Daftar keinginan

333 31 29
                                        

Warning : Word lebih dari 2000
Yakin mau baca? Gk capek? Heuheu:)
Daftar keinginan keluarga : Attamimi
Enjoyyy!

Setiap orang memiliki keinginan dan harapan masing masing bukan? Dari yang tidak logis sampai ke yang logis.

Masalah tercapai atau tidaknya, itu urusan belakang. Yang terpenting itu, bagaimana cara kita meraihnya dengan baik, tidak keras atau apapun yang tidak pantas.

Bang Bani sedang pergi berlibur, keinginan terpendam sejak lama, yang dikabulkan oleh para kepala keluarga Blok 3.

Pergi ke kampung halaman bertemu dengan sang istri juga buah hati. Ketika melihat senyuman terukir indah di bibir Bani, semua terharu.

Hanya para kepala Keluarga sih, karena sisanya tidak tahu menahu soal itu. Dan keinginan Arief membeli motor sudah tercapai. Dulu dia memakai gerobak kala berjualan, namun sekarang sudah memakai motor.

Dan keinginan setiap orang pasti ada satu yang sama, kebahagiaan. Sebenarnya, bahagia itu sederhana. Lebih sederhana dari perkalian Tujuh ribu kali dua puluh tiga dikali enam belas dikali nol sama dengan nol.

Contohnya gampang, yang paling sederhana adalah ketika kamu duduk. Benarkan posisi bersandar ataupun mengangkat kaki, kamu akan merasa nyaman dan itu sudah bahagia.

Atau seperti Sohwa misalnya, hanya dengan melihat berat badannya yang turun 5kg, sudah bungah. Bahagia dengan hati yang luar biasa penuh dengan mekaran sakura.

Kembali lagi pada 'keinginan'. Keinginan Sohwa luar biasa banyak, dan di bab ini kita bahas daftar keinginan keluarga dari rumah nomor 1. Rumah Attamimi dan sang istri Mutamimah.

Daftar Keinginan Sohwa

1. Lebih pinter masak dari Sajidah!

Sohwa suka masak, tidak terlalu. Dia hanya suka berkutat dengan cucian dari pada masakan. Bukan apa apa, Sohwa tidak terlalu suka kala kulit putih mulusnya terkena cepretan Minyak. Drama sekali.

Tapi, semenjak menikah. Eh tidak, semenjak punya buah hati yang pertama. Sohwa ingin menjadi ibu yang baik, dan dia belajar masak dengan Sajidah saat itu, yang dimana Fatim dan Fateh masih unyu unyu gitu.

"Kak mimah? Muntaznya mana?"

Saat itu Sohwa datang kerumah Sajidah dengan tangan kosong, rumah disana baru terisi dua. Sohwa dan Sajidah saja.

"Ada sama bang Atta, Mimah boleh masuk? Pegel."

Sajidah cengengesan, mempersilahkan Sohwa masuk dan menyuruhnya duduk. Tapi, Sohwa malah mengajak Sajidah kedapur.

"Ajarin kakak masak!"

Sajidah heran saat itu, tumben sekali? Tapi dia tetap menuruti apa yang diinginkan oleh tetangga.

Karena Sajidah adalah tetangga yang baik. Pengennya sih begitu, tapi ya... Kadang suka khilaf ngomongin orang dibelakang.

Oke lupakan.

Sejak saat itu, hingga Saleha berumur 4 tahun, Sajidah terus mengajarkan Sohwa berbagai macam resep. Dan Sajidah juga senang senang saja, Sohwa disitu merasa 'Ah, kok Jidah lebih jago dari aku?' dalam hati

Tapi, dia tidak bisa merasa iri atau apapun pada sang adik ipar. Karena setiap orang memiliki kemampuannya masing masing. Dan Sohwa mengerti itu.

Tetangga Masa.... Gitu(?)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang