Calon suami

853 198 5
                                        

Akhir pekan di Seoul biasanya menjadi waktu bagi para eksekutif untuk bersantai, namun bagi Rose, Sabtu pagi ini diawali dengan selembar daftar belanjaan yang panjangnya nyaris menyentuh lantai. Ia keluar dari kamar dengan langkah gontai, menatap kertas itu seolah sedang meninjau laporan kerugian perusahaan.

​"Ibu, apa daftar ini serius? Kita mau buka restoran atau bagaimana?" tanya Rose sambil membolak-balik kertas tersebut.

​"Hanya belanja bulanan biasa, Chae-young. Tolong belikan ya, nanti Ibu buatkan es krim buah kesukaanmu," sahut Ibu dari arah dapur dengan nada yang tak bisa dibantah.

​Rose menghela napas panjang. Membayangkan harus berdesakan di pasar swalayan saat akhir pekan adalah mimpi buruk bagi seorang CEO yang biasanya hanya berkutat dengan dokumen digital. Namun, lamunannya buyar saat sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar tepat di belakang telinganya.

​"Wajahmu ditekuk begitu, makin mirip kucing pemarah, Sayang."

​Rose tersentak, hampir saja ia melempar daftar belanjaan itu ke wajah pria di belakangnya. "Sial! Kamu mau membuatku mati muda? Baguslah kamu datang, cepat bantu aku belanja!" Rose langsung menarik lengan baju Jimin tanpa memberinya kesempatan untuk protes.

​"Tunggu dulu! Aku bahkan belum memakai sepatu dengan benar!" protes Jimin sambil tertatih mengikuti langkah cepat Rose.

​"Pakai saja sandal jepit satpam di depan kalau perlu! Kita ke pasar, bukan ke peragaan busana, Jimin!" Rose mendengus, mencoba menahan senyum saat melihat Jimin yang biasanya rapi kini tampak sedikit berantakan karena ditarik paksa.

Pasar swalayan pagi itu sangat ramai. Di lorong daging, Jimin berdiri dengan wajah bingung, memegang sebuah kemasan daging beku seolah sedang memecahkan kode rahasia negara.

​"Sayang, ini... ini ayam, kan?" tanyanya ragu.
​Rose melirik kemasan itu dan memutar bola matanya. "Kenapa kamu mengambil daging sapi? Taruh kembali sebelum aku kehilangan kesabaran." Rose mengambil kemasan ayam yang benar dan memasukkannya ke troli.

​"Maaf, kalau soal telur aku paham, tapi kalau daging hewan yang sudah dipotong-potong begini... aku menyerah. Aku kan ikan," celetuk Jimin sambil menyeringai.

​"Kamu ikan? Kalau begitu batalkan saja pertunangan ini. Aku tidak mau menikah dengan makhluk air," balas Rose datar, sengaja mempercepat langkahnya meninggalkan Jimin.

​"Tunggu! Jangan cepat-cepat! Napasku habis mengejarmu!" seru Jimin sambil terengah-engah mendorong troli. "Aku hanya bercanda. Kamu tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihat wajah tampanku ini, kan?" Jimin kemudian memasang wajah aegyo andalannya, membuat beberapa ibu-ibu di sekitar mereka menoleh sambil berbisik.

​"Rasanya aku ingin muntah," gumam Rose, berpura-pura mual meski jantungnya berkhianat dengan berdetak lebih cepat. Ia segera menuju kasir untuk mengakhiri penderitaan sosial ini.

​Saat barang-barang sudah dikemas, Rose menunjuk tumpukan kantong belanjaan di depan Jimin. "Nah, bawa semua itu ke mobil. Anggap saja ini olahraga pagi."

​Jimin terperangah. "Sebanyak ini? Kamu tidak mau membantuku sedikit pun?" tanyanya sambil hanya meraih seikat sayuran kecil.

​Rose menatapnya dengan tatapan "Direktur" yang paling dingin. "Bawa semuanya, Jimin. Aku tidak suka calon suamiku menjadi pria pemalas."

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Rose tepat setelah kalimat itu keluar. Ia membeku. Kata "suami" itu meluncur begitu saja tanpa permisi dari bibirnya. Satu detik kemudian, wajah Jimin berubah drastis dari lelah menjadi sangat berseri-seri, seolah ia baru saja memenangkan penghargaan pengusaha terbaik tahun ini.

​"Oh? Barusan kamu bilang apa? Suami? Jadi kamu sudah tidak sabar ingin mempercepat pernikahan kita, ya?" goda Jimin dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.

​"Pergi sana! Bawa barang-barangnya!" Rose mendorong troli itu ke arah Jimin dan berjalan cepat menuju parkiran dengan wajah yang panas membara.

​Sesampainya di rumah, Rose segera menaruh belanjaan di dapur. "Ibu, ini semua pesanannya."

​Ibu Rose menoleh dan melihat Jimin yang mengekor di belakang sambil menjinjing tas belanjaan yang berat. "Lho, menantu Ibu ada di sini juga? Ayo duduk dulu, Nak."

​"Terima kasih, Jimin, sudah membantu. Aku ke atas dulu," ucap Rose seformal mungkin, mencoba memulihkan harga dirinya yang jatuh di swalayan tadi.

​Saat Jimin hendak menyusul ke lantai atas, Ibu Rose berseru dengan nada ceria namun mengandung ancaman nyata. "Jimin, ingat ya, jangan macam-macam di atas! Kalau sampai kamu berani nakal, Ibu sendiri yang akan memastikan masa depanmu tidak akan pernah bisa membuahkan keturunan!"

​Jimin menelan ludah, tersenyum kecut ke arah calon mertuanya yang luar biasa itu. "Ngeri sekali, Ibu..."

​Di depan pintu kamar, langkah Jimin dihentikan oleh Somi yang baru saja keluar. "Mencari Rose? Dia sedang mandi. Tunggu saja di luar kalau kamu tidak mau dipalak olehnya," ketus Somi.

​Jimin sempat melamun sejenak membayangkan sesuatu, namun Somi segera menyadarinya. "Kenapa wajahmu berubah mesum begitu?! Mau mengintip? Berani kamu melakukannya, aku lapor pada Ibu sekarang juga!"

​"Jangan! Aku tidak kepikiran apa-apa!" seru Jimin panik. Ia pun memilih menyerah dan segera turun ke lantai bawah sebelum situasi semakin berbahaya bagi keselamatannya.

​Sore harinya, Jimin tiba di sebuah tempat biliar eksklusif di pusat Seoul. Ia terlambat hampir satu jam, namun di tangannya ada kotak kue pemberian Ibu Rose. Di dalam, Taehyung dan Jungkook sedang asyik bermain, sementara Namjoon duduk di sudut dengan laptopnya.

​"Lihat siapa yang datang! Calon pengantin baru kita akhirnya muncul!" seru Taehyung, meletakkan stik biliarnya.

​"Kenapa lama sekali? Pasti urusan 'darurat' dengan Direktur Rose, ya?" ledek Jungkook sambil menyenggol bahu Taehyung.

​Jimin meletakkan kotak kue itu di atas meja. "Makan ini. Ini dari calon mertuaku. Jangan banyak protes."

​Namjoon menutup laptopnya, menatap Jimin dengan serius. "Kami tidak butuh suap. Kami butuh cerita. Kenapa kau mendadak menghilang selama dua hari ini, Jimin?"

​Jimin duduk di salah satu kursi tinggi, meraih stik biliar, dan menarik napas panjang. Senyum bangga yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah. "Dengarkan baik-baik. Aku dan Rose resmi bertunangan."

​Suara bola biliar yang dipukul Taehyung seketika terhenti.

​"Hahaha! Aku tahu kalian akan berakhir bersama, tapi secepat ini?" Taehyung tertawa sembari memeluk bahu Jimin. "Kamu tidak sedang diancam oleh perusahaannya, kan?"

​"Bukan. Justru aku yang memohon pada orang tuaku agar kami dijodohkan," jawab Jimin santai, namun matanya memancarkan ketulusan.

​"Dia seorang CEO yang tegas, Jim. Kamu siap menjadi pendamping wanita sekuat dia?" tanya Namjoon, kali ini dengan nada seorang kakak yang bijak.

​Jimin menyandarkan stik biliarnya di bahu. "Justru karena dia seorang pemimpin yang hebat, aku semakin mencintainya. Dia cerdas, berani, dan jujur saja... aku sudah menyukainya sejak SMA. Aku tidak peduli betapa galaknya dia di kantor, karena bagiku dia adalah wanita yang paling berharga."

​"Termasuk saat dia menampolmu di swalayan?" ledek Jungkook yang entah bagaimana bisa tahu kejadian pagi tadi.

​Jimin mendesis, mencoba menutupi rasa malunya. "Ssst! Jangan bahas itu! Yang penting, dia sudah menerimaku. Bahkan tadi pagi, dia tidak sengaja memanggilku 'suami'. Sepertinya dia memang ingin segera menikah denganku."

​Taehyung dan Jungkook tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Jimin yang terlalu percaya diri itu. Mereka kemudian mengangkat gelas soda masing-masing.

​"Cheers! Untuk Jimin, pria pemberani yang akan menikahi macan betina kebanggaan Company P!" seru Taehyung.

​Di tengah tawa teman-temannya, Jimin hanya bisa tersenyum. Ia tahu jalannya ke depan tidak akan mudah, apalagi menghadapi Rose yang keras kepala. Namun, selama ia bisa mendengar Rose memanggilnya seperti tadi pagi, Jimin yakin ia sanggup menghadapi apa pun.

ECHOES OF ROSEANNE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang