Bantet yang Asing

954 188 0
                                        

​Kabar kepulangan Park Jimin meledak seperti bom di pusat keuangan Seoul. Di gedung pencakar langit yang berbeda, dua orang menanggapi berita ini dengan kalkulasi yang sangat matang.

​Vernon duduk di ruang rapatnya yang mewah, menatap layar besar yang menampilkan foto Jimin yang tampak kuyu saat tiba di Seoul. Ia menyandarkan punggungnya, memutar-mutar pulpen mahal di jemarinya. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Baginya, amnesia Jimin adalah sebuah anugerah takdir.

​Jika kamu kembali sebagai pria tanpa memori, maka kamu hanyalah tubuh tanpa jiwa, batin Vernon. Ia tidak ingin menghancurkan Jimin yang sekarang itu terlalu mudah dan tidak menantang. Ia ingin menunjukkan pada Rose bahwa seorang pria yang rapuh tidak akan bisa melindunginya. Ia akan menjadi sosok yang paling bisa diandalkan, pria yang berdiri tegak saat Jimin hanya bisa bersandar.

​Di sisi lain kota, Somi menutup laptopnya dengan hentakan pelan. Ia merasa lega sahabatnya kembali, namun otaknya langsung bekerja secara mekanis. Rose akan lumpuh secara emosional untuk sementara waktu, dan Company P tidak boleh goyah.

​"Ini bukan sekadar membantu teman," gumam Somi pada asistennya. "Ini tentang menjaga stabilitas pasar. Jika aku bisa menjaga perusahaan Rose tetap di puncak saat dia sedang hancur, maka tidak akan ada lagi yang meragukan kemampuanku." Somi segera memakai blazer-nya, bersiap mengambil alih kemudi sebelum badai spekulasi media menghancurkan saham mereka.

​Suasana di rumah keluarga Park sangat kontras dengan hiruk-pikuk di luar. Rose baru saja selesai membantu Jimin mengganti pakaiannya dengan piyama sutra yang lembut. Pria di hadapannya ini terlihat begitu bersih, namun tatapannya kosong seperti kanvas putih yang belum tersentuh warna.

​Pagi itu, Rose masuk membawa nampan berisi bubur hangat. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari wajah Jimin yang sedang duduk bersandar di bantal.

​"Selamat pagi," sapa Rose lembut, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

​Jimin menoleh. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Rose dengan rasa ingin tahu yang hati-hati, seperti seorang pengembara yang baru tiba di negeri asing. "Maaf... Anda siapa?" tanya Jimin dengan nada yang sangat sopan dan formal.

​Langkah Rose terhenti sesaat. Rasanya seperti ada belati yang menusuk dadanya, namun ia segera memasang senyum terbaiknya. "Aku Roseanne. Panggil saja Rose. Aku... tunanganmu." Rose memperlihatkan cincin di jari manisnya.

​Jimin menatap cincin itu, lalu kembali menatap mata Rose. "Tunangan? Maafkan saya. Saya tidak ingat pernah memiliki seseorang sepertimu. Apakah selama ini saya memperlakukan Anda dengan baik?"

​Rose tertawa kecil, sebuah tawa getir yang ia tutupi dengan kesibukan mengaduk bubur. "Kamu? Kamu itu pria paling menyebalkan yang pernah kukenal. Kamu sombong, posesif."

​Jimin memiringkan kepalanya, mencoba mencari secercah ingatan di balik kata-kata itu, namun wajahnya hanya menunjukkan rasa sakit karena kebingungan.

"Kamu juga tidak ingat Taehyung? Atau Namjoon? Sahabat-sahabatmu yang sering membuat kerusuhan?"

​Jimin hanya terdiam, lalu menunduk lesu. "Hanya ada kegelapan di kepala saya. Saya minta maaf karena telah mengecewakanmu, Roseanne."

​Mendengar panggilan formal itu, Rose tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela, menyeka pipinya dengan kasar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali serpihan harga dirinya sebagai CEO yang tak terkalahkan.

​Rose berbalik. Kali ini, auranya berubah. Ia bukan lagi wanita yang sedang berduka, melainkan wanita yang siap berperang melawan takdir.

​Ia berjalan mendekat, duduk di tepi tempat tidur, dan menggenggam tangan Jimin dengan erat genggaman yang posesif. "Dengar baik-baik, Park Jimin. Kamu mungkin lupa siapa aku, tapi aku tidak akan membiarkanmu lupa selamanya."

​Jimin menatapnya dengan bingung.
​"Aku Roseanne Park. Aku adalah CEO yang jauh lebih hebat darimu, dan aku adalah wanita yang akan kamu cintai kembali, mau atau tidak. Aku tidak butuh kamu mengingat masa lalu jika itu menyakitkan. Aku akan membangun masa depan yang baru untukmu. Mengerti?"

​Rose mendekat, mengecup kening Jimin dengan lembut namun penuh penekanan. "Istirahatlah. Aku akan membereskan dunia untukmu."

​Di ruang tamu, Jungkook menyerahkan sebuah kartu yang baru saja tiba bersama buket mawar merah yang sangat besar. Rose membacanya dengan tatapan dingin.

Selamat datang kembali, Jimin. Seoul merindukanmu. Roseanne terlihat sangat lelah belakangan ini. Jika kamu butuh waktu untuk memulihkan diri, aku tidak keberatan menemani tunanganmu agar dia tidak merasa kesepian.
— Vernon.

​Rose meremas kartu itu hingga hancur di tangannya. Ia menatap buket bunga itu seolah-olah itu adalah sampah.

​"Jungkook," panggil Rose tanpa menoleh.

​"Ya, Direktur?"

​"Buang bunga ini ke tempat sampah. Dan sampaikan pada Somi di kantor, jangan biarkan satu pun celah untuk Vernon masuk. Permainan baru saja dimulai."

​Rose menoleh ke arah tangga, ke arah kamar di mana Jimin berada. Ia tahu perjalanannya akan berat, tapi Park Roseanne tidak pernah kalah dalam negosiasi apa pun, apalagi negosiasi tentang cinta.

ECHOES OF ROSEANNE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang