Bab 2: The RSVP

4.6K 228 3
                                        

Matahari baru saja tergelincir ke arah barat, memancarkan semburat jingga kemerahan yang memantul di permukaan meja kaca di ruang kerja Shaqueilla. Di luar jendela, kemacetan Jakarta Selatan mulai merayap, membentuk barisan lampu merah yang monoton di sepanjang jalan arteri. Namun, di dalam ruangan ini, keheningan terasa begitu pekat setelah kepulangan pasien terakhir. Shaqueilla melepas kacamata berbingkai tipis yang biasa ia gunakan untuk membaca rekam medis, lalu memijat pangkal hidungnya perlahan. Rasa lelah yang mendera fisiknya setelah seharian penuh menghadapi tangisan anak-anak dan kecemasan para orang tua mendadak terasa sekunder dibandingkan dengan secarik kertas tebal yang tergeletak di hadapannya.

Sebuah kotak beludru berwarna midnight blue dengan cetakan timbul emas berlogo inisial "R & K" baru saja diantarkan oleh kurir khusus ke mejanya setengah jam yang lalu. Itu bukan sekadar undangan pernikahan biasa. Di dunia tempat Shaqueilla tumbuh, sebuah undangan pernikahan adalah sebuah pernyataan status, sebuah paspor sosial, dan yang paling penting: sebuah peta politik interaksi kelas atas.

Dengan gerakan anggun namun berhati-hati, Shaqueilla menarik pita sutra yang mengikat kotak tersebut. Begitu tutupnya dibuka, aroma samar dari kertas bertekstur mahal dan wewangian khusus pesanan Kirana, sang calon mempelai wanita, langsung menyeruak. Selembar kartu akrilik transparan dengan grafir emas menampilkan detail acara yang sudah sangat ia ketahui dari kasak-kusuk di rumah sakit.

Radhika & Kirana.

The Grand Ballroom, The Grand Hyatt Jakarta.

Shaqueilla menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulitnya yang empuk. Ujung jemarinya mengusap permukaan akrilik yang dingin itu. Radhika adalah salah satu dari sedikit sahabat pria yang tetap dekat dengannya sejak masa putih-abu-abu. Mereka melewati masa-masa remaja bersama, berbagi rahasia koridor sekolah, dan menyaksikan bagaimana lingkaran pertemanan mereka perlahan berubah menjadi faksi-faksi korporasi yang matang. Menghadiri pernikahan Radhika adalah kewajiban moral yang mutlak bagi Shaqueilla. Tidak ada opsi untuk mangkir, tidak ada alasan jadwal operasi darurat yang bisa diterima oleh kelompok pertemanan mereka jika ia sampai tidak menampakkan batang hidungnya.

Namun, ada satu detail kecil yang membuat dadanya terasa sesak setiap kali ia menatap undangan itu. Di bagian bawah kartu, tertera sebuah kode QR eksklusif untuk melakukan konfirmasi kehadiran—The RSVP.

Shaqueilla tahu persis mekanisme di balik sistem konfirmasi digital untuk pernikahan sekelas ini. Sistem tersebut terintegrasi dengan daftar tamu VIP yang dikurasi langsung oleh perencana pernikahan termahal di ibu kota. Begitu ia memindai kode tersebut dan menekan tombol 'Will Attend', namanya akan langsung muncul di dasbor utama penyelenggara, bersanding dengan nama-nama anggota keluarga konglomerat lainnya.

Dan yang paling krusial: namanya akan dipasangkan dalam sistem pengaturan meja dengan lingkaran alumni terdekat mereka. Lingkaran yang sama di mana Issa Ghazafar Djojohadikusumo berada.

Ponsel di atas meja bergetar, memecah keheningan yang sempat tercipta. Layarnya menyala, menampilkan nama Labibah. Shaqueilla mengembuskan napas pendek sebelum menggeser ikon hijau di layar.

"Halo, Bih?"

"Shaqui! Lo udah terima paket beludru biru dari Kirana belum?" Suara Labibah langsung terdengar ceriwis di seberang telepon, memecah kesunyian dengan energi khasnya yang tak pernah habis. "Gue baru aja nerima di lab. Sumpah, Kirana niat banget ya, undangan aja pakai akrilik seberat ini. Bisa buat nimpuk maling."

Shaqueilla terkekeh pelan, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Udah, Bih. Baru aja gue buka. Emang tipikal Kirana banget kan, semuanya harus kelihatan extra."

"Nah, sekarang poin utamanya bukan soal beratnya undangan, Shaqui," nada suara Labibah mendadak berubah menjadi lebih berbisik, meskipun Shaqueilla tahu sahabatnya itu pasti sedang berada di dalam ruang pribadinya sendiri. "Lo udah nge-scan RSVP-nya belum? Lo tahu kan siapa yang udah mencet tombol 'Will Attend' dari dua hari yang lalu?"

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang