Daftar keinginan, Halilintar dulu? Apa Sallahudien dulu? Kita ke yang sedikit anggota dulu, Sallahudien?
Daftar Keinginan Saaih
Saaih, kepala keluarga muda yang punya banyak sekali daftar keinginan. Dan dia bingung apa yang akan ditulis di sesi chapter ini.
Karena yang jelas, dia pun bingung dengan apa yang dia mau. Keinginannya banyak sekali, sangat bejibun seperti cucian di MV Spring Day BTS. Liat deh, numpuk, satu gunung? Iyakan, iyain napa.
Yang jelas, dia punya beberapa keinginan. Seperti...
1. Lebih tua dari bang Atta!
Kalau ini adalah harapan serta keinginan mutlak seorang Saaih Sallahudien. Mutlak, telak, tanda seru, titik.
Kenapa? Dia gk terlalu suka jadi bungsu, karena apa? Kakak tertua udah kek bos, nyuruh nyuruh seenaknya. Mau manfaatin gelar bungsu gimana? Umi abinya aja jarang dirumah, dulu.
Pernah suatu saat, saat Saaih berumur 7 tahun, dan Atta 12 tahun. Mereka saat itu sedang bertiga di rumah karena Umi Abi pergi ke Brunei, berdagang.
"Saaih, ambilin abang minum! Cepetan pedes!"
Saaih bukan orang bodoh percaya gitu aja sama abangnya, jelas! Yang dimakan pie strawberry, pedesnya dimana?
Dengan berat hati karena melihat tatapan tajam dari sang kakak pertama, Saaih menurut. Saat berbalik mengantarkan minum, Saaih juga sadar, ada Thariq disana.
"Abang mau minta minum juga?" Cicit Saaih menahan kesal.
Sedangkan Atta langsung merampas gelas air yang ada di tangan Saaih. Thariq menggeleng, kepalang peka dengan adiknya.
"Gk usah, gk terlalu haus kok."
Saaih hanya berdehem dan melanjutkan acara menggambarnya dibawah sana. Baru saja menoreh krayon berwarna biru di permukaan kertas, Atta kembali membuka suara.
"Dek, mau jajan gk?"
Saaih tau niat busuk sang kakak, liat aja.
"Beliin abang ciki dong, ntar kembaliannya buat kamu."
Halah, bullshit. Kemaren aja ngomong gitu uangnya kurang, siapa yang nombokkin? Saaih! Kesel gk? Kesel lah, rasanya pengen musnahin spesies manusia kek Atta.
Saaih geleng, Atta decak. Lalu Atta noleh ke arah Thariq "Apa? Mau nyuruh? Punya kakikan? Pake sana buat ke warung!" Dan Atta kembali berdecak pergi begitu saja.
Saaih tertawa begitu pula dengan Thariq "Kamu kalau gk kau bilang gk mau, tapi kasih alasan yang pasti. Jangan maksain.." Saaih ngangguk
Untungnya selalu ada Thariq saat itu, tapi terkadang. Alasan lainnya banyak, sangat banyak mungkin. Salah satunya saat Saaih berusia 4 tahun, dan Atta 9 tahun saat itu. Thariq? Ya jelas 7 tahun_-.
"Gpp Saaih, abang pegangin sepedanya. Ayok kamu bisa!"
Bukan Abi, tapi abang yang ngajarin Saaih sepeda. Saat itu, Saaih ingin sepeda. Tapi, Abi memberi tantangan, katanya bisa sepeda dulu baru dibelikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Masa.... Gitu(?)
HumorHanya tentang 3 Rumah si Komplek Pondok Indah Blok 3 nomor 1,2 dan 3. Intinya mereka tetanggaan, kalau gk suka minggat aja dari hati (Plak!)
