⚠️ Don't forget to vote and comment sebagai dukungan buat author ⚠️
📍 Ini Chapter flashback yah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌼🌼🌼
" Yoonbin makanlah...Bibi Lee sudah membuatkan makanan untukmu. " Irene menghampiri Anak semata wayangnya yang sedang merenung menatap kosong kearah jalanan dari balik jendela kamarnya.
" Aku tidak mau makan Ibu..aku ingin Jijoon. " Irene mendesah kecil, semenjak Jihoon memutuskan untuk pindah ke LA Yoonbin menjadi seorang yang pendiam. Sering mengabaikan makan, dan tidak ekpresip seperti biasanya. Irene mengerti, jika anaknya itu merasa amat sangat kehilangan temannya yang selalu menemaninya bermain.
" Jika kau ingin bertemu dengan Jihoon, kau harus makan. Agar kau tumbuh besar, dan kau bisa menyusul Jihoon ke LA..bagaimana?" Yoonbin menoleh kearah perempuan yang sudah melahirkannya itu.
" Benarkah? Apa Ibu tidak bohong? Irene tersenyum lembut, dia mengelus surai halus milik Sang Anak.
" Ibu tidak pernah berbohong padamu, ayo makan..agar kau cepat tumbuh besar. " Yoonbin mengangguk, dia berlari dengan semangat mendahului Ibunya.
" Mereka sangat tergantung satu sama lain, cepatlah dewasa nak. Agar kau bisa lebih mengerti bagaimana hubunganmu dengan Jihoon yang sebenarnya. "
•••
Kehidupan di LA tidak semenyenangkan yang Jihoon bayangkan sebelumnya. Dia memang mempunyai banyak teman, tetapi tak ada satupun dari mereka yang berminat memulai pertemanan dengannya. Jihoon selalu sendiri, dia selalu menatap iri bagaimana teman-temannya yang lain bermain dengan begitu riangnya. Jihoon merindukan Yoonbin, andai saja Yoonbin ikut bersamanya..dia tidak akan pernah kesepian.
" Hei anak baru tangkaplah!" Belum sempat Jihoon menoleh sebuah bola melayang kearahnya dan mengenai bahunya dengan keras. Mereka tertawa puas melihat Jihoon yang meringis kesakitan.
" Si gendut itu, dia seperti babi korea. " Tawa nyaring lagi-lagi memekakan indera pendengaran Jihoon.
Jihoon menunduk matanya memanas, dia ingin menangis tetapi tak mau terlihat semakin lemah dimata anak-anak nakal itu.