Pagi damai yang tumben di Blok 3 perumahan Pondok Indah, Jakarta. Sebuah keuntungan yang langka untuk pak Bani, menikmati kopi dan koran dipagi hari.
Tukang sayur alias bang Arief pun ikut ikutan disebelahnya, hanya saja dia kopi susu yang manis, tidak sesuai hidupnya.
"Pada kemana mereka, pak?"
Bani menyeruput kopinya perlahan, lantas diletakan di piring kecil dan mulai menatap Arief yang bertanya.
"Gk tau, tumben sepi. Kayaknya masih pada tidur."
Arief mengangguk anggukan kepalanya. Kemudia bangkit dan mulai berkutat dengan sayur mayurnya kala ada seorang pembeli. Sepertinya, pembeli ini juga ikut bingung dengan kesenyapan yang tidak biasa ini.
"Tumben Mang, Meuni Rehe? Biasana mah, meuni rame siga di pasar. Karulem keneh sugan?"
"Ah, kurang terang abdi ge. Dari tadi bertanya tanya sama Pak Bani, dan sarua teu terangen."
Ibu itu mengangguk, setelah selesai dia kembali kehabitat aslinya. Lantas Arief kembali duduk menikmati kopi susu yang sudah habis.
Bani bangkit dari duduknya, merenggangkan otot ototnya yang kaku hingga berbunyi bergemeletuk. Tak lama, gaduh sudah dimulai.
"Nah, kan enakan ribut gini. Kalau sepi serasa hampa!"
Komentar Arief diangguki Bani, lalu merrka kembali pada aktivitasnya masing masing. Kita biarkan mereka, dan beralih ketiga -dua maksudnya- rumah yang heboh dipagi hari.
••••
"Mama!! Papa!! Kalian dimana?!"
Qahtan berteriak dengan ketidak berperiketelingaan. Sangat mendengungkan dan menyakiti telinga, sedang yang di panggil masih sibuk bernyanyi di kamar mandi dan menyiapkan sarapan.
Iyyah yang berada di dapur menengokan kepalanya pada si putra. Sedang Qahtan mencoba mengimbangkan badannya untuk turun tangga agar tidak jatuh. Iyyah menggeleng, anaknya imut. Baru sadar, hehe.
"Mama, papa mana?"
"Tumben ditanyain? Biasanya dilantarin, dijulidin, di jailin.."
Qahtan mendengus, bokongnya ia daratkan di salah satu kursi meja makan. Persetan lah, mamanya kalau udah ditanya baik baik gk pernah bener.
Masa iya harus ngegas mulu, ntar kalau kerongkongan Qahtan sakit, siapa yang memiliki suara terimut di blok 3 sini? Tidak Epic!
"MAMAA!! PAPA LUPA BAWA HANDUKK!!"
"KEBIASAAN!! PAKE SIKAT GIGI AJA!"
"HAH? APANYA?!"
"KALAU ENGGA PAKE GORDEN!"
"GAMAU, NANTI TERBANG!"
Qahtan meringis mendengar teriakan saling bersautan antara orang tuanya itu. Belum lagi suara teriakan dari rumah nomor 1, terdengar hingga kesini.
Iyyah beranjak dari dapur untuk mengantarkan handuk sang suami, Qahtan hanya melihat gerak geriknya saja. Apalagi kala Saaih mendapat bogeman di kepala mulusnya, sebuah pertunjukan pagi hari yang menyenangkan. Bagi Qahtan.
Saaih, Iyyah, dan Qahtan duduk tenang di meja makan. Dengan hidangan sarapan yang ... itu itu aja. Pengen komplen, takut kena amuk, engga komplen? Arghh!! Saaih frustasi.
"Ma, pa.. Qahtan mau hewan peliharan!"
Saaih menoleh manatap anaknya dengan sebelah alis terangkat, sedangkan Iyyah menatap anaknya sembari minum. Qahtan? Bertahan dengan tatapan polos memohonnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Masa.... Gitu(?)
HumorHanya tentang 3 Rumah si Komplek Pondok Indah Blok 3 nomor 1,2 dan 3. Intinya mereka tetanggaan, kalau gk suka minggat aja dari hati (Plak!)
