan ku."
Kata lelaki itu, aku cemberut mendengar kata-katanya.
"Jika dikatakan ingin, aku sangat ingin di kelas itu. Tapi kemampuan belajarku sangat sulit. Aku--"
"Mau belajar bersama? Aku akan tunjukan metode mudah di ajarkan di kelas 2 A."
Aku terbelalak. Aku sudah tahu jika keuntubgan lain dikelas itu yaitu, metode sederhana belajarnya. Metode menyenangkan dan metode santai diterapkan. Tentu saja itu dilakukan karena target nilai mereka yang tinggi. Jika tidak memenuhi target, mereka akan dikeluarkan dari kelas itu dan digantikan dengan murid lain yang memenuhi kriteria. Tapi, mengajarkan metode itu... Apa itu tidak curang?
"Apa tidak apa-apa?"
Dia mengangkat bahunya enggan. Lampu berubah warna menjadi warna hijau. Aku maupun Allen berjalan ringan menyebrangi jalan.
"Tentu saja, baik-baik saja. Untuk apa pula aku menyimpan ilmu? Tidak berguna dong?"
Aku tersenyum senang mendengar itu. Dia menatapku dengan matanya yang sama antusiasnya denganku.
"Kalau begitu, mohon bimbingan nya."
Pagi ini aku jadi sadar, aku mendapatkan hal yang berharga lain nya di jalan ini.
Masa depan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Zebracross
Teen Fiction06.45 AM. di jalan dan waktu yang sama. di 30 detik yang sama. setiap hari. ••••••••••••• Jika kamu membaca ini, kamu harus melihat sampai ending. Karena pengenalan tokohnya ada di ending. Hehehe, semoga kalian suka❤️