Hari H

982 195 13
                                        

​Aroma parfum maskulin dan kayu cendana memenuhi ruangan. Chanyeol berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang panjang tampak sedikit gemetar saat merapikan dasi kupu-kupunya. Tuksedo hitam custom-fit itu membalut tubuh tegapnya dengan sempurna.

​Pintu terbuka dengan hentakan kecil. Rose melangkah masuk, gaun soft pink-nya berkibar. Ia berhenti sejenak, menatap kakaknya dari pantulan cermin dengan mata yang mulai berkaca-kaca, meski mulutnya berkata lain.

​"Astaga, lihat siapa yang sebentar lagi jadi milik orang lain," Rose mencibir sembari mendekat. "Setelah ini, jangan harap bisa pulang ke rumah cuma buat numpang makan tanpa izin istrimu, ya. siap-siap saja aku tendang dari grup keluarga!"

​Chanyeol mendengus, tersenyum tipis tanpa menoleh. "Bukannya memberi dukungan mental, kamu malah datang membawa ancaman. Sopan sekali."

​"Aku baru akan memberi ucapan selamat kalau kamu sudah sah berdiri di sana. Sekarang? Kamu masih Kakakku yang menyebalkan," Rose menjulurkan lidah, lalu dengan jahil menyenggol bahu Chanyeol.

​"Benar-benar anak ini..." Chanyeol menghela napas, berusaha tetap sabar.

​"Wah, wajahmu merah! Kamu marah padaku di hari pernikahanmu sendiri? Luar biasa!" goda Rose lagi, tawanya pecah melihat ekspresi frustrasi kakaknya.

​"Kamu gila, ya? Marah pun masih kamu goda!"

​Rose langsung memasang wajah defensif yang dibuat-buat. "Beraninya mengataiku gila! Aku akan lari ke ruang tunggu sebelah dan menghasut Kak Wendy agar dia berubah pikiran sekarang juga!"

​"Yak! Park Chae-young!" Chanyeol refleks mengacak rambut adiknya dengan gemas hingga tatanannya sedikit berantakan.

​"Yak! Park Chae-young!" Chanyeol refleks mengacak rambut adiknya dengan gemas hingga tatanannya sedikit berantakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lampu aula meredup, menyisakan sorot lampu kuning hangat yang mengarah ke altar. Rose duduk di barisan depan, matanya tak lepas dari sosok kakaknya yang kini berdiri tegak di ujung jalan setapak bertabur kelopak bunga.

​Dia benar-benar terlihat seperti pria dewasa hari ini, batin Rose. Kalau biasanya dia hanya terlihat seperti pengangguran dengan kaos oblong di depan TV, hari ini dia benar-benar terlihat bisa diandalkan.

​Pintu besar di ujung aula terbuka. Musik organ mulai mengalun lembut. Wendy muncul, dibalut gaun putih dengan siluet yang sangat elegan. Cahaya lampu seolah memantul dari kulitnya, membuatnya tampak tidak nyata.

 Cahaya lampu seolah memantul dari kulitnya, membuatnya tampak tidak nyata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rose menahan napas sejenak. "Astaga, dia benar-benar cantik. Kenapa Kak Wendy mau dengan pria seperti Kakakku, ya? Dia seperti bidadari yang salah mendarat." Rose bergumam sendiri, hatinya dipenuhi rasa haru yang tak terbendung hingga ia harus berkali-kali mengerjapkan mata agar maskaranya tidak luntur.

​Ibadah pemberkatan berlangsung khidmat. Suasana haru menyelimuti ruangan saat janji suci diucapkan. Namun, keheningan itu sedikit terdistorsi oleh suara-suara aneh dari barisan belakang tempat para sahabat mereka berkumpul.

​Suasana formal yang elegan itu seketika berubah menjadi festival saat teman-teman mereka mengambil alih suasana.

​Di sudut kanan, Suga tampak tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka di kursi tamu yang empuk, mengabaikan dentuman musik.
​Jin baru saja memenangkan perhatian semua orang dengan teriakan melengkingnya saat berebut bunga, seolah-olah dia adalah pemandu sorak profesional.

​Sementara itu, Jungkook dan Taehyung sedang melakukan kompetisi dance-off dadakan di pinggir lantai dansa yang membuat tamu-tamu tua hanya bisa geleng-geleng kepala sembari memegangi gelas sampanye mereka.

​Rose berjalan membelah keramaian menuju pelaminan. Ia memeluk Wendy dengan erat.

​"Selamat, Kak wendy. Tolong sabar menghadapi manusia satu ini, ya," bisik Rose tulus sambil melirik Chanyeol.

​"Terima kasih, Chae-young. Sekarang kita benar-benar jadi keluarga," jawab Wendy lembut, senyumnya memancarkan kebahagiaan murni.

​"Terima kasih ya, Dek," tambah Chanyeol, mengusap kepala Rose dengan tulus kali ini tanpa merusak rambutnya.

​Rose menyeringai lebar, mendekatkan bibirnya ke telinga mereka berdua. "Sama-sama. Semoga segera ada keponakan kecil yang mirip Kak Wendy saja, jangan mirip kak Chanyeol. Semangat malam pertamanya!"

​Sebelum Chanyeol sempat memproses kata-kata itu, Rose sudah melesat pergi, tertawa kencang sambil menghilang di antara kerumunan tamu.

​"Park Chae-young! Kembali kamu! Baru saja aku mau bicara manis!" seru Chanyeol, tak bisa menahan emosi meski wajahnya sedikit memerah.

​Wendy tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol. "Adikmu benar-benar menggemaskan."

​"Dia itu bencana kecil yang menyenangkan," balas Chanyeol lembut, menggenggam tangan Wendy erat sembari menatap adiknya yang kini sedang asyik ikut mengacau bersama Jungkook di kejauhan.

​Jimin tidak datang di antara kerumunan itu. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Rose: "Maaf aku tidak bisa di sana, urusan di luar negeri benar-benar gila. Sampaikan selamat untuk mereka."

ECHOES OF ROSEANNE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang