Pagi itu, suasana di kelas terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar seolah kehilangan semangatnya. Jisoo menopang dagu dengan satu tangan, matanya menatap kosong ke arah bangku kayu di sebelahnya yang kini tak berpenghuni. Sudah dua hari bangku itu kosong, dan pemiliknya hilang tanpa jejak.
"Dua hari," gumam Jisoo lesu. "Chat di grup tidak ada yang dibaca, telepon pun dialihkan ke kotak suara. Chae-young benar-benar menghilang."
Lisa, yang duduk tepat di depan Jisoo, memutar tubuhnya ke belakang. Wajahnya yang biasa ceria kini tampak layu. "Iya, rasanya aneh sekali. Biasanya dia sudah heboh bercerita tentang drama yang dia tonton semalam. Sekarang? Sunyi sekali."
Jennie datang menghampiri mereka sambil menyesap susu kotak, lalu ikut duduk di pinggiran meja. "Aku juga punya firasat tidak enak. Apa mungkin dia sakit parah? Atau jangan-jangan dia ada masalah keluarga yang mendadak?"
"Jangan bicara yang aneh-aneh," sela Jisoo sambil melempar penghapus kecil ke arah Jennie. "Begini saja, pulang sekolah nanti kita ke rumahnya. Kita jenguk langsung supaya tidak mati penasaran."
"Setuju! Pokoknya kita harus tahu apa yang terjadi," sahut Lisa dengan semangat yang kembali sedikit berkobar.
Sore harinya, langit Seoul mulai berubah jingga saat ketiga gadis itu berdiri di depan gerbang sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit. Namun, pemandangan di hadapan mereka tidak seperti biasanya. Gerbang itu tertutup rapat, dan lampu teras yang biasanya menyala otomatis saat senja kini tetap padam.
Jennie menekan bel berkali-kali. Ting tong... Ting tong...
Tidak ada jawaban. Suasana di dalam rumah tampak gelap gulita. "Sepertinya memang tidak ada orang," ucap Jennie, mulai merasa cemas.
"Tapi tidak mungkin semuanya pergi tanpa pamit, kan?" tanya Lisa sambil mencoba mengintip dari celah gerbang. "Sepi sekali, seperti tidak pernah ada yang tinggal di sini."
Jisoo menggigit bibir bawahnya, perasaan cemasnya semakin menjadi. "Lalu sekarang bagaimana? Masa kita pulang begitu saja?"
Baru saja mereka hendak berdiskusi lebih lanjut, seorang petugas keamanan komplek yang sedang berpatroli dengan sepeda perlahan mendekat. Ia menghentikan sepedanya tepat di samping mereka. "Sore. Ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari siapa?" tanya petugas itu ramah.
"Sore, Pak. Kami sedang mencari teman kami yang tinggal di sini. Namanya Roseanne Park," jelas Lisa dengan nada sopan.
Petugas itu mengangguk paham, namun ekspresi wajahnya berubah seolah membawa kabar yang berat. "Oh, keluarga Tuan Park. Wah, kalian terlambat dua hari. Mereka sudah pindah."
Ketiganya mematung. "Pindah?" tanya Jisoo dengan suara bergetar.
"Iya. Katanya urusan pekerjaan Ayahnya sudah selesai. Mereka langsung berangkat kembali ke Selandia Baru dua hari yang lalu. Rumah ini sekarang sedang dalam proses untuk dijual," jelas petugas itu lagi.
Kabar itu menghantam mereka bagaikan petir di siang bolong. New Zealand? Itu bukan sekadar pindah lingkungan atau kota, itu adalah perpindahan antar benua.
"Terima kasih banyak infonya, Pak," ucap Jennie lemah.
Begitu petugas itu berlalu, Lisa memegang dadanya dengan ekspresi tidak percaya. "Selandia Baru? Itu sangat jauh... Kenapa dia tidak bilang apa-apa pada kita?"
Jisoo menunduk, menatap ujung sepatunya dengan mata berkaca-kaca. "Pantas saja ponselnya tidak aktif. Mungkin dia terlalu sibuk atau... dia tidak sanggup mengucapkan perpisahan."
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHOES OF ROSEANNE [END]
Fiksi PenggemarRoseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa, Jennie, dan Jisoo. Namun, ketenangan Rose t...
![ECHOES OF ROSEANNE [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k346828.jpg)