Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa, Jennie, dan Jisoo. Namun, ketenangan Rose t...
Sinar matahari pagi di Auckland menyusup masuk melalui celah gorden, namun ketenangan itu segera pecah oleh suara langkah kaki yang menghentak lantai kayu dengan ritme yang tidak sabar. Rose atau kini lebih sering dipanggil Chae-young di rumah mondar-mandir di depan pintu kamar kakaknya. Wajahnya ditekuk dalam, bibirnya mengerucut membentuk garis kesal.
"Cepat sedikit, Kak! Tokonya bisa keburu tutup atau mungkin dunia akan kiamat karena saking lamanya Kakak berdandan!" teriak Chae-young sambil menghantam pintu kayu itu dengan kepalan tangannya.
Sudah satu jam penuh Chanyeol mendekam di dalam kamar. Chae-young mulai curiga jangan-jangan kakaknya itu sedang melakukan ritual kecantikan yang rumit atau mungkin malah tertidur lagi di depan cermin. Baginya, satu jam tanpa ponsel di negeri orang terasa seperti terdampar di pulau terpencil tanpa harapan.
Cklek.
Pintu akhirnya terbuka, mengeluarkan semerbak wangi parfum maskulin yang sangat kuat. Chanyeol melangkah keluar dengan rambut yang tertata sangat rapi menggunakan pomade, mengenakan kemeja yang disetrika licin, dan sebuah senyum percaya diri yang sangat narsis.
"Nah, sekarang aku sudah siap. Ayo berangkat, Tuan Putri," ajak Chanyeol santai, seolah ia tidak baru saja membuang waktu berharga adiknya.
Chae-young tidak bergerak. Ia hanya diam, menatap kakaknya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan datar yang menusuk. Chanyeol yang merasa diperhatikan justru semakin menaikkan dagunya, merasa bahwa ketampanannya hari ini benar-benar tidak tertandingi.
"Kenapa? Terpesona ya? Akui saja, kakakmu ini memang terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa, kan?" goda Chanyeol sambil menyisir jambulnya menggunakan jari.
Chae-young memutar bola matanya malas, lalu menunjuk ke arah celana kakaknya dengan jari telunjuk. "Narsisnya disimpan dulu. Itu... ritsleting celanamu masih terbuka lebar. Sepertinya 'jendelanya' lupa ditutup, apa Kakak ingin masuk angin di hari pertama kita jalan-jalan?"
Chanyeol refleks menunduk. Matanya membelalak horor saat menyadari pemandangan itu. Dengan kecepatan cahaya, ia membalikkan badan dan menarik ritsletingnya ke atas. Srettt!
"Hehe... aku lupa," Chanyeol berbalik lagi dengan wajah yang sudah merah padam hingga ke telinga. "Terima kasih sudah diingatkan. Untung kita belum keluar rumah, bisa hancur reputasiku." Ia mencoba menutupi rasa malunya dengan mengusap puncak kepala Chae-young dengan gemas.
"Jangan diberantakin juga rambutku!" omel Chae-young sambil menepis tangan kakaknya. "Sudah, ayo cepat berangkat!"
Setelah melewati perjalanan yang penuh dengan perdebatan kecil di dalam mobil, Chae-young akhirnya kembali ke kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Di tangannya kini tergenggam sebuah kotak ponsel keluaran terbaru yang aromanya masih sangat khas barang baru. Ia segera merebahkan diri di atas tempat tidur empuknya, menyalakan benda pipih itu dengan penuh antusias.
"Akhirnya... aku kembali ke peradaban," gumamnya lega.
Ia segera mengunduh kembali aplikasi media sosial dan perpesanan. Jantungnya berdebar halus saat ia mulai memulihkan akun-akun lamanya. Sesaat setelah aplikasi itu terpasang sempurna, ponsel barunya seolah "meledak".
Ting! Ting! Ting! Ting!
Instagram
📍Auckland, New Zealand
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❤ 5.268 💬 3.020 roses_are_rosie New Phone
Rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi, membuat ponselnya bergetar hebat di atas kasur. Namun, kegembiraannya mendadak terhenti saat ia menatap daftar kontak yang masih sepi. Chae-young baru menyadari sebuah kenyataan pahit: ia tidak menghafal satu pun nomor telepon teman-temannya di Korea.
"Bodoh sekali... kenapa aku tidak mencatatnya di buku?" gumam Chae-young sambil mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba mengingat-ingat.
Namun, otaknya segera menemukan solusi. Di era digital seperti ini, kehilangan nomor telepon bukanlah akhir dari segalanya. "Anak-anak populer seperti mereka pasti punya akun Instagram," pikirnya penuh semangat.
Jari-jemarinya dengan lincah membuka aplikasi Instagram. Dengan semangat yang meluap-luap, ia mulai mengetikkan nama-nama yang sudah ia rindukan selama seminggu terakhir di kolom pencarian.
Ketik: Kim Jisoo... Ketik: Jennie Kim... Ketik: Lalisa Manoban...
Mata Chae-young berbinar terang saat satu per satu foto profil yang sangat ia kenali muncul di layar. Ia memekik senang, merasa jembatan yang sempat terputus antara Auckland dan Seoul kini mulai terhubung kembali. Senyumnya melebar saat ia menekan tombol 'Ikuti' pada akun teman-temannya, bersiap untuk menjelaskan segala kekacauan yang terjadi selama ia menghilang.