55

3.2K 292 13
                                        

"Dia siapa?"

Ali menggenggam tangan Prilly. Prilly tak henti-hentinya menangis akibat melihat Ali bersama wanita lain. Istri mana yang tidak salahpaham jika suaminya sendiri bertemu dengan wanita lain walau pun di dampingi oleh pria lain dan juga, Ali tidak memberitahunya akan bertemu dengan siapa.

Tentunya sangatlah menyakitkan.

"Kamu salahpaham."

"Iya aku salahpaham. Terus siapa dia?"

"Dia cuman klien aku."

"Boong!!"

Prilly menepis tangan Ali yang memegang tangannya. Ali melihat sekitarnya. Beruntung ia memesan ruangan khusus untuknya dan Prilly.

"Yaudah-yaudah. Dia memang klien aku, sekaligus mantan aku," ujar Ali terus terang pada Prilly.

Prilly melebarkan tangannya, tangannya hendak memukul Ali namun Pria itu menangkapnya sambil tersenyum manis pada Prilly.

"Udah kebiasaan dia kalo ketemu orang suka cikipa-cikipi. Mungkin itu budaya dia. Jangan cemburu Bunda Prilly?" goda Ali dengan mengerlingkan matanya ke arah Prilly.

"Mantan ya tetep mantan dong kak. Emang harus kayak gitu!!! aku di rumah jagain anak-anak ehh~ kakak malah ketemu sama mantan kakak itu," ujar Prilly sewot.

"Oke. Aku gak bakalan kayak gitu lagi sama Aurora. Udah ya? jangan cemburu sama dia," balas Ali membujuk Prilly agar tidak marag-marah lagi.

"Tapi janji ya?"

"Janji?"

"Iya janji. Janji gak boleh terlalu deket sama mantan kakak yang namanya apaa siii oh yaa Aurora. Inget kakak itu udah punya anak. Inget umur! udah tua juga masih aja jelalatan sama cewek. Dengerin aku ngomong gak sih?" omel Prilly.

Ali memang seperti ini pada Prilly. Selalu manis, dan banyak berbicara tentunya. Karena Ali tak ingin memperlakukan istri istimewanya seperti orang lain. Karena dia terlalu istimewa.

Ali mengambil sesuatu dari saku jasnya, dan menyerahkannya pada Prilly yang hanya memerhatikan.

"Undangan?"

"Undangan acara kantor. Kamu harus datang bersama kakak," kata Ali.

Prilly sebenarnya ragu untuk datang bersama Ali. Terlalu insecure tentunya. Terlebih lagi, ini pertama kalinya Ali mengajaknya untuk datang ke acara seperti ini. Ia hanya wanita biasa mantan pelayan cafe, dan tak ada bandingannya dengan Ali.

"Gimana? mau kan?"

"Aku cuman takut malu-maluin kakak." Ali menatap lekat pada Prilly seraya mencium punggung tangan Prilly. "Kamu istri kakak. Kamu sangat berarti buat hati kakak, seperti fated to love you. Kakak di takdirkan untuk mencintai wanita biasa yang kakak paksa untuk menikah dengan kakak. Wanita biasa yang membuat hati kakak selalu kesepian jika kamu pergi," sela Ali.

"Mana mungkin kamu malu-maluin, Prilly. Kamu, Ibu dari anak-anak kakak. Kakak gak akan biarin kamu sakit hati, kakak akan selalu menjaga kamu," lanjut Ali.

Prilly terharu mendengar perkataan Ali yang sangatlah dalam.

"Panggilan kakak terlalu muda kak. Mending aku panggil kakak dengan Mas, biar Anna dan juga Abel gak bingung. Boleh kan?" tanya Prilly memastikan.

"Boleh."

"Terima kasih udah bikin aku bahagia, Mas. Terima kasih atas semuanya, Mas sayang." Prilly memeluk tubuh Ali dengan sangatlah erat. Ali tersenyum saat Prilly tidak lagi menangis karena kesal padanya. Kini Prilly hanya menangis atas kebahagiaannya sendiri.

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang