petunjuk

811 193 0
                                        

Lampu di lantai teratas gedung Company P masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati angka sepuluh malam. Rose duduk di kursi CEO yang terasa terlalu luas baginya. Di hadapannya, tumpukan dokumen menuntut perhatian, namun matanya terus tertuju pada bingkai foto kecil di sudut meja foto dirinya dan Jimin saat perayaan pertunangan mereka.

​Pintu kaca bergeser terbuka. Jungkook melangkah masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak pucat.

​"Direktur, ada sesuatu yang aneh," Jungkook meletakkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas cokelat kusam di atas meja.

​"Paket dari siapa? Aku tidak merasa memesan apa pun," tanya Rose, keningnya berkerut.

​Jungkook merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Cap posnya dari Filipina Selatan. Daerah kepulauan terpencil. Lokasinya... hanya terpaut beberapa mil laut dari koordinat terakhir hilangnya pesawat Park Jimin."

Jantung Rose seolah berhenti berdetak. Jemarinya yang gemetar merobek kertas pembungkus itu. Di dalamnya terdapat sebuah korek api Zippo perak yang sudah kusam, namun ukiran inisial P.J.M di permukaannya masih terlihat jelas.

​"Ini milik Jimin," bisik Rose.

Rose berdiri, aura kepemimpinannya kembali dengan kekuatan penuh. Rasa duka yang setahun ini melumpuhkannya kini bermutasi menjadi tekad yang membara.

​"Jungkook, siapkan penerbangan pribadi ke Manila lusa. Hubungi koneksi kita di kedutaan secara rahasia. Jangan ada satu pun keluarga yang tahu, termasuk Chanyeol. Katakan pada mereka aku ada negosiasi mendesak dengan klien di Singapura. Kamu mengerti?"

​"Tapi Direktur, resikonya —"

​"Aku tidak peduli," potong Rose tajam. Tatapannya dingin namun penuh harapan. "Jimin mungkin masih hidup, dan aku tidak akan membiarkannya menunggu lebih lama lagi."

🐿

​Di dalam kabin jet pribadi yang sunyi, Rose dan Jungkook duduk berhadapan dengan korek api itu berada di tengah mereka. Rose terus mengamati ukiran tambahan di sisi bawah korek tersebut: H-4. G-I.

​"H-4... G-I..." Jungkook menuliskan kode itu berulang kali di buku catatannya. "Mungkin nama hotel? Atau titik koordinat yang disederhanakan?"

​Rose menggeleng, matanya menyipit. "Jimin tidak pernah menggunakan kode umum jika itu darurat. H-4 adalah kode internal brankas pribadinya di rumah ini. Itu lokasi dokumen paling rahasia yang pernah dia simpan. Tapi apa hubungannya dengan G-I?"

​Tiba-tiba, sebuah memori masa sekolah mereka terlintas. Kenangan saat mereka berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan, merencanakan pelarian konyol ke tempat-tempat yang tak ada di peta.

​"Grid Island," ucap Rose lirih. "Kami dulu punya lelucon tentang pulau terpencil di Laut Sulu yang kami sebut 'G-I'. Itu adalah satu-satunya wilayah yang belum tersisir tuntas oleh tim penyelamat karena medannya yang berbahaya dan tertutup hutan tropis yang rapat. Dia memberitahuku di mana dia berada, Jungkook."

Udara lembap dan gerah menyambut mereka saat mereka sampai di sebuah kantor pos kecil di pinggiran kota yang lusuh. Rose masuk dengan kacamata hitam, namun aura otoritasnya tetap tidak bisa disembunyikan.

​Jungkook menunjukkan foto Jimin kepada seorang petugas wanita tua yang tampak ketakutan. "Apa pria ini yang mengirim paket itu?"

​Wanita itu menggeleng cepat. "Bukan. Itu nelayan lokal. Tangannya kasar dan kulitnya sangat gelap terbakar matahari. Dia datang membawa paket itu dengan terburu-buru, seolah-olah dia sedang menjalankan misi hidup dan mati."

​"Apa dia mengatakan sesuatu?" desak Rose, suaranya terdengar mendesak.

​"Dia bilang... dia menemukan benda itu di dalam sebuah perahu kecil yang hanyut dari arah selatan. Dia diperintah untuk mengirimnya ke alamat yang tertera di kertas yang ada di dalam perahu itu. Dia dibayar dengan ini," wanita itu mengeluarkan sebuah koin perak tua yang berkilau.

​Rose menarik napas tajam. Itu adalah koin keberuntungan milik Jimin sebuah koin perak edisi terbatas yang selalu ia bawa di saku jasnya setiap kali ia melakukan perjalanan jauh.

​"Perahu kecil?" Jungkook memastikan.

​"Ya, Señora. Dia bilang perahu itu hancur, tapi seseorang telah membangun perlindungan kecil di dalamnya sebelum akhirnya terdampar."

​Rose berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu yang berderit. Ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Harapan yang tadi hanya berupa percikan kini telah menjadi api yang siap melahap apa pun yang menghalangi jalannya.

​"Jungkook, batalkan semua rencana pencarian pengirim," perintah Rose saat mereka kembali ke mobil. "Kita tidak akan membuang waktu di sini."

​"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Direktur?"

​Rose menatap lurus ke depan, ke arah pelabuhan yang jauh. "Kita akan menyewa tim keamanan swasta terbaik. Kita berangkat ke Laut Sulu sekarang juga. Ke Grid Island."

ECHOES OF ROSEANNE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang