Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa, Jennie, dan Jisoo. Namun, ketenangan Rose t...
Malam semakin larut di Seoul. Jarum jam di dinding ruang tamu kediaman keluarga Park sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Sang Ayah berkali-kali melirik arlojinya, lalu beralih menatap koran di tangannya tanpa benar-benar membacanya. Suasana sunyi itu mendadak pecah oleh suara deru mobil dan dua kali bunyi klakson yang menandakan kepulangan kedua anaknya.
Pintu depan terbuka dengan suara decitan halus. Rose dan Chanyeol melangkah masuk, wajah mereka tampak kuyu dan bahu mereka merosot karena kelelahan.
"Kenapa baru sampai? Ayah sudah menunggu sejak tadi," tanya Ayah langsung pada intinya.
Chanyeol melepaskan sepatunya dengan gerakan malas, lalu menghela napas panjang. "Macet total, Ayah. Ada kecelakaan beruntun di jalan utama, semua kendaraan tidak bisa bergerak hampir dua jam."
Rose yang sudah tidak punya energi lagi langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk, memejamkan mata sejenak. "Memangnya ada apa sih, ayah? Tumben sekali Ayah menunggu kami sampai selarut ini?"
Ayah meletakkan korannya, tatapannya berubah menjadi sangat serius. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu sebelum Ayah akhirnya bicara. "Besok kita kembali."
Rose yang tadinya setengah terlelap langsung terduduk tegak, matanya terbuka lebar. "Kembali? Ke mana?"
"Ke Selandia Baru. Ke rumah kita yang lama," jawab Ayah dengan nada datar, seolah hal itu bukan masalah besar.
"APA?!" Rose memekik, rasa lelahnya hilang seketika digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa. "Kenapa mendadak sekali? Rose baru sekolah satu minggu di sini, Yah! Rose baru saja mulai terbiasa."
Ayah menaikkan satu alisnya, menatap Chanyeol yang mendadak salah tingkah. "Loh... Kakakmu tidak bilang kalau kita ke sini hanya untuk sementara?"
Rose menoleh cepat ke arah Chanyeol. Pemuda jangkung itu menepuk dahinya sendiri, lalu menyengir canggung. "Hehe... maaf, Yah. Sepertinya aku lupa memberi tahu Chae-young karena terlalu asyik mengurus mobil yang mogok terus."
"Kak Chanyeol!!" Rose meraih bantal sofa dan melemparnya tepat ke wajah kakaknya.
"Aduh! Tenang dulu, Dek!" Chanyeol menangkis bantal itu dengan tangan gemetar.
"Dengarkan Ayah dulu," sela Ayah untuk menenangkan suasana. "Rose, tugas Ayah di Korea ternyata selesai jauh lebih cepat dari perkiraan. Proyeknya sukses besar dan sudah rampung minggu ini. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menetap lebih lama di sini. Lagipula, sekolahmu di Auckland juga sudah Ayah urus untuk menerima kamu kembali."
Mata Rose mulai berkaca-kaca. Perasaan sesak mendadak memenuhi dadanya. Ia teringat tawa Lisa, wajah tegas Jennie, kehangatan Jisoo, dan... senyum tipis Jimin saat menyebut namanya dengan ceroboh di kafe tadi sore. "Tapi, Yah... ini terlalu cepat. Rose baru saja punya teman... Rose baru saja merasa punya tempat di sini..." suaranya melemah, nyaris menyerupai bisikan sedih.
"Ayah tahu ini sulit. Tapi tiket pesawat sudah dipesan untuk besok pagi. Sekarang, kalian berdua masuk ke kamar dan kemasi semua barang. Jangan sampai ada yang tertinggal," titah Ayah dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Rose berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Di dalam hati, ia merutuki nasibnya. Baru saja aku mulai mengenal Jimin lebih dekat, sekarang kami harus terpisah jarak ribuan kilometer? batinnya pilu.
Setelah penerbangan panjang yang seolah menguras seluruh sisa energinya, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan di tanah kelahirannya.
📍 Auckland, Selandia Baru Udara segar yang bersih dan aroma padang rumput hijau langsung menyapa mereka begitu mereka turun dari taksi di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang luas dan asri. Rumah itu adalah tempat Rose tumbuh besar sebelum mereka pindah sementara ke Seoul.
"Hah... Akhirnya sampai juga di rumah," ucap Sang Ibu sambil merentangkan kedua tangannya, menghirup udara Auckland yang sangat ia rindukan.
Chanyeol dengan sigap menurunkan tumpukan koper dari bagasi taksi. "Sini, Bu. Biar Chanyeol yang bawa koper Ibu masuk ke dalam," tawar Chanyeol, mencoba menunjukkan bakti setelah semua kekacauan yang ia buat di Seoul.
Melihat kesempatan emas untuk membalas dendam, Rose langsung mendorong dua koper besarnya ke hadapan Chanyeol. "Sekalian punya adik kesayanganmu ini ya, Kak! Makasih Kakak paling ganteng sedunia," ucap Rose dengan wajah polos yang dibuat-buat, lalu melenggang masuk ke rumah dengan tangan kosong.
Mata Chanyeol hampir keluar melihat tumpukan empat koper besar di depannya. "Benar-benar anak ini! Woi, Chae-young! Kembali ke sini!"
"Ayah!! Kak Chanyeol teriak-teriak tidak jelas di depan rumah!" teriak Rose dari ambang pintu, sengaja mengadu.
"Tidak, Yah! Dia bohong! Dia mengerjaiku!" balas Chanyeol panik, takut jatah uang sakunya dipotong karena dianggap tidak akur dengan adiknya.
Rose menjulurkan lidahnya dari balik pintu. "Makanya, kalau mau bicara itu dipikirkan dulu, jangan asal teriak di rumah orang tua."
Darah Chanyeol mendidih, jiwa jahilnya kembali meronta-ronta. Ia menyeret koper-koper itu dengan susah payah sambil menirukan gaya bicara Rose dengan nada yang sengaja dijelek-jelekkan. "Miki-nyi kiliu miu biciri tih dipikirkin dili..." ejek Chanyeol dengan bibir yang dimanyunkan.
"Ih! Benar-benar menyebalkan!" Rose menghentakkan kakinya ke lantai kayu.
"Ih! Binir-binir mi-nyi-bil-kin!" balas Chanyeol, terus mengejek adiknya tanpa henti hingga ia berhasil menyeret koper terakhir masuk ke dalam rumah.
Meski penuh dengan pertengkaran kecil dan rasa sedih yang masih tersisa karena harus meninggalkan Seoul, suasana akrab itu perlahan-lahan mulai terasa seperti rumah kembali. Home sweet home, meski hati Rose seolah tertinggal di sebuah kafe kecil di sudut kota Seoul.
Hbd Bang Nchim 🐣 Sehat selalu, panjang umur, karir sukses. GBU
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.